Rabu, 03 November 2010

Genk Gonk G Ada Nama...XD


Tulisan yang gw buat pas bete sama makhluk ga jelas... Males bahasnya, makanya gw nulis aja dah...XD Cerita tentang 7 orang cewek dan 2 orang cowok nyempil di pinggir yang seringa ngabisin waktu bareng-bareng.XD Entah makan bareng, minum bareng, ampe kadang ke wc juga barengan. wkwkwk....

9 orang mahasiswa 'coret'nista'coret' yang paling males kalo disuruh belajar tapi paling getol kalo dosen ngasih kisi-kisi ujian... Ngga tau gimana awalnya ampe kita be'9 jadi deket kayang perangko kaya sekarang ini. Hehehe...

Bdw, nggak enak nih kalo gw nggak ngenalin satu persatu temen-temen nista gw. #plakk....XD

Yang pertama si
Novi, dia orangnya baeeee banget, paling enak kalo diajak ngeliatin cowok bening. wkwkwk... becanda dik. Dia demen banget ribut ama si victor... Ampe disumpahin jadian ma tu anak. wkwkwk... ga jadi lah, ntar gw dicekek Mrs. EE lagi.:p

Terus ada Donna, cewek imut nan seksih kaya DP ni sangat sangat kiyut... Wkwkwk... Dia mungkin yang punya ketawa paling aneh di antara kita semua. Yang jelas kita semua bakal keselek makan kalo ngedenger dia ketawa. Hehehe..:p

Ada lagi si
Silvie, ow ow ow... Ini dia Ms. Lawyer. Kenapa gw bilang gitu? Soalnya dia paling bijak, dewasa n pinter ngomong+debat diantara kita. HEHEHE...

Si neng
Ing Ing yang mukanya oriental banget, yang sering dimirip-miripin sama Song Hye Kyo. #halah... Hehehe... Sangat baik, lembut, lucu, feminim banget deh.:P

Dan Ms. Judes jatoh pada
Irent. Wkwkwk,...XD Dia itu cewek paling tegas n jujur di antara kita, dan paling demen kalo dia udh mulai cengin si Victor. Loph u, Rent...:P

Ada lagi si Bawel Rini. Ni anak mukanya nipu banget. Pertama kali kenal, buset deh.... Manis, imut, pemalu, kalem... Pas kesini-sininya.... Brutalnya baru keliatan. Wkekek...:p becanda dik, you're so kind, Say..XD

Dan dua orang cowok yang gw sama anak-anak curigain bukan cowok tulen. #plakkk...XD
adalah Victor n Ahau.:p Jeng jreng~~~:p

Victor
... Dia dilahirkan untuk dicengin anak se-genk. wkwkwk...XD Mr. Ee ini emang paling baik hati di antara kita semua.:p Biar kita cengin abis-abisan, ngga pernah marah. Hihihihi... Paling getol belajar kelompok kalo mau uts n uas.wkwkwk....

Dan Bang
Ahau adalah makhluk terpinter di antara kumpulan makhluk ngga jelas kaya kita-kita. Ciee... Lu, gw puji tuh, ngkong. wkwwk... Sering jadi dosen dadakan kalo mau uts buat ngajarin kita-kita.:p

Dan
gw??? Cuma cewek imut dan baik hati yang disayang teman-teman. wkwkwk.... #dicekek, dilempar, dibungkus, ditendang ke Edensor.:p Hahaha... Gw cuma cewek biasa yang katanya nih, punya tampang alim dengan kelakuan bejat. Wkwkwkwk....:))

Dah ah, gw ngntuk. Byeee~~~

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ingatkan Aku Jika Fajar Tiba

Sebuah cerita singkat yang pernah saya terbitkan di FFN.NET

dengan chara yang berbeda..:D

Warning: Incest, Implisit lime...

.

.

Malam-malam di Lembang masih sama seperti dulu. Masih dengan gemerlap bintang di langitnya, taburan benda-benda langit indah di dalamnya, masih sama memesonanya sejak sosok kecilnya mampu melihat keindahan langit di Lembang. Dulu saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di sini, kediaman keluarga Sucipta. Jemari kecilnya menggapai ujung tirai di jendela kamarnya. Menutup tirai itu dan menutup pandangannya dari langit malam di luar sana. Ia sedikit berjengit saat menyadari tangan kokoh melingkari pinggangnya, memeluknya lembut. Suara baritone si pemilik tangan terdengar lembut di telinganya, membuatnya memejamkan matanya, meresapi setiap untaian kata yang terucap dari bibir pria itu.

"Ada apa Sil?" Tanyanya.

Gadis itu, Sila Sucipta, membuka kedua matanya secara perlahan, kedua mata hitamnya menatap nanar pada tirai di hadapannya, ia menghela nafas pelan. Dibaliknya tubuhnya menghadap pria itu, pria yang selama ini menjadi pria yang paling dicintainya. "Tak ada. Tak ada apa-apa, Kak."

Kakak?

Satu kata itu menggelitik batinnya. Pantaskah ia mengucapkan sebutan itu pada pria yang kini ada di hadapannya?

Ia tatap dalam-dalam kedua mata keabuan milik pria itu. Begitu memesonanya, memabukannya, membelenggunya pada sekat kasat mata yang diciptakan mata itu. Memaksanya untuk masuk lebih dalam menyelami segala yang ada dalam mata itu. Mata hitam milik Silameneliti setiap inci wajah yang terstruktur sempurna d hadapannya. Goresan tangan Tuhan dalam wajah pria itu begitu memukau, seolah Tuhan tahu, kesempurnaan wajah pria ini memang telah digariskan-Nya. Ia sesap dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh pria yang kini mendekapnya. Erat… Seolah tak ingin melepaskannya.

"Aku mencintaimu, Sila…"

Cukup dengan kalimat itu, ia kembali membuat Sila melupakan semuanya. Melupakan statusnya, posisinya, bahkan melupakan realita yang terpampang jelas di hadapannya. Tamparan garis takdir antara dia dan prianya. Dia salah? Dia tahu… Dia benar? Dia tahu… Ia benar memilih pria yang dicintainya, hanya saja ia salah menjatuhkan cintanya… Namun, ia tahu… Ia… mencintai pria itu.

"Aku pun mencintaimu, Kak."

Lagi… Kembali mengukir mimpi di atas kasur putih sehalus beledu. Meneguk nikmat bercinta dengan pria yang dicintainya. Saling membagi sentuhan, pagutan, dan kenikmatan. Erangan kenikmatan kembali menjadi melodi indah sepanjang malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada rasa sakit di selanya, hanya penyesalan menyesakkan dada yang menyatu dengan pekatnya dosa di sekeliling. Menyatu dengan udara, seolah tercipta dari udara dalam ruangan ini, saksi cinta antara dua anak manusia yang salah memilih cintanya.

.

.

"Aku mencintaimu…"

Saat aku mendengar kalimat itu, aku terdiam di tempat. Kaki dan tubuhku lemas, tak sanggup menahan rasa yang sekian lama terkubur di dalam hatiku. Kenapa? Kenapa harus kami, Tuhan? Kenapa pria yang ku cintai dan mencintaiku harus ia? Kenapa harus aku dan kakakku?

"Kakak…" Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku utarakan. Aku mencintainya dalam diam, menatap keindahannya dalam kesunyian, mengubur rasa padanya dalam isak. Namun apa yang harus ku lakukan saat ia pun memiliki rasa yang sama denganku. Membangkitkan lagi atau mematikan secara tegas rasa ini?

"Aku tahu, ini salah… Hanya saja, aku—"

Ku potong ucapannya dengan pelukanku. Ku sandarkan kepalaku di dada bidangnya, menyesap aroma khas tubuhnya yang memabukkanku. Aku bisa merasakan jemarinya menyentuh halus helai-helai rambutku. Aku ingin seperti ini… Terus seperti ini…

"Tatap aku,Sil," pintanya.

Aku tengadahkan kepalaku menatapnya, kedua bola mata kami bersirobok, hitam dan abu-abu. Dua warna yang tak kontras, hanya pengabur rasa bersalah, menyembunyikan rasa bersalah yang terasa menyesakkan dada, mencari perlindungan pembenaran atas perasaan yang salah. Bersembunyi dan bicara seolah ini benar, lihat mataku!

"Aku pun mencintaimu, Kakak."

Ini salah… Aku tahu… Yang tak ku ketahui, kenapa harus kakakku yang ku cintai?

.

.

"Mau kemana?" Ku tatap kedua bola mata keabuan milik Kaka Abi, mencari jawaban dari kedua mata itu.

"Irma akan berobat sore ini, aku harus menemaninya."

"Oh…" Aku terdiam.

Irma… Ah, bukan lagi. Kini namanya, Irma Sucipta. Nama wanita yang selalu menghantui rasa bersalahku. Kenapa harus Irma, wanita yang ku kagumi dan ku benci secara bersamaan? Ia sahabatku, kenapa harus dia yang dipilih kakak?! Kenapa harus dia yang menikah dengan kakak!? Apa yang membuatku membencinya? Dia adalah sahabat terbaikku. Lalu kenapa aku membencinya? Apa karena kebaikkan dan kepolosannya yang membuatku benci padanya? Lalu kenapa ia begitu tega terhadapku? Merebut kakak ku? Ia yang tega, atau aku yang lebih tega? Retoris itu menggelitik nuraniku.

"Sampaikan salamku pada Kak Irma."

"Hn. Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi." Ia berikan kecupan lembutnya di bibirku. Aku tersenyum, membalas singkat kecupannya. "Aku mencintaimu, Sil."

"Aku tahu…"

.

.

Suara desahan cinta mereka menyatu dengan symphony malam yang pekat. Tak peduli dinding-dinding kamar itu berjerit, menolak menyaksikan dosa yang terhampar jelas di hadapan mereka, kedua insan itu tetap melanjutkan penyatuan mereka, menulikan telinga, membutakan mata dan hati dari segala kesalahan yang terjadi dalam diri mereka.

Cinta…

Hanya kata itu yang mereka percaya. Hanya cinta… Tak ada kata lain yang dapat digunakan sebagai pembenaran dari apa yang telah mereka lakukan selama ini. Kata itu menguar begitu saja, tanpa direncanakan, hanya satu kata untuk segala pembelaan…

Desahan panjang Sila saat mencapai puncaknya membelah kesunyian malam, membuat bisikan mesra terdendang di telinganya, "Aku mencintaimu, Sila."

"Aku pun… Kak."

Dan malam ini, sama seperti malam sebelumnya, hanya ada mereka dan cinta. Hanya malam penuh mimpi dan dosa. Cinderella punya batas tengah malam untuk mengakhiri mimpinya, Putri Salju memiliki kecupan Sang Pangeran untuk membangunkan tidurnya dari mimpi buruknya. Namun Sila tahu… Batasan mimpi indah dan buruknya adalah saat fajar tiba.

Saat Sang Surya mulai membelah langit, membaginya dengan sinar kemerahan di ufuk timur, Sila tahu mimpinya telah berakhir. Saat fajar tiba, adalah awal yang baik bagi setiap insan di dunia. Hanya baginya, jika saat fajar tiba, mimpi ini harus diakhiri. Ia akan kembali menjadi Sila Sucipta, adik dari Abianto Sucipta. Bukan menjadi wanita yang dicintainya, melainkan adik yang disayanginya. Jika fajar tiba, ia akan kembali menjadi adik manis yang patuh pada kakaknya.

Yang ia tahu, ingatkan ia jika fajar tiba. Ingatkan ia untuk mengubur mimpinya sampai sang surya kembali pulang ke peraduannya.

.

.

TAMAT

Kupu-Kupu Tak Berkepak II

Aku risih dengan pandangan orang-orang di sekeliling kami. Ok! Aku memang biasa dipandangi dengan tatapan kagum. Biasanya para manusia itu akan bergumamam, lihat! Cantik sekali gadis itu! Tapi yang aku benci, kali ini tatapan kagum itu bukan ke arahku, melainkan pada sosok tampan—sebenarnya aku malas mengakuinya—yang berada di sampingku. Bahkan beberapa wanita yang kami lewati terkikik-kikik kecil saat kami-tepatnya pria di sebelahku-melewati tempat mereka berada. Ya... Aku akui pria berambut perak di sebelahku ini memang tampan. Garis rahangnya tegas, hidung mancungnya, bibirnya... Yang hahaha... Ok! Bibirnya memang penuh dengan sensualitas. Bahkan kedua bola matanya yang berlainan pun menambah pesona pria berambut perak ini. Aku mengekor pria yang ku ketahui bernama Sei yang kini sudah memilih dan duduk di meja paling ujung restoran ini, yang sedikit tertutup tirai bambu di sekelilingnya, membuat suasananya agak intim.

"Selamat malam Tuan Sei," sapa seorang maid berambut merah yang menghampiri meja kami. Entah hanya perasaanku atau memang benar bahwa pria ini memandang maid itu denga tatapan err... ketertarikan.

"Pesanan biasa, Sora."

"Baik, untuk Nona?"

Aku hanya mendengus malas, "just orange juice."

Aku bisa merasakan Sei yang duduk di hadapanku memandang heran ke arahku. Bahkan maid berambut merah itu pun mngekor pandangannya ke arahku.

"Ada yang salah?" Tanyaku sedatar mungkin.

"Aa... Tidak ada. Pesanan akan segera saya antarkan." Maid itu berlalu ke arah yang ku tebak di balik conter.

"Kau memang masih anak kecil," dengus Sei sambil tersenyum tipis.

Aku tahu, aku memang masih berusia sembilan belas tahun, dan Sei tampaknya berumur hampir tiga puluh tahun, walau tak ku tolak pesonanya mampu mengikat ribuan wanita dengan rentang usia yang cukup ekstrim.

"Kita buktikan nanti, siapa yang anak kecil saat di atas ranjang." Balasku menyeringai. Sei tersenyum meremehkan ke arahku.

"Siapa bilang aku akan beradu di atas ranjang denganmu?"

Aku menyeringai lebar, muak dengan sikapnya. "Lalu untuk apa kau menyewaku dengan harga tinggi, Tuan Sei, eh?" Ku tekankan intonasiku saat menucap namanya, "-ironis jika hanya untuk menemanimu makan malam."

Ia tak membalas ucapanku, malah mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari balik jasnya. "Menikahlah, denganku." Pintanya sambil membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin bermata emerald ke arahku.

Sumpah demi segala uang yang ku dapat dari pekerjaan haram ini, INI GILA! Kedua bola mataku membulat secara sempurna! Lelucon macam apa yang dipertunjukan pria ini!

"Kau belum menjawabku, Sakura."

Aku memandang lekat kedua matanya. Mencoba mencari celah kebohongan yang tersirat atas ucapannya. Nihil... Kedua matanya malah semakin menegaskan bahwa yang baru saja ia ucapkan adalah kejujuran.

"Apa yang menyebabkan aku harus menerima tawaranmu?"

"Tawaran?" ia menaikkan alis kanannya, "Ini lamaran, Saku. Bukan tawaran." katanya sambil terkekeh kecil.

"Ya apalah namanya, yang jelas kau benar-benar gila, Tuan Sei. Aku-"

"Akan lebih gila lagi jika aku tak menikahimu setelah banyak orang melihat kedatangan kita di hotel ini malam ini. Ku jamin, ribuan koran lokal dan ibukota akan menjadikan ini sebuah headline di halaman depan mereka."

Aku mendengus, "Memangnya siapa kau? Percaya diri sekali-"

"Shimura Seinji."

Aku kembali tercengang atas penuturan pria ini. Sial! Kenapa dari tadi aku tak sadar dengan nama Hatake yang disandangnya. Shimura Seinji. Pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang tak kan habis sampai sepuluh turunan.

"Aku tahu kau akan menerimaku. Dengan ini, kau tak perlu lagi menerima panggilan pria-pria hidung belang, dan yang lebih penting... Nyonya Kiyoshi bisa mendapatkan perawatan terbaik. Aku berjanji."

"Apa saja yang kau ketahui tentangku?!"

"Sakura Kiyoshi, aku tidak akan memilih secara sembarangan wanita yang akan ku nikahi." Katanya dengan datar. "Aku tahu segala hal yang akan membuatmu menerima lamaranku."

"Kau benar-benar setan, Tuan Sei! Aku-"

"Dan setan hanya akan memilih setan yang lain untuk bekerja sama dengannya."

Aku tersenyum tipis. Pria ini memang setan! Dan aku tahu, kadang aku menyukai setan seperti dia. Mulutnya, wajahnya, tatapannya, adalah racun. Aku berpikir sejenak. Jika aku menikah dengannya, aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan haram ini. Perawatan ibu pun akan lebih terjamin. Tak mungkin seorang Shimura akan menelantarkan mertuanya, apa yang akan diberitakan seluruh Konoha jika itu terjadi. Tapi...

"Apa jaminannya jika kau tak membawa teman-teman setanmu untuk menjamahku?"

"Ku jamin, tak akan ada satu pun pria yang akan mengotorimu."

"Buktinya?"

"Seluruh surat perjanjian telah ku siapkan di kamar. Kau bisa membacanya sebelum menandatangani perjanjian itu. Tapi ingat... Ini bukan pernikahan kontrak. Kau..." ia merendahkan suaranya dan mencondongan wajahnya tepat ke telingaku, "adalah istri seumur hidupku. Ku larang kau untuk jatuh cinta pada pria lain!" Ia kembali pada posisi semulanya dan tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.

Jatuh cinta pada pria lain? Hati sudah mati untuk merasakan hal-hal semacam itu. Menjadi pemuas nafsu puluhan pria membuatku jijik pada makhluk Tuhan itu.

"Kau begitu menggoda, Tuan Sei. Dan... Apa jaminannya aku tak akan mendapatkan perlakuan yang lebih buas darimu?"

Ia tertawa, "Hahaha... Kau pikir apa yang membuatku melewatkan wanita semolek dirimu, Sakura?"

Aku hanya mengernyitkan alisku mendengar penuturannya.

"Aku tak suka jenismu, Saku. Aku lebih suka manusia berdada rata." Ia menyeringai. Dan aku? Aku kembali tercengang dibuatnya.

SHIMURA SEINJI SEORANG GAY?

Malam ini benar-benar penuh kejutan bagiku.

"Kalau begitu, kedua setan akan menandatangi kerjasama malam ini." Kataku sambil tertawa...

Aku benci pria, dia benci wanita dalam konteks yang berbeda. Dan aku... Menyukai pria macam dia...

.

.

Dan kini, di sinilah aku... Terkurung dengan gaun pengantin putih dengan pria bermbut perak yang memakai tuxedo di sampingku. Menjadi mempelai wanita dari seorang Kakashi Hatake. Aku terjebak dalam sebuah ritual sakral yang diingini setiap wanita sekali dalam seumur hidupnya dengan pria yang baru ku kenal seminggu yang lalu. Aku bisa merasakan kebahagiaan ibu saat aku memberi kabar bahwa Shimura Seinji melamarku. Ibuku terkejut, dan itu ku anggap reaksi yang sangat wajar. Akan tidak wajar jika ibu malah tenang dan tak terkejut sedikit pun atas berita yang ku bawa.

Aku memandang bosan sekelilingku. Ratusan undangan yang hadir dan mengucapkan selamat hanya manusia-manusia bermuka dua. Berusaha bersikap manis di hadapan Sei.Dan ajaib! Mereka tersenyum saat mengucapkan selamat padaku, walau aku tahu senyum mereka tak mencapai mata mereka. Hanya sebuah kepuraan di tengah kebohongan. Aku melirik Kakashi di sebelahku. Ia tampak bahagia. Tch! Ia benar-benar pintar! Aktor tampan kita ini memang sangat pandai membuat orang terkesan akan wajah, sikap, dan pembawaannya. Ia bersikap seolah pernikahan ini adalah sesuatu yang suci yang sejak lama ia inginkan. Berpura seolah aku adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Miris... Padahal pernikahan ini hanyalah tameng atas kelainan yang ia miliki.

Aku melirik ibu yang berada di sebelah Sei. Ibu? Ada apa? Kenapa wajahnya terlihat sedih? Aku berbisik di telinga Sei. "Sei, aku ingin di samping ibu," pintaku padanya.

Ia melirikku sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan bergeser, memberiku ruang untuk berada di sebelah ibu. Aku mengutuk gaun pengantin yang ku kenakan! Panjangnya gaun ini membuatku sulit bergerak walau hanya bergeser beberapa centimeter ke arah ibuku. Tak ku duga saat Sei tersenyum dan berjongkok mengambil ujung gaun pengantinku, membantuku berpindah posisi dengannya. Aku mengernyit heran ke arahnya. Ia malah tersenyum dan berbisik mesra di telingaku saat aku telah berada di sebelah ibu. Hanya sebuah bisikan kecil yang hanya sanggup didengar olehku.

"Ku rasa aktor papan atas pun akan kalah olehku aktingku." Ia tersenyum.

Ku balas senyumnya, berbisik mesra di telinganya. "Setan sekalipun akan tunduk padamu, Sei."

Ia kembali tersenyum. Malang... Orang-orang di sekeliling kami pasti akan menyangka betapa romantisnya kami. Saling berbisik mesra di tengah resepsi pernikahan kami. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik bisikan-bisikan mesra kami.

Aku melirik ibu yang kini berada tepat di sebelahku. Air mukanya masih menunjukkan kesedihan. Ada apa? Seingatku, ibu begitu bahagia saat aku membawa kabar bahwa aku akan menikah dengan Kakashi. Ku tundukkan wajahku, berbisik di telinga ibu yang duduk di atas kursi rodanya. "Ada apa, Bu? Ibu sakit?"

Ibu tersenyum ke arahku, ku tatap wajah teduhnya dalam-dalam saat ibu mengucapkan sesuatu yang menohok hatiku. "Berbaktilah, Nak. Berbaktilah pada suamimu."

Perkataan itu mungkin hanya perkataan sederhana bagi orang lain. Tapi tidak untukku. Pesan ibuku adalah sesuatu yang wajib ku jaga. Tapi... Berbakti pada suamiku? Kakashi? Aku merasa menjadi anak paling durhaka sedunia saat menganggukkan kepalaku dan tersenyum menjawab petuah ibuku. "Baik, Bu."

Maafkan aku, Ibu...

Kupu-Kupu Tak Berkepak

Aku tak pernah peduli dengan siapa-siapa yang pernah menyewa jasaku. tak peduli pada nama, status, kedudukan, atau apalah namanya yang bisa membuat wanita jatuh hati pada seorang pria. Aku telah mengingatkan dirkiku sendiri untuk melupakan hal-hal semacam itu. Tidak akan ada yang namanya jatuh hati bahkan jatuh cinta di tengah perkerjaan nista ini.Asal ada uang mengalir masuk ke rekeningku, itu cukup. Untukku dan biaya rumah sakit ibuku. Termasuk kali ini, saat aku menatap pria berambut perak di hadapanku.

Demi Engkau yang telah menciptakan segala kesempurnaan dan kesakitan di dunia, aku tak peduli pada pria itu. Pada kedua matanya yang berlainan warna, yang satu sehitam batu obsidian dengan satunya lagi merah gelap bagai burgundy, yang menatap lekat diriku, seolah menembus tulang sum-sumku dengan tatapannya. Ia menatap dari ujung rambut hingga ujung kakiku yang menjuntai di bagian bawah kasur yang kami duduki, membuatku risih. Ok, selama ini tatapan pria-pria setan itu begitu lapar dan bernafsu saat menatapku. Tapi ini lain. I don't know... The other devil's side maybe...

"Namamu?" Tanyanya.

Aku benci, sangat benci jika ada yang menanyakan itu padaku. Shit! Mereka tak butuh namaku! Aku tahu, mereka hanya butuh tubuhku! Namun demikian, aku tetap menjawab pertanyaan pria itu.

"Cherry, panggil saja aku seperti itu."

Dia tersenyum. Tampan memang... Tapi demi Tuhan, itu senyuman setan! Entah berapa banyak wanita yang tertipu senyum itu.

"Sakura."

"Eh?"

"Aku lebih suka memanggilmu Sakura."

Tch! Pria ini memang iblis. Ia bahkan tahu nama asliku. Aku tersenyum -menyeringai lebih tepatnya. Aku menggelengan kepalaku. "Kau hebat!" pujiku dalam lisan.

Hatiku? Tch! Aku selalu menganggap pria yang menyewaku setan! Walau bisa menjadi malaikat bagiku di saat yang bersamaan.

Dia melirik wajahku dan tesenyum kecil. "Kau masih kecil."

Kecil? Pria ini memang lain. Dia menghinaku dengan caranya sendiri.

"Lalu apakah ini adalah cara Anda menghindar dari kekalahan di sana nanti." sindirku sambil melirik kasur empuk yang kami duduki.

Ia memperlebar senyumannya. "Pakai ini!" ia menyodorkan sebuah jacket berwarna hijau lumut padaku -yang diambilnya dari atas kasur di sebelahnya.

"Untuk?"

"Kita makan dulu, malam masih panjang." Ia melenggang pergi ke luar kamar. Aku masih mematung sebelum ia menyadarkanku. "Kenapa diam?"

"Apa yang menyebabkanku harus ikut?" Tantangku sambil tersenyum menggoda. Demi Tuhan, aku benci menggoda lelaki, hanya saja aku segera menyudahi acara nista malam ini.

"Tugasmu menemaniku malam ini. Entah di kasur atau dimana pun," ucapnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya. Pria ini benar-benar setan. Ia tahu bagaimana menggunakan mulutnya dengan baik.

"Baiklah." Aku pun beranjak dari kasur yang ku duduki, mengikutinya menuju restoran di lantai bawah hotel ini.