Sabtu, 23 Oktober 2010

Kupu-Kupu Tak Berkepak

Aku tak pernah peduli dengan siapa-siapa yang pernah menyewa jasaku. tak peduli pada nama, status, kedudukan, atau apalah namanya yang bisa membuat wanita jatuh hati pada seorang pria. Aku telah mengingatkan dirkiku sendiri untuk melupakan hal-hal semacam itu. Tidak akan ada yang namanya jatuh hati bahkan jatuh cinta di tengah perkerjaan nista ini.Asal ada uang mengalir masuk ke rekeningku, itu cukup. Untukku dan biaya rumah sakit ibuku. Termasuk kali ini, saat aku menatap pria berambut perak di hadapanku.

Demi Engkau yang telah menciptakan segala kesempurnaan dan kesakitan di dunia, aku tak peduli pada pria itu. Pada kedua matanya yang berlainan warna, yang satu sehitam batu obsidian dengan satunya lagi merah gelap bagai burgundy, yang menatap lekat diriku, seolah menembus tulang sum-sumku dengan tatapannya. Ia menatap dari ujung rambut hingga ujung kakiku yang menjuntai di bagian bawah kasur yang kami duduki, membuatku risih. Ok, selama ini tatapan pria-pria setan itu begitu lapar dan bernafsu saat menatapku. Tapi ini lain. I don't know... The other devil's side maybe...

"Namamu?" Tanyanya.

Aku benci, sangat benci jika ada yang menanyakan itu padaku. Shit! Mereka tak butuh namaku! Aku tahu, mereka hanya butuh tubuhku! Namun demikian, aku tetap menjawab pertanyaan pria itu.

"Cherry, panggil saja aku seperti itu."

Dia tersenyum. Tampan memang... Tapi demi Tuhan, itu senyuman setan! Entah berapa banyak wanita yang tertipu senyum itu.

"Sakura."

"Eh?"

"Aku lebih suka memanggilmu Sakura."

Tch! Pria ini memang iblis. Ia bahkan tahu nama asliku. Aku tersenyum -menyeringai lebih tepatnya. Aku menggelengan kepalaku. "Kau hebat!" pujiku dalam lisan.

Hatiku? Tch! Aku selalu menganggap pria yang menyewaku setan! Walau bisa menjadi malaikat bagiku di saat yang bersamaan.

Dia melirik wajahku dan tesenyum kecil. "Kau masih kecil."

Kecil? Pria ini memang lain. Dia menghinaku dengan caranya sendiri.

"Lalu apakah ini adalah cara Anda menghindar dari kekalahan di sana nanti." sindirku sambil melirik kasur empuk yang kami duduki.

Ia memperlebar senyumannya. "Pakai ini!" ia menyodorkan sebuah jacket berwarna hijau lumut padaku -yang diambilnya dari atas kasur di sebelahnya.

"Untuk?"

"Kita makan dulu, malam masih panjang." Ia melenggang pergi ke luar kamar. Aku masih mematung sebelum ia menyadarkanku. "Kenapa diam?"

"Apa yang menyebabkanku harus ikut?" Tantangku sambil tersenyum menggoda. Demi Tuhan, aku benci menggoda lelaki, hanya saja aku segera menyudahi acara nista malam ini.

"Tugasmu menemaniku malam ini. Entah di kasur atau dimana pun," ucapnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya. Pria ini benar-benar setan. Ia tahu bagaimana menggunakan mulutnya dengan baik.

"Baiklah." Aku pun beranjak dari kasur yang ku duduki, mengikutinya menuju restoran di lantai bawah hotel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar