Sebuah cerita singkat yang pernah saya terbitkan di FFN.NET
dengan chara yang berbeda..:D
Warning: Incest, Implisit lime...
.
.
Malam-malam di Lembang masih sama seperti dulu. Masih dengan gemerlap bintang di langitnya, taburan benda-benda langit indah di dalamnya, masih sama memesonanya sejak sosok kecilnya mampu melihat keindahan langit di Lembang. Dulu saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di sini, kediaman keluarga Sucipta. Jemari kecilnya menggapai ujung tirai di jendela kamarnya. Menutup tirai itu dan menutup pandangannya dari langit malam di luar sana. Ia sedikit berjengit saat menyadari tangan kokoh melingkari pinggangnya, memeluknya lembut. Suara baritone si pemilik tangan terdengar lembut di telinganya, membuatnya memejamkan matanya, meresapi setiap untaian kata yang terucap dari bibir pria itu.
"Ada apa Sil?" Tanyanya.
Gadis itu, Sila Sucipta, membuka kedua matanya secara perlahan, kedua mata hitamnya menatap nanar pada tirai di hadapannya, ia menghela nafas pelan. Dibaliknya tubuhnya menghadap pria itu, pria yang selama ini menjadi pria yang paling dicintainya. "Tak ada. Tak ada apa-apa, Kak."
Kakak?
Satu kata itu menggelitik batinnya. Pantaskah ia mengucapkan sebutan itu pada pria yang kini ada di hadapannya?
Ia tatap dalam-dalam kedua mata keabuan milik pria itu. Begitu memesonanya, memabukannya, membelenggunya pada sekat kasat mata yang diciptakan mata itu. Memaksanya untuk masuk lebih dalam menyelami segala yang ada dalam mata itu. Mata hitam milik Silameneliti setiap inci wajah yang terstruktur sempurna d hadapannya. Goresan tangan Tuhan dalam wajah pria itu begitu memukau, seolah Tuhan tahu, kesempurnaan wajah pria ini memang telah digariskan-Nya. Ia sesap dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh pria yang kini mendekapnya. Erat… Seolah tak ingin melepaskannya.
"Aku mencintaimu, Sila…"
Cukup dengan kalimat itu, ia kembali membuat Sila melupakan semuanya. Melupakan statusnya, posisinya, bahkan melupakan realita yang terpampang jelas di hadapannya. Tamparan garis takdir antara dia dan prianya. Dia salah? Dia tahu… Dia benar? Dia tahu… Ia benar memilih pria yang dicintainya, hanya saja ia salah menjatuhkan cintanya… Namun, ia tahu… Ia… mencintai pria itu.
"Aku pun mencintaimu, Kak."
Lagi… Kembali mengukir mimpi di atas kasur putih sehalus beledu. Meneguk nikmat bercinta dengan pria yang dicintainya. Saling membagi sentuhan, pagutan, dan kenikmatan. Erangan kenikmatan kembali menjadi melodi indah sepanjang malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada rasa sakit di selanya, hanya penyesalan menyesakkan dada yang menyatu dengan pekatnya dosa di sekeliling. Menyatu dengan udara, seolah tercipta dari udara dalam ruangan ini, saksi cinta antara dua anak manusia yang salah memilih cintanya.
.
.
"Aku mencintaimu…"
Saat aku mendengar kalimat itu, aku terdiam di tempat. Kaki dan tubuhku lemas, tak sanggup menahan rasa yang sekian lama terkubur di dalam hatiku. Kenapa? Kenapa harus kami, Tuhan? Kenapa pria yang ku cintai dan mencintaiku harus ia? Kenapa harus aku dan kakakku?
"Kakak…" Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku utarakan. Aku mencintainya dalam diam, menatap keindahannya dalam kesunyian, mengubur rasa padanya dalam isak. Namun apa yang harus ku lakukan saat ia pun memiliki rasa yang sama denganku. Membangkitkan lagi atau mematikan secara tegas rasa ini?
"Aku tahu, ini salah… Hanya saja, aku—"
Ku potong ucapannya dengan pelukanku. Ku sandarkan kepalaku di dada bidangnya, menyesap aroma khas tubuhnya yang memabukkanku. Aku bisa merasakan jemarinya menyentuh halus helai-helai rambutku. Aku ingin seperti ini… Terus seperti ini…
"Tatap aku,Sil," pintanya.
Aku tengadahkan kepalaku menatapnya, kedua bola mata kami bersirobok, hitam dan abu-abu. Dua warna yang tak kontras, hanya pengabur rasa bersalah, menyembunyikan rasa bersalah yang terasa menyesakkan dada, mencari perlindungan pembenaran atas perasaan yang salah. Bersembunyi dan bicara seolah ini benar, lihat mataku!
"Aku pun mencintaimu, Kakak."
Ini salah… Aku tahu… Yang tak ku ketahui, kenapa harus kakakku yang ku cintai?
.
.
"Mau kemana?" Ku tatap kedua bola mata keabuan milik Kaka Abi, mencari jawaban dari kedua mata itu.
"Irma akan berobat sore ini, aku harus menemaninya."
"Oh…" Aku terdiam.
Irma… Ah, bukan lagi. Kini namanya, Irma Sucipta. Nama wanita yang selalu menghantui rasa bersalahku. Kenapa harus Irma, wanita yang ku kagumi dan ku benci secara bersamaan? Ia sahabatku, kenapa harus dia yang dipilih kakak?! Kenapa harus dia yang menikah dengan kakak!? Apa yang membuatku membencinya? Dia adalah sahabat terbaikku. Lalu kenapa aku membencinya? Apa karena kebaikkan dan kepolosannya yang membuatku benci padanya? Lalu kenapa ia begitu tega terhadapku? Merebut kakak ku? Ia yang tega, atau aku yang lebih tega? Retoris itu menggelitik nuraniku.
"Sampaikan salamku pada Kak Irma."
"Hn. Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi." Ia berikan kecupan lembutnya di bibirku. Aku tersenyum, membalas singkat kecupannya. "Aku mencintaimu, Sil."
"Aku tahu…"
.
.
Suara desahan cinta mereka menyatu dengan symphony malam yang pekat. Tak peduli dinding-dinding kamar itu berjerit, menolak menyaksikan dosa yang terhampar jelas di hadapan mereka, kedua insan itu tetap melanjutkan penyatuan mereka, menulikan telinga, membutakan mata dan hati dari segala kesalahan yang terjadi dalam diri mereka.
Cinta…
Hanya kata itu yang mereka percaya. Hanya cinta… Tak ada kata lain yang dapat digunakan sebagai pembenaran dari apa yang telah mereka lakukan selama ini. Kata itu menguar begitu saja, tanpa direncanakan, hanya satu kata untuk segala pembelaan…
Desahan panjang Sila saat mencapai puncaknya membelah kesunyian malam, membuat bisikan mesra terdendang di telinganya, "Aku mencintaimu, Sila."
"Aku pun… Kak."
Dan malam ini, sama seperti malam sebelumnya, hanya ada mereka dan cinta. Hanya malam penuh mimpi dan dosa. Cinderella punya batas tengah malam untuk mengakhiri mimpinya, Putri Salju memiliki kecupan Sang Pangeran untuk membangunkan tidurnya dari mimpi buruknya. Namun Sila tahu… Batasan mimpi indah dan buruknya adalah saat fajar tiba.
Saat Sang Surya mulai membelah langit, membaginya dengan sinar kemerahan di ufuk timur, Sila tahu mimpinya telah berakhir. Saat fajar tiba, adalah awal yang baik bagi setiap insan di dunia. Hanya baginya, jika saat fajar tiba, mimpi ini harus diakhiri. Ia akan kembali menjadi Sila Sucipta, adik dari Abianto Sucipta. Bukan menjadi wanita yang dicintainya, melainkan adik yang disayanginya. Jika fajar tiba, ia akan kembali menjadi adik manis yang patuh pada kakaknya.
Yang ia tahu, ingatkan ia jika fajar tiba. Ingatkan ia untuk mengubur mimpinya sampai sang surya kembali pulang ke peraduannya.
.
.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar