Aku risih dengan pandangan orang-orang di sekeliling kami. Ok! Aku memang biasa dipandangi dengan tatapan kagum. Biasanya para manusia itu akan bergumamam, lihat! Cantik sekali gadis itu! Tapi yang aku benci, kali ini tatapan kagum itu bukan ke arahku, melainkan pada sosok tampan—sebenarnya aku malas mengakuinya—yang berada di sampingku. Bahkan beberapa wanita yang kami lewati terkikik-kikik kecil saat kami-tepatnya pria di sebelahku-melewati tempat mereka berada. Ya... Aku akui pria berambut perak di sebelahku ini memang tampan. Garis rahangnya tegas, hidung mancungnya, bibirnya... Yang hahaha... Ok! Bibirnya memang penuh dengan sensualitas. Bahkan kedua bola matanya yang berlainan pun menambah pesona pria berambut perak ini. Aku mengekor pria yang ku ketahui bernama Sei yang kini sudah memilih dan duduk di meja paling ujung restoran ini, yang sedikit tertutup tirai bambu di sekelilingnya, membuat suasananya agak intim.
"Selamat malam Tuan Sei," sapa seorang maid berambut merah yang menghampiri meja kami. Entah hanya perasaanku atau memang benar bahwa pria ini memandang maid itu denga tatapan err... ketertarikan.
"Pesanan biasa, Sora."
"Baik, untuk Nona?"
Aku hanya mendengus malas, "just orange juice."
Aku bisa merasakan Sei yang duduk di hadapanku memandang heran ke arahku. Bahkan maid berambut merah itu pun mngekor pandangannya ke arahku.
"Ada yang salah?" Tanyaku sedatar mungkin.
"Aa... Tidak ada. Pesanan akan segera saya antarkan." Maid itu berlalu ke arah yang ku tebak di balik conter.
"Kau memang masih anak kecil," dengus Sei sambil tersenyum tipis.
Aku tahu, aku memang masih berusia sembilan belas tahun, dan Sei tampaknya berumur hampir tiga puluh tahun, walau tak ku tolak pesonanya mampu mengikat ribuan wanita dengan rentang usia yang cukup ekstrim.
"Kita buktikan nanti, siapa yang anak kecil saat di atas ranjang." Balasku menyeringai. Sei tersenyum meremehkan ke arahku.
"Siapa bilang aku akan beradu di atas ranjang denganmu?"
Aku menyeringai lebar, muak dengan sikapnya. "Lalu untuk apa kau menyewaku dengan harga tinggi, Tuan Sei, eh?" Ku tekankan intonasiku saat menucap namanya, "-ironis jika hanya untuk menemanimu makan malam."
Ia tak membalas ucapanku, malah mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari balik jasnya. "Menikahlah, denganku." Pintanya sambil membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin bermata emerald ke arahku.
Sumpah demi segala uang yang ku dapat dari pekerjaan haram ini, INI GILA! Kedua bola mataku membulat secara sempurna! Lelucon macam apa yang dipertunjukan pria ini!
"Kau belum menjawabku, Sakura."
Aku memandang lekat kedua matanya. Mencoba mencari celah kebohongan yang tersirat atas ucapannya. Nihil... Kedua matanya malah semakin menegaskan bahwa yang baru saja ia ucapkan adalah kejujuran.
"Apa yang menyebabkan aku harus menerima tawaranmu?"
"Tawaran?" ia menaikkan alis kanannya, "Ini lamaran, Saku. Bukan tawaran." katanya sambil terkekeh kecil.
"Ya apalah namanya, yang jelas kau benar-benar gila, Tuan Sei. Aku-"
"Akan lebih gila lagi jika aku tak menikahimu setelah banyak orang melihat kedatangan kita di hotel ini malam ini. Ku jamin, ribuan koran lokal dan ibukota akan menjadikan ini sebuah headline di halaman depan mereka."
Aku mendengus, "Memangnya siapa kau? Percaya diri sekali-"
"Shimura Seinji."
Aku kembali tercengang atas penuturan pria ini. Sial! Kenapa dari tadi aku tak sadar dengan nama Hatake yang disandangnya. Shimura Seinji. Pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang tak kan habis sampai sepuluh turunan.
"Aku tahu kau akan menerimaku. Dengan ini, kau tak perlu lagi menerima panggilan pria-pria hidung belang, dan yang lebih penting... Nyonya Kiyoshi bisa mendapatkan perawatan terbaik. Aku berjanji."
"Apa saja yang kau ketahui tentangku?!"
"Sakura Kiyoshi, aku tidak akan memilih secara sembarangan wanita yang akan ku nikahi." Katanya dengan datar. "Aku tahu segala hal yang akan membuatmu menerima lamaranku."
"Kau benar-benar setan, Tuan Sei! Aku-"
"Dan setan hanya akan memilih setan yang lain untuk bekerja sama dengannya."
Aku tersenyum tipis. Pria ini memang setan! Dan aku tahu, kadang aku menyukai setan seperti dia. Mulutnya, wajahnya, tatapannya, adalah racun. Aku berpikir sejenak. Jika aku menikah dengannya, aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan haram ini. Perawatan ibu pun akan lebih terjamin. Tak mungkin seorang Shimura akan menelantarkan mertuanya, apa yang akan diberitakan seluruh Konoha jika itu terjadi. Tapi...
"Apa jaminannya jika kau tak membawa teman-teman setanmu untuk menjamahku?"
"Ku jamin, tak akan ada satu pun pria yang akan mengotorimu."
"Buktinya?"
"Seluruh surat perjanjian telah ku siapkan di kamar. Kau bisa membacanya sebelum menandatangani perjanjian itu. Tapi ingat... Ini bukan pernikahan kontrak. Kau..." ia merendahkan suaranya dan mencondongan wajahnya tepat ke telingaku, "adalah istri seumur hidupku. Ku larang kau untuk jatuh cinta pada pria lain!" Ia kembali pada posisi semulanya dan tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.
Jatuh cinta pada pria lain? Hati sudah mati untuk merasakan hal-hal semacam itu. Menjadi pemuas nafsu puluhan pria membuatku jijik pada makhluk Tuhan itu.
"Kau begitu menggoda, Tuan Sei. Dan... Apa jaminannya aku tak akan mendapatkan perlakuan yang lebih buas darimu?"
Ia tertawa, "Hahaha... Kau pikir apa yang membuatku melewatkan wanita semolek dirimu, Sakura?"
Aku hanya mengernyitkan alisku mendengar penuturannya.
"Aku tak suka jenismu, Saku. Aku lebih suka manusia berdada rata." Ia menyeringai. Dan aku? Aku kembali tercengang dibuatnya.
SHIMURA SEINJI SEORANG GAY?
Malam ini benar-benar penuh kejutan bagiku.
"Kalau begitu, kedua setan akan menandatangi kerjasama malam ini." Kataku sambil tertawa...
Aku benci pria, dia benci wanita dalam konteks yang berbeda. Dan aku... Menyukai pria macam dia...
.
.
Dan kini, di sinilah aku... Terkurung dengan gaun pengantin putih dengan pria bermbut perak yang memakai tuxedo di sampingku. Menjadi mempelai wanita dari seorang Kakashi Hatake. Aku terjebak dalam sebuah ritual sakral yang diingini setiap wanita sekali dalam seumur hidupnya dengan pria yang baru ku kenal seminggu yang lalu. Aku bisa merasakan kebahagiaan ibu saat aku memberi kabar bahwa Shimura Seinji melamarku. Ibuku terkejut, dan itu ku anggap reaksi yang sangat wajar. Akan tidak wajar jika ibu malah tenang dan tak terkejut sedikit pun atas berita yang ku bawa.
Aku memandang bosan sekelilingku. Ratusan undangan yang hadir dan mengucapkan selamat hanya manusia-manusia bermuka dua. Berusaha bersikap manis di hadapan Sei.Dan ajaib! Mereka tersenyum saat mengucapkan selamat padaku, walau aku tahu senyum mereka tak mencapai mata mereka. Hanya sebuah kepuraan di tengah kebohongan. Aku melirik Kakashi di sebelahku. Ia tampak bahagia. Tch! Ia benar-benar pintar! Aktor tampan kita ini memang sangat pandai membuat orang terkesan akan wajah, sikap, dan pembawaannya. Ia bersikap seolah pernikahan ini adalah sesuatu yang suci yang sejak lama ia inginkan. Berpura seolah aku adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Miris... Padahal pernikahan ini hanyalah tameng atas kelainan yang ia miliki.
Aku melirik ibu yang berada di sebelah Sei. Ibu? Ada apa? Kenapa wajahnya terlihat sedih? Aku berbisik di telinga Sei. "Sei, aku ingin di samping ibu," pintaku padanya.
Ia melirikku sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan bergeser, memberiku ruang untuk berada di sebelah ibu. Aku mengutuk gaun pengantin yang ku kenakan! Panjangnya gaun ini membuatku sulit bergerak walau hanya bergeser beberapa centimeter ke arah ibuku. Tak ku duga saat Sei tersenyum dan berjongkok mengambil ujung gaun pengantinku, membantuku berpindah posisi dengannya. Aku mengernyit heran ke arahnya. Ia malah tersenyum dan berbisik mesra di telingaku saat aku telah berada di sebelah ibu. Hanya sebuah bisikan kecil yang hanya sanggup didengar olehku.
"Ku rasa aktor papan atas pun akan kalah olehku aktingku." Ia tersenyum.
Ku balas senyumnya, berbisik mesra di telinganya. "Setan sekalipun akan tunduk padamu, Sei."
Ia kembali tersenyum. Malang... Orang-orang di sekeliling kami pasti akan menyangka betapa romantisnya kami. Saling berbisik mesra di tengah resepsi pernikahan kami. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik bisikan-bisikan mesra kami.
Aku melirik ibu yang kini berada tepat di sebelahku. Air mukanya masih menunjukkan kesedihan. Ada apa? Seingatku, ibu begitu bahagia saat aku membawa kabar bahwa aku akan menikah dengan Kakashi. Ku tundukkan wajahku, berbisik di telinga ibu yang duduk di atas kursi rodanya. "Ada apa, Bu? Ibu sakit?"
Ibu tersenyum ke arahku, ku tatap wajah teduhnya dalam-dalam saat ibu mengucapkan sesuatu yang menohok hatiku. "Berbaktilah, Nak. Berbaktilah pada suamimu."
Perkataan itu mungkin hanya perkataan sederhana bagi orang lain. Tapi tidak untukku. Pesan ibuku adalah sesuatu yang wajib ku jaga. Tapi... Berbakti pada suamiku? Kakashi? Aku merasa menjadi anak paling durhaka sedunia saat menganggukkan kepalaku dan tersenyum menjawab petuah ibuku. "Baik, Bu."
Maafkan aku, Ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar