Kamis, 10 Januari 2013

Aku di Hatimu


Engkau selalu ada di hatiku,
Namun adakah aku di hatimu?







Aku di Hatimu
.
.

Kalau hati bisa memilih, mungkin aku tidak akan memilih jatuh cinta padanya. Itu adalah kalimat yang sering kali kuucapkan dalam hati jika melihatmu tersenyum manis, sambil menggandeng tangan pria itu. Kata orang cinta itu bodoh, tapi aku sebagai pelakunya lebih dari sekadar kata bodoh. Sudah tahu wanita itu tidak pernah mencintaiku, aku tetap saja menaruh dirinya di puncak hatiku.

Wanita itu adalah Liana. Aku mengenalnya saat menghadiri salah satu seminar yang diadakan oleh kampus tempatku mengajar. Liana adalah salah satu pembicara di seminar itu. Aku terkesan dengan caranya membawakan seminar itu. Dulu sering kali aku berpikir, seorang wanita tidak akan mampu melampaui wawasan seorang pria. Namun melihat cara Liana berbicara dalam seminar itu, aku tahu pikiranku tidak sepenuhnya benar.

Kami bertukar nomor ponsel setelah seminar itu selesai. Mulai dari saat itu, kami sering bertukar pikiran. Semakin lama kekagumanku pada Liana semakin bertambah. Di mataku dia bukan hanya seorang wanita yang memiliki wajah rupawan dan fisik yang molek, tapi juga wawasan dan cara berpikirnya membuatku kagum.

Namun ada satu hal yang membuatku kecewa. Liana telah memiliki seorang suami. Pada awalnya, hubungan kami berjalan dengan normal, sebatas rekanan yang sering bertukar pikiran demi memperluas wawasan. Sampai akhirnya batasan itu terlanggar sedikit demi sedikit. Liana pada awalnya tidak pernah mengeluhkan sedikit pun kehidupan rumah tangganya. Di mataku, pernikahan dan kehidupan rumah tangganya sempurna. Suaminya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Tapi ternyata bahtera rumah tangga mereka yang kupikir baik-baik saja, tidak semulus kelihatannya.

Aku mengetahui itu semua saat kulihat dia menangis di sela-sela diskusi kami. Saat itu dia mencurahkan segala isi hatinya. Suaminya tidak pernah mencintainya. Pernikahan mereka adalah buah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Suaminya memang memberinya nafkah secara lahir maupun batin, tapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Apa lagi, sampai saat ini mereka belum memiliki buah hati dari pernikahan mereka.

Awalnya aku hanya sebatas memberikan penghiburan padanya lewat sebuah pelukan kasih sayang seorang teman. Hubungan kami semakin erat. Ada kalanya sesuatu yang erat itu justru begitu sulit untuk dilepaskan, sama halnya dengan hubungan kami. Jika pada awalnya aku mengatasnamakan persahabatan dari setiap pelukan yang kuberikan, semakin lama pelukan itu beralih menjadi kecupan, bahkan sesuatu yang dulu selalu kuikrarkan dalam hatiku hanya akan kulakan dengan istriku sendiri.

Hubungan kami semakin lama semakin tidak sehat. Kami berhubungan fisik layaknya suami istri. Kadang aku merasa jijik pada diriku sendiri. Tidak pernah terbersit sedikit pun di benakku jika pada akhirnya aku menjalani hubungan terlarang ini. Dinding kamar apartemenku menjadi saksi bisu perbuatan terlarang kami. Kadang dalam satu malam, desahan, peluh, dan ciuman-ciuman liar menjadi satu, membaur dalam pekatnya udara penuh dosa yang tercium.

"Ana," panggilku. Aku memainkan anak rambut di dahinya. Malam ini adalah malam kesekian dari malam penyatuan kami. Peluh di dahinya masih bisa terasa di jemariku.

"Hmmm...," gumamnya.

"Apa kau mencintaiku?"

Aku bisa merasakan tubuhnya yang berbaring di sampingku sedikit menegang. Selalu seperti itu jika aku mulai menanyakan apa arti diriku di hatinya. Kulihat dia memejamkan matanya sejenak, lalu membuka kedua matanya, dan tersenyum ke arahku.

"Tentu saja aku mencintaimu."

Aku menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan. "Kalau begitu, menikahlah denganku."
Lamaran itu bukanlah lamaran pertama yang terucap dari bibirku padanya. Namun Liana selalu menolaknya dengan halus. Sama seperti malam ini. Perlahan dia mulai membebaskan tangannya dari genggamanku.

"Maaf," katanya. "Aku tidak bisa, Dafa." Kedua matanya mulai berkaca-kaca, sampai sebutir air mata lolos mengalir di sepanjang pipi ranumnya. "Aku tidak bisa," katanya lagi. "Maaf, aku tahu aku yang salah. Aku—aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Maaf, mulai saat ini aku tidak akan meneruskan hubungan ini." Perlahan dia bangkit, memungut pakaiannya yang berserakan di bawah tempat tidur, mulai memakainya secara tergesa.

Ingin rasanya aku membiarkannya pergi. Aku pun ingin diakui, jika dia tidak bisa memberikan cintanya padaku, mungkin lebih baik jika semua hubungan ini diakhiri. Aku juga adalah seorang pria yang memiliki harga diri dan rasa bersalah. Namun tetap saja, aku tidak bisa. Sekeras apa pun aku mencoba mengakhiri semua ini, pada akhirnya aku akan menahannya, memeluknya dari belakang, mengecup pucuk kepalanya dengan penuh cinta dan damba. "Maaf, maafkan aku, Ana. Aku tidak akan memaksamu."

Aku sadar aku bodoh, tolol, pria tidak tahu diri, atau apa pun cacian dan makian yang cocok dilontarkan terhadapku. Namun itu semua tidak bisa merubah kenyataan bahwa aku sangat mencintai Liana. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kami. Terlepas dari statusnya sebagai istri orang, Liana adalah wanita yang kuidam-idamkan. Dia adalah sosok wanita yang kuinginkan sebagai pelabuhan terakhirku, wanita yang menemaniku hingga aku tutup usia, wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku terlalu mencintainya dan sudah terjerat terlalu kuat, hingga jika ikatan itu putus, sama artinya dengan mati.

Kadang aku berpikir apa artiku di hatimu, Liana? Apa aku hanyalah sebagai pelarian dari kehidupan rumah tanggamu yang tidak harmonis? Apa aku hanyalah sebuah alat yang bisa kau gunakan sebagai pemuas kebutuhan fisikmu? Tapi mata hatiku sudah tertutup oleh cinta abstrak yang ditawarkannya padaku. Aku tidak peduli apa aku di hatinya. Aku mencintainya, dia bersamaku, itu cukup. Benar jika orang bilang cinta itu buta.

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Aku sedang menonton televisi di apartemenku saat kudengar bunyi bel bersahut-sahutan dengan rintik hujan di luar sana. Aku berlari melintasi ruang tengah apartemenku, menuju pintu masuk. Aku cukup terkejut melihat Liana berdiri di depan apartemenku. Biasanya Liana selalu memberitahuku terlebih dahulu sebelum datang. Rambutnya sedikit basah.

Aku merasa ada yang berbeda dengannya malam ini. Malam ini Liana nampak lebih cantik dari biasanya. Entahlah, aku sulit mendeskripsikannya dengan baik. Yang jelas, wajahnya lebih bersinar dari biasanya.

"Ada apa?"

"Kau tidak senang aku ke sini," katanya, sambil tertawa kecil.

Aku membalas tawanya dengan senyum tipis, tanganku memainkan rambutnya. Aku menyelipkan anak rambutnya di balik telinganya, kegiatan rutinku jika bertemu dengannya. Biasanya, Liana akan tersenyum tulus ketika aku melakukan kegiatan rutin itu, tapi yang kini kudapatkan adalah sebuah senyuman kikuk yang sedikit dipaksakan.

"Aku hamil."

Aku diam. Diriku masih mencoba menangkap dengan jelas maksud dari perkataannya. Tiba-tiba saja bayangan diriku sedang menggendong bayi laki-laki yang sehat menyeruak ke permukaan. Aku tersenyum tipis, menariknya dalam dekapanku.

Liana sedikit terkejut dengan responsku. Aku bisa merasakan dari gerak tubuhnya dalam dekapanku. Awalnya kupikir dia akan senang dengan responsku, ternyata aku salah. Setelah dirinya terbebas dari dekapanku, dia menatapku dengan tatapan lirih.

"Maaf—maafkan aku, Dafa. Kupikir lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini."

"Tapi, tapi kau hamil, Ana," kataku.

"Justru karena aku hamil, Dafa. Aku tidak mungkin meneruskan hubungan kita, sementara kini di rahimku ada buah cinta dariku dan ..."

Aku tahu aku tidak akan pernah ingin mendengar lanjutan perkataannya.

"... suamiku."

Aku tertawa sarkastik. "Tapi bayi itu bisa saja anakku, darah dagingku, Liana."

Dia mulai menangis sesenggukkan. "Ya, kau benar, Dafa. Bayi ini mungkin saja adalah anakmu."

Hatiku miris mendengarnya mengatakan kata anakmu. Kenapa harus anakku atau anakmu? Kenapa kau tidak mengatakan anak kita, Liana? Apa selama ini kemesraan dan kasih sayang yang kita habiskan bersama hanyalah sebuah kebohongan?

"Karena itu, aku mohon, izinkanlah anak ini tetap menjadi anakku ... dan suamiku."

Aku bagai tersambar petir ketika mendengar perkataannya.

"Karena bagaimana pun, aku masih berstatus sebagai istri orang. Kumohon, Dafa. Dengan adanya anak ini, kuharap hubunganku dengan suamiku bisa diperbaiki."

Aku tidak lagi mendengarkan semua perkataan yang diucapkannya. Hatiku mati rasa. Semudah itukah? Semudah itukah perkataan yang begitu menyakitkan hatiku keluar dari bibirnya? Bibir yang selalu menggumamkan kata mencintaiku di sela-sela percintaan kami, kini begitu tega menyakitiku segini dalam. Semudah itukah, Ana?
.
.
Sudah dua hari sejak Liana mengatakan bahwa lebih baik kami mengakhiri hubungan kami berlalu. Semenjak itu pula dia tidak pernah menghubungiku. Begitupun sebaliknya, aku tidak ingin menghubunginya.

Aku mulai berpikir. Seharusnya aku sadar, selama ini Liana tidak pernah mencintaiku. Cintanya hanya untuk suaminya. Dia lari ke pelukanku hanya didorong rasa keputusasaannya terhadap behtera rumah tangganya yang hampa. Selama ini aku hanyalah pelariannya, orang yang menampung keluh kesahnya, memuaskan fisik dan batinnya yang tak pernah dihangatkan oleh suaminya. Cintaku hanya borok besar yang selalu berusaha ditutupinya. Berbeda dengan cintanya pada suaminya yang selalu dicurahkannya dengan tulus.

Maka dari itu, mulai malam ini aku akan melepaskannya. Biar saja dia bahagia dengan pilihannya. Maka aku akan bahagia dengan pilihanku. Jika dia bisa bahagia dengan suaminya, maka aku pun harus bisa bahagia dengan hidupku sendiri. Aku sudah memberikan pilihan padanya. Dan dia memilih untuk pergi meninggalkanku. Maka kini aku pun akan pergi dari kehidupannya. Aku sekarang merasa semakin jijik pada diriku sendiri. Aku harus melakukan perubahan. Itu dimulai dari keputusanku untuk meninggalkan kota ini.

Aku mulai berkemas. Semua barang-barang yang kukemas sudah siap untuk kubawa. Aku sudah memutuskan untuk pergi malam ini juga. Hujan di luar sana menambah efek dramatis pada keputusanku untuk meninggalkan kota ini. Suara bel di pintu apartemenku membuaku mengalihkan pandanganku dari barang-barang yang sudah kukemas. Rasanya seperti deja vu. Aku melihat Liana berdiri di depan pintu apartemenku dengan pakaian hampir basah kuyup.

"Ada apa?"

Aku berusaha menahan diriku sendiri untuk tidak menyelipkan anak rambutnya yang basah ke balik daun telinganya. Aku pun berusaha mati-matian tidak menarik tubuhnya yang gemetar karena kedinginan dalam dekapanku.

"Apa—apa kau masih mencintaiku?"

Aku tertawa dingin. Setelah sekian lama aku yang selalu melontarkan pertanyaan itu, kini dirinyalah yang menanyakan hal itu padaku. Aku tidak bisa mengelak, dalam hati kecilku tumbuh asa bahwa akhirnya penantianku selama ini terbalas. Mungkin jika dia datang sebelum malam ini, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka. Aku akan memeluknya, menciumnya, dan mencumbunya dengan mesra sambil membisikkan kata aku mencintaimu.

"Bukankah tidak penting jika aku mencintaimu, karena suamimulah yang kau cintai."

Liana menangis. "Suamiku mengusirku dari rumah. Ternyata, dia ... dia mandul. Dia mengusirku setelah tahu bahwa aku sedang hamil. Aku ... aku ..."

"Kembalilah pada suamimu, katakanlah kau mencintainya. Mungkin dia akan memaafkan dan menerimamu kembali."

Aku tidak percaya aku bisa berkata sekasar itu padanya.

"Dafa...."

Aku melangkah pergi meninggalkannya. Seiring dengan hujan yang turun semakin deras, aku pergi meninggalkannya. Jika saja dia menyadari keberadaanku selama ini, jika saja dia tidak menyakiti hatiku terlalu dalam, mungkin aku akan kembali padanya. Dulu aku selalu bertanya apa arti aku di hatimu? Sekarang aku tahu, kau selalu ada di hatiku, tapi aku tidak pernah ada di hatimu.
.
.
Selesai

Senin, 19 November 2012

Kisah Nano-Nano Novie di hari Minggu :P

Baru sadar blog gue nggak keurus. Huhuu~~ Berpisah sekian lama. Halah~ Gue bahkan lupa kalau gue pernah punya blog, kalau nggak diingetin sama Novi. :p

Bisa dilihat, blog gue jadul banget. Era euy~ HAHAHAHA~~~

Ini foto diambil pas hari Minggu yang mendung, awan berarakan ga tahan buat ngucurin air hujan ke atas kepala gue. XD

Jadi gini, pas hari Minggu, 18 Nov 2012, gue kondangan bareng-bareng sama teman-teman gue. Pas awal ketemu janjian di McD aja, Novi udah nggak hoki. hiihii~ dipelototin pak polisi. :p Pas di rumah Victor, salah satu temen gue yang ikut kondangan, dia juga kepeleset. Salahin jalanan licin+heels tinggi-nya Novi. :p Belum cukup sampai disitu, Ahau nambahin penderitaan Novi hari ini. xD 

Terus pulangnya, gue sama Novi ke PizzaHut, buat ngumpul-ngumpul bareng teman deket pas sekolah dulu. Ada Ka Dhidit, Tika, harusnya ada Ria, tapi dia lagi berhalangan. Miss U, Ri. Belum cukup keapesan Novi hari ini, Si Item, motor kesayangannya, mogok. Hihihi~~ Sabar ya, Say. :P

But overall, happy birthday, Novi. Love u always~~ :*

Ps: Neng Novie teh anu geulis. nu make baju beureum. :D

Rabu, 03 November 2010

Genk Gonk G Ada Nama...XD


Tulisan yang gw buat pas bete sama makhluk ga jelas... Males bahasnya, makanya gw nulis aja dah...XD Cerita tentang 7 orang cewek dan 2 orang cowok nyempil di pinggir yang seringa ngabisin waktu bareng-bareng.XD Entah makan bareng, minum bareng, ampe kadang ke wc juga barengan. wkwkwk....

9 orang mahasiswa 'coret'nista'coret' yang paling males kalo disuruh belajar tapi paling getol kalo dosen ngasih kisi-kisi ujian... Ngga tau gimana awalnya ampe kita be'9 jadi deket kayang perangko kaya sekarang ini. Hehehe...

Bdw, nggak enak nih kalo gw nggak ngenalin satu persatu temen-temen nista gw. #plakk....XD

Yang pertama si
Novi, dia orangnya baeeee banget, paling enak kalo diajak ngeliatin cowok bening. wkwkwk... becanda dik. Dia demen banget ribut ama si victor... Ampe disumpahin jadian ma tu anak. wkwkwk... ga jadi lah, ntar gw dicekek Mrs. EE lagi.:p

Terus ada Donna, cewek imut nan seksih kaya DP ni sangat sangat kiyut... Wkwkwk... Dia mungkin yang punya ketawa paling aneh di antara kita semua. Yang jelas kita semua bakal keselek makan kalo ngedenger dia ketawa. Hehehe..:p

Ada lagi si
Silvie, ow ow ow... Ini dia Ms. Lawyer. Kenapa gw bilang gitu? Soalnya dia paling bijak, dewasa n pinter ngomong+debat diantara kita. HEHEHE...

Si neng
Ing Ing yang mukanya oriental banget, yang sering dimirip-miripin sama Song Hye Kyo. #halah... Hehehe... Sangat baik, lembut, lucu, feminim banget deh.:P

Dan Ms. Judes jatoh pada
Irent. Wkwkwk,...XD Dia itu cewek paling tegas n jujur di antara kita, dan paling demen kalo dia udh mulai cengin si Victor. Loph u, Rent...:P

Ada lagi si Bawel Rini. Ni anak mukanya nipu banget. Pertama kali kenal, buset deh.... Manis, imut, pemalu, kalem... Pas kesini-sininya.... Brutalnya baru keliatan. Wkekek...:p becanda dik, you're so kind, Say..XD

Dan dua orang cowok yang gw sama anak-anak curigain bukan cowok tulen. #plakkk...XD
adalah Victor n Ahau.:p Jeng jreng~~~:p

Victor
... Dia dilahirkan untuk dicengin anak se-genk. wkwkwk...XD Mr. Ee ini emang paling baik hati di antara kita semua.:p Biar kita cengin abis-abisan, ngga pernah marah. Hihihihi... Paling getol belajar kelompok kalo mau uts n uas.wkwkwk....

Dan Bang
Ahau adalah makhluk terpinter di antara kumpulan makhluk ngga jelas kaya kita-kita. Ciee... Lu, gw puji tuh, ngkong. wkwwk... Sering jadi dosen dadakan kalo mau uts buat ngajarin kita-kita.:p

Dan
gw??? Cuma cewek imut dan baik hati yang disayang teman-teman. wkwkwk.... #dicekek, dilempar, dibungkus, ditendang ke Edensor.:p Hahaha... Gw cuma cewek biasa yang katanya nih, punya tampang alim dengan kelakuan bejat. Wkwkwkwk....:))

Dah ah, gw ngntuk. Byeee~~~

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ingatkan Aku Jika Fajar Tiba

Sebuah cerita singkat yang pernah saya terbitkan di FFN.NET

dengan chara yang berbeda..:D

Warning: Incest, Implisit lime...

.

.

Malam-malam di Lembang masih sama seperti dulu. Masih dengan gemerlap bintang di langitnya, taburan benda-benda langit indah di dalamnya, masih sama memesonanya sejak sosok kecilnya mampu melihat keindahan langit di Lembang. Dulu saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di sini, kediaman keluarga Sucipta. Jemari kecilnya menggapai ujung tirai di jendela kamarnya. Menutup tirai itu dan menutup pandangannya dari langit malam di luar sana. Ia sedikit berjengit saat menyadari tangan kokoh melingkari pinggangnya, memeluknya lembut. Suara baritone si pemilik tangan terdengar lembut di telinganya, membuatnya memejamkan matanya, meresapi setiap untaian kata yang terucap dari bibir pria itu.

"Ada apa Sil?" Tanyanya.

Gadis itu, Sila Sucipta, membuka kedua matanya secara perlahan, kedua mata hitamnya menatap nanar pada tirai di hadapannya, ia menghela nafas pelan. Dibaliknya tubuhnya menghadap pria itu, pria yang selama ini menjadi pria yang paling dicintainya. "Tak ada. Tak ada apa-apa, Kak."

Kakak?

Satu kata itu menggelitik batinnya. Pantaskah ia mengucapkan sebutan itu pada pria yang kini ada di hadapannya?

Ia tatap dalam-dalam kedua mata keabuan milik pria itu. Begitu memesonanya, memabukannya, membelenggunya pada sekat kasat mata yang diciptakan mata itu. Memaksanya untuk masuk lebih dalam menyelami segala yang ada dalam mata itu. Mata hitam milik Silameneliti setiap inci wajah yang terstruktur sempurna d hadapannya. Goresan tangan Tuhan dalam wajah pria itu begitu memukau, seolah Tuhan tahu, kesempurnaan wajah pria ini memang telah digariskan-Nya. Ia sesap dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh pria yang kini mendekapnya. Erat… Seolah tak ingin melepaskannya.

"Aku mencintaimu, Sila…"

Cukup dengan kalimat itu, ia kembali membuat Sila melupakan semuanya. Melupakan statusnya, posisinya, bahkan melupakan realita yang terpampang jelas di hadapannya. Tamparan garis takdir antara dia dan prianya. Dia salah? Dia tahu… Dia benar? Dia tahu… Ia benar memilih pria yang dicintainya, hanya saja ia salah menjatuhkan cintanya… Namun, ia tahu… Ia… mencintai pria itu.

"Aku pun mencintaimu, Kak."

Lagi… Kembali mengukir mimpi di atas kasur putih sehalus beledu. Meneguk nikmat bercinta dengan pria yang dicintainya. Saling membagi sentuhan, pagutan, dan kenikmatan. Erangan kenikmatan kembali menjadi melodi indah sepanjang malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada rasa sakit di selanya, hanya penyesalan menyesakkan dada yang menyatu dengan pekatnya dosa di sekeliling. Menyatu dengan udara, seolah tercipta dari udara dalam ruangan ini, saksi cinta antara dua anak manusia yang salah memilih cintanya.

.

.

"Aku mencintaimu…"

Saat aku mendengar kalimat itu, aku terdiam di tempat. Kaki dan tubuhku lemas, tak sanggup menahan rasa yang sekian lama terkubur di dalam hatiku. Kenapa? Kenapa harus kami, Tuhan? Kenapa pria yang ku cintai dan mencintaiku harus ia? Kenapa harus aku dan kakakku?

"Kakak…" Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku utarakan. Aku mencintainya dalam diam, menatap keindahannya dalam kesunyian, mengubur rasa padanya dalam isak. Namun apa yang harus ku lakukan saat ia pun memiliki rasa yang sama denganku. Membangkitkan lagi atau mematikan secara tegas rasa ini?

"Aku tahu, ini salah… Hanya saja, aku—"

Ku potong ucapannya dengan pelukanku. Ku sandarkan kepalaku di dada bidangnya, menyesap aroma khas tubuhnya yang memabukkanku. Aku bisa merasakan jemarinya menyentuh halus helai-helai rambutku. Aku ingin seperti ini… Terus seperti ini…

"Tatap aku,Sil," pintanya.

Aku tengadahkan kepalaku menatapnya, kedua bola mata kami bersirobok, hitam dan abu-abu. Dua warna yang tak kontras, hanya pengabur rasa bersalah, menyembunyikan rasa bersalah yang terasa menyesakkan dada, mencari perlindungan pembenaran atas perasaan yang salah. Bersembunyi dan bicara seolah ini benar, lihat mataku!

"Aku pun mencintaimu, Kakak."

Ini salah… Aku tahu… Yang tak ku ketahui, kenapa harus kakakku yang ku cintai?

.

.

"Mau kemana?" Ku tatap kedua bola mata keabuan milik Kaka Abi, mencari jawaban dari kedua mata itu.

"Irma akan berobat sore ini, aku harus menemaninya."

"Oh…" Aku terdiam.

Irma… Ah, bukan lagi. Kini namanya, Irma Sucipta. Nama wanita yang selalu menghantui rasa bersalahku. Kenapa harus Irma, wanita yang ku kagumi dan ku benci secara bersamaan? Ia sahabatku, kenapa harus dia yang dipilih kakak?! Kenapa harus dia yang menikah dengan kakak!? Apa yang membuatku membencinya? Dia adalah sahabat terbaikku. Lalu kenapa aku membencinya? Apa karena kebaikkan dan kepolosannya yang membuatku benci padanya? Lalu kenapa ia begitu tega terhadapku? Merebut kakak ku? Ia yang tega, atau aku yang lebih tega? Retoris itu menggelitik nuraniku.

"Sampaikan salamku pada Kak Irma."

"Hn. Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi." Ia berikan kecupan lembutnya di bibirku. Aku tersenyum, membalas singkat kecupannya. "Aku mencintaimu, Sil."

"Aku tahu…"

.

.

Suara desahan cinta mereka menyatu dengan symphony malam yang pekat. Tak peduli dinding-dinding kamar itu berjerit, menolak menyaksikan dosa yang terhampar jelas di hadapan mereka, kedua insan itu tetap melanjutkan penyatuan mereka, menulikan telinga, membutakan mata dan hati dari segala kesalahan yang terjadi dalam diri mereka.

Cinta…

Hanya kata itu yang mereka percaya. Hanya cinta… Tak ada kata lain yang dapat digunakan sebagai pembenaran dari apa yang telah mereka lakukan selama ini. Kata itu menguar begitu saja, tanpa direncanakan, hanya satu kata untuk segala pembelaan…

Desahan panjang Sila saat mencapai puncaknya membelah kesunyian malam, membuat bisikan mesra terdendang di telinganya, "Aku mencintaimu, Sila."

"Aku pun… Kak."

Dan malam ini, sama seperti malam sebelumnya, hanya ada mereka dan cinta. Hanya malam penuh mimpi dan dosa. Cinderella punya batas tengah malam untuk mengakhiri mimpinya, Putri Salju memiliki kecupan Sang Pangeran untuk membangunkan tidurnya dari mimpi buruknya. Namun Sila tahu… Batasan mimpi indah dan buruknya adalah saat fajar tiba.

Saat Sang Surya mulai membelah langit, membaginya dengan sinar kemerahan di ufuk timur, Sila tahu mimpinya telah berakhir. Saat fajar tiba, adalah awal yang baik bagi setiap insan di dunia. Hanya baginya, jika saat fajar tiba, mimpi ini harus diakhiri. Ia akan kembali menjadi Sila Sucipta, adik dari Abianto Sucipta. Bukan menjadi wanita yang dicintainya, melainkan adik yang disayanginya. Jika fajar tiba, ia akan kembali menjadi adik manis yang patuh pada kakaknya.

Yang ia tahu, ingatkan ia jika fajar tiba. Ingatkan ia untuk mengubur mimpinya sampai sang surya kembali pulang ke peraduannya.

.

.

TAMAT

Kupu-Kupu Tak Berkepak II

Aku risih dengan pandangan orang-orang di sekeliling kami. Ok! Aku memang biasa dipandangi dengan tatapan kagum. Biasanya para manusia itu akan bergumamam, lihat! Cantik sekali gadis itu! Tapi yang aku benci, kali ini tatapan kagum itu bukan ke arahku, melainkan pada sosok tampan—sebenarnya aku malas mengakuinya—yang berada di sampingku. Bahkan beberapa wanita yang kami lewati terkikik-kikik kecil saat kami-tepatnya pria di sebelahku-melewati tempat mereka berada. Ya... Aku akui pria berambut perak di sebelahku ini memang tampan. Garis rahangnya tegas, hidung mancungnya, bibirnya... Yang hahaha... Ok! Bibirnya memang penuh dengan sensualitas. Bahkan kedua bola matanya yang berlainan pun menambah pesona pria berambut perak ini. Aku mengekor pria yang ku ketahui bernama Sei yang kini sudah memilih dan duduk di meja paling ujung restoran ini, yang sedikit tertutup tirai bambu di sekelilingnya, membuat suasananya agak intim.

"Selamat malam Tuan Sei," sapa seorang maid berambut merah yang menghampiri meja kami. Entah hanya perasaanku atau memang benar bahwa pria ini memandang maid itu denga tatapan err... ketertarikan.

"Pesanan biasa, Sora."

"Baik, untuk Nona?"

Aku hanya mendengus malas, "just orange juice."

Aku bisa merasakan Sei yang duduk di hadapanku memandang heran ke arahku. Bahkan maid berambut merah itu pun mngekor pandangannya ke arahku.

"Ada yang salah?" Tanyaku sedatar mungkin.

"Aa... Tidak ada. Pesanan akan segera saya antarkan." Maid itu berlalu ke arah yang ku tebak di balik conter.

"Kau memang masih anak kecil," dengus Sei sambil tersenyum tipis.

Aku tahu, aku memang masih berusia sembilan belas tahun, dan Sei tampaknya berumur hampir tiga puluh tahun, walau tak ku tolak pesonanya mampu mengikat ribuan wanita dengan rentang usia yang cukup ekstrim.

"Kita buktikan nanti, siapa yang anak kecil saat di atas ranjang." Balasku menyeringai. Sei tersenyum meremehkan ke arahku.

"Siapa bilang aku akan beradu di atas ranjang denganmu?"

Aku menyeringai lebar, muak dengan sikapnya. "Lalu untuk apa kau menyewaku dengan harga tinggi, Tuan Sei, eh?" Ku tekankan intonasiku saat menucap namanya, "-ironis jika hanya untuk menemanimu makan malam."

Ia tak membalas ucapanku, malah mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari balik jasnya. "Menikahlah, denganku." Pintanya sambil membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin bermata emerald ke arahku.

Sumpah demi segala uang yang ku dapat dari pekerjaan haram ini, INI GILA! Kedua bola mataku membulat secara sempurna! Lelucon macam apa yang dipertunjukan pria ini!

"Kau belum menjawabku, Sakura."

Aku memandang lekat kedua matanya. Mencoba mencari celah kebohongan yang tersirat atas ucapannya. Nihil... Kedua matanya malah semakin menegaskan bahwa yang baru saja ia ucapkan adalah kejujuran.

"Apa yang menyebabkan aku harus menerima tawaranmu?"

"Tawaran?" ia menaikkan alis kanannya, "Ini lamaran, Saku. Bukan tawaran." katanya sambil terkekeh kecil.

"Ya apalah namanya, yang jelas kau benar-benar gila, Tuan Sei. Aku-"

"Akan lebih gila lagi jika aku tak menikahimu setelah banyak orang melihat kedatangan kita di hotel ini malam ini. Ku jamin, ribuan koran lokal dan ibukota akan menjadikan ini sebuah headline di halaman depan mereka."

Aku mendengus, "Memangnya siapa kau? Percaya diri sekali-"

"Shimura Seinji."

Aku kembali tercengang atas penuturan pria ini. Sial! Kenapa dari tadi aku tak sadar dengan nama Hatake yang disandangnya. Shimura Seinji. Pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang tak kan habis sampai sepuluh turunan.

"Aku tahu kau akan menerimaku. Dengan ini, kau tak perlu lagi menerima panggilan pria-pria hidung belang, dan yang lebih penting... Nyonya Kiyoshi bisa mendapatkan perawatan terbaik. Aku berjanji."

"Apa saja yang kau ketahui tentangku?!"

"Sakura Kiyoshi, aku tidak akan memilih secara sembarangan wanita yang akan ku nikahi." Katanya dengan datar. "Aku tahu segala hal yang akan membuatmu menerima lamaranku."

"Kau benar-benar setan, Tuan Sei! Aku-"

"Dan setan hanya akan memilih setan yang lain untuk bekerja sama dengannya."

Aku tersenyum tipis. Pria ini memang setan! Dan aku tahu, kadang aku menyukai setan seperti dia. Mulutnya, wajahnya, tatapannya, adalah racun. Aku berpikir sejenak. Jika aku menikah dengannya, aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan haram ini. Perawatan ibu pun akan lebih terjamin. Tak mungkin seorang Shimura akan menelantarkan mertuanya, apa yang akan diberitakan seluruh Konoha jika itu terjadi. Tapi...

"Apa jaminannya jika kau tak membawa teman-teman setanmu untuk menjamahku?"

"Ku jamin, tak akan ada satu pun pria yang akan mengotorimu."

"Buktinya?"

"Seluruh surat perjanjian telah ku siapkan di kamar. Kau bisa membacanya sebelum menandatangani perjanjian itu. Tapi ingat... Ini bukan pernikahan kontrak. Kau..." ia merendahkan suaranya dan mencondongan wajahnya tepat ke telingaku, "adalah istri seumur hidupku. Ku larang kau untuk jatuh cinta pada pria lain!" Ia kembali pada posisi semulanya dan tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.

Jatuh cinta pada pria lain? Hati sudah mati untuk merasakan hal-hal semacam itu. Menjadi pemuas nafsu puluhan pria membuatku jijik pada makhluk Tuhan itu.

"Kau begitu menggoda, Tuan Sei. Dan... Apa jaminannya aku tak akan mendapatkan perlakuan yang lebih buas darimu?"

Ia tertawa, "Hahaha... Kau pikir apa yang membuatku melewatkan wanita semolek dirimu, Sakura?"

Aku hanya mengernyitkan alisku mendengar penuturannya.

"Aku tak suka jenismu, Saku. Aku lebih suka manusia berdada rata." Ia menyeringai. Dan aku? Aku kembali tercengang dibuatnya.

SHIMURA SEINJI SEORANG GAY?

Malam ini benar-benar penuh kejutan bagiku.

"Kalau begitu, kedua setan akan menandatangi kerjasama malam ini." Kataku sambil tertawa...

Aku benci pria, dia benci wanita dalam konteks yang berbeda. Dan aku... Menyukai pria macam dia...

.

.

Dan kini, di sinilah aku... Terkurung dengan gaun pengantin putih dengan pria bermbut perak yang memakai tuxedo di sampingku. Menjadi mempelai wanita dari seorang Kakashi Hatake. Aku terjebak dalam sebuah ritual sakral yang diingini setiap wanita sekali dalam seumur hidupnya dengan pria yang baru ku kenal seminggu yang lalu. Aku bisa merasakan kebahagiaan ibu saat aku memberi kabar bahwa Shimura Seinji melamarku. Ibuku terkejut, dan itu ku anggap reaksi yang sangat wajar. Akan tidak wajar jika ibu malah tenang dan tak terkejut sedikit pun atas berita yang ku bawa.

Aku memandang bosan sekelilingku. Ratusan undangan yang hadir dan mengucapkan selamat hanya manusia-manusia bermuka dua. Berusaha bersikap manis di hadapan Sei.Dan ajaib! Mereka tersenyum saat mengucapkan selamat padaku, walau aku tahu senyum mereka tak mencapai mata mereka. Hanya sebuah kepuraan di tengah kebohongan. Aku melirik Kakashi di sebelahku. Ia tampak bahagia. Tch! Ia benar-benar pintar! Aktor tampan kita ini memang sangat pandai membuat orang terkesan akan wajah, sikap, dan pembawaannya. Ia bersikap seolah pernikahan ini adalah sesuatu yang suci yang sejak lama ia inginkan. Berpura seolah aku adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Miris... Padahal pernikahan ini hanyalah tameng atas kelainan yang ia miliki.

Aku melirik ibu yang berada di sebelah Sei. Ibu? Ada apa? Kenapa wajahnya terlihat sedih? Aku berbisik di telinga Sei. "Sei, aku ingin di samping ibu," pintaku padanya.

Ia melirikku sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan bergeser, memberiku ruang untuk berada di sebelah ibu. Aku mengutuk gaun pengantin yang ku kenakan! Panjangnya gaun ini membuatku sulit bergerak walau hanya bergeser beberapa centimeter ke arah ibuku. Tak ku duga saat Sei tersenyum dan berjongkok mengambil ujung gaun pengantinku, membantuku berpindah posisi dengannya. Aku mengernyit heran ke arahnya. Ia malah tersenyum dan berbisik mesra di telingaku saat aku telah berada di sebelah ibu. Hanya sebuah bisikan kecil yang hanya sanggup didengar olehku.

"Ku rasa aktor papan atas pun akan kalah olehku aktingku." Ia tersenyum.

Ku balas senyumnya, berbisik mesra di telinganya. "Setan sekalipun akan tunduk padamu, Sei."

Ia kembali tersenyum. Malang... Orang-orang di sekeliling kami pasti akan menyangka betapa romantisnya kami. Saling berbisik mesra di tengah resepsi pernikahan kami. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik bisikan-bisikan mesra kami.

Aku melirik ibu yang kini berada tepat di sebelahku. Air mukanya masih menunjukkan kesedihan. Ada apa? Seingatku, ibu begitu bahagia saat aku membawa kabar bahwa aku akan menikah dengan Kakashi. Ku tundukkan wajahku, berbisik di telinga ibu yang duduk di atas kursi rodanya. "Ada apa, Bu? Ibu sakit?"

Ibu tersenyum ke arahku, ku tatap wajah teduhnya dalam-dalam saat ibu mengucapkan sesuatu yang menohok hatiku. "Berbaktilah, Nak. Berbaktilah pada suamimu."

Perkataan itu mungkin hanya perkataan sederhana bagi orang lain. Tapi tidak untukku. Pesan ibuku adalah sesuatu yang wajib ku jaga. Tapi... Berbakti pada suamiku? Kakashi? Aku merasa menjadi anak paling durhaka sedunia saat menganggukkan kepalaku dan tersenyum menjawab petuah ibuku. "Baik, Bu."

Maafkan aku, Ibu...

Kupu-Kupu Tak Berkepak

Aku tak pernah peduli dengan siapa-siapa yang pernah menyewa jasaku. tak peduli pada nama, status, kedudukan, atau apalah namanya yang bisa membuat wanita jatuh hati pada seorang pria. Aku telah mengingatkan dirkiku sendiri untuk melupakan hal-hal semacam itu. Tidak akan ada yang namanya jatuh hati bahkan jatuh cinta di tengah perkerjaan nista ini.Asal ada uang mengalir masuk ke rekeningku, itu cukup. Untukku dan biaya rumah sakit ibuku. Termasuk kali ini, saat aku menatap pria berambut perak di hadapanku.

Demi Engkau yang telah menciptakan segala kesempurnaan dan kesakitan di dunia, aku tak peduli pada pria itu. Pada kedua matanya yang berlainan warna, yang satu sehitam batu obsidian dengan satunya lagi merah gelap bagai burgundy, yang menatap lekat diriku, seolah menembus tulang sum-sumku dengan tatapannya. Ia menatap dari ujung rambut hingga ujung kakiku yang menjuntai di bagian bawah kasur yang kami duduki, membuatku risih. Ok, selama ini tatapan pria-pria setan itu begitu lapar dan bernafsu saat menatapku. Tapi ini lain. I don't know... The other devil's side maybe...

"Namamu?" Tanyanya.

Aku benci, sangat benci jika ada yang menanyakan itu padaku. Shit! Mereka tak butuh namaku! Aku tahu, mereka hanya butuh tubuhku! Namun demikian, aku tetap menjawab pertanyaan pria itu.

"Cherry, panggil saja aku seperti itu."

Dia tersenyum. Tampan memang... Tapi demi Tuhan, itu senyuman setan! Entah berapa banyak wanita yang tertipu senyum itu.

"Sakura."

"Eh?"

"Aku lebih suka memanggilmu Sakura."

Tch! Pria ini memang iblis. Ia bahkan tahu nama asliku. Aku tersenyum -menyeringai lebih tepatnya. Aku menggelengan kepalaku. "Kau hebat!" pujiku dalam lisan.

Hatiku? Tch! Aku selalu menganggap pria yang menyewaku setan! Walau bisa menjadi malaikat bagiku di saat yang bersamaan.

Dia melirik wajahku dan tesenyum kecil. "Kau masih kecil."

Kecil? Pria ini memang lain. Dia menghinaku dengan caranya sendiri.

"Lalu apakah ini adalah cara Anda menghindar dari kekalahan di sana nanti." sindirku sambil melirik kasur empuk yang kami duduki.

Ia memperlebar senyumannya. "Pakai ini!" ia menyodorkan sebuah jacket berwarna hijau lumut padaku -yang diambilnya dari atas kasur di sebelahnya.

"Untuk?"

"Kita makan dulu, malam masih panjang." Ia melenggang pergi ke luar kamar. Aku masih mematung sebelum ia menyadarkanku. "Kenapa diam?"

"Apa yang menyebabkanku harus ikut?" Tantangku sambil tersenyum menggoda. Demi Tuhan, aku benci menggoda lelaki, hanya saja aku segera menyudahi acara nista malam ini.

"Tugasmu menemaniku malam ini. Entah di kasur atau dimana pun," ucapnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya. Pria ini benar-benar setan. Ia tahu bagaimana menggunakan mulutnya dengan baik.

"Baiklah." Aku pun beranjak dari kasur yang ku duduki, mengikutinya menuju restoran di lantai bawah hotel ini.