Selasa, 26 Februari 2013

Ingatan Masa Lalu


Masa lalu pun berulang, Jehan kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa sampai mati akhirnya terwujud. Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan, sampai dia tak bisa lagi melihat selain apa yang memang seharusnya dilihat dari balik dinding.

Ingatan Masa Lalu
.
.
Sepasang kaki itu melangkah pelan di antara sebaran daun-daun yang gugur. Si pemilik kaki kadang menghentikan langkahnya dan mendengarkan kicauan burung-burung yang tertangkap telinganya. Kemudian dia ikut bersenandung kecil, sambil sesekali mengumbar senyum ke arah rumah kecilnya yang sudah tampak di depan mata. Tangannya hampir mencapai pagar, ketika tepukan pelan mendarat di bahunya. Tubuhnya sedikit menegang. Raut keterkejutan terpeta jelas di wajahnya. Kilasan seseorang yang pernah hadir di kehidupannya beberapa tahun lalu membuat kedua matanya membuka lebar. Akan tetapi keterkejutan itu berangsur pulih saat melihat siapa yang yang menepuk bahunya.

"Ada apa? Wajahmu terlihat pucat?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Kupikir kau baru pulang besok, Thomas."

Thomas tertawa renyah. "Tidak kangen padaku?"

Yang ditanya hanya tersenyum kecil, sambil membuka pagar rumahnya, dia mempersilakan Thomas masuk. "Rupanya dinas ke luar kota menambah kamus rayuanmu."

Thomas masuk, mengekori si pemilik rumah sampai ke dalam pekarangan, lalu menutup pintu pagar yang tadi dibiarkan terbuka oleh si pemilik rumah. "Bagaimana kabarmu? Sudah seminggu kau tidak mengabariku. Apa kau melupakanku, Sayang?"

Yang dipanggil sayang hanya menolehkan kepalanya, tertawa kecil, kemudian menghampiri Thomas yang berada dua langkah di belakangnya. Didekatkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu. Usia Thomas tiga puluh tahun. Wajah pemuda itu memang ganteng. Belum lagi postur tubuhnya yang kekar dan kulit tan-nya yang semakin menambah kesan 'laki-laki' pada dirinya. Tak heran jika gadis yang kini sedang berada di hadapannya, yang tersenyum lembut, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu begitu tergila-gila padanya. "Menurutmu?"

Thomas tersenyum lebar. Dia menjawil pucuk hidung sang penanya. "Kau semakin nakal setelah kutinggal pergi, Jehan."

Jehan tertawa kecil, melepaskan kalungan tangannya di leher Thomas. "Aku mau mandi dulu. Kau tunggulah dulu di ruang tengah."

"Ah, seandainya aku boleh ikut,” canda Thomas. Dia berpura-pura memasang wajah kecewa, tapi gagal karena dia tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.

Jehan melempar tatapan tajam. Namun sesaat kemudian tertawa kecil. "Coba saja kalau berani."
Setelah jauh dari pandangan Thomas, wajah Jehan yang tadinya menampilkan keceriaan kini berubah menjadi murung luar biasa. Seakan ada beban berat di pundaknya, dia bersandar di dinding. Kedua matanya terpejam. Beberapa kejadiaan dalam satu bulan ke belakang membuatnya bergidik ngeri.

Dulu Jehan pernah sekali melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Pada saat usianya masih hinggap di angka sembilan belas tahun, dia kabur bersama pemuda yang dia pikir dicintainya setengah mati. Kedua orang tuanya menentang habis-habisan hubungan mereka. Pemuda itu bagi keluarga Jehan hanyalah pemuda urakan, miskin, dan tak punya masa depan untuk menghidupi dan membahagiakannya. Namun bagi Jehan, pemuda itu adalah cintanya. Jehanaya Friyani jatuh cinta setengah mati pada pemuda itu.

Maka berbekal cinta yang mereka pikir bisa membawa mereka pada kebahagiaan meski ditentang banyak pihak, keduanya memutuskan untuk kabur dan hidup bersama. Kenyataannya Jehan tidak salah. Pemuda itu memang benar-benar mencintai dan menyayanginya. Satu tahun hidup bersama, tanpa status pernikahan, membuktikan cinta pemuda itu pada Jehan bukanlah isapan jempol semata. Namun Jehan melakukan satu kesalahan fatal yang membuat pemuda itu berbalik membencinya.

Jehan adalah pribadi otonom yang menyukai kebebasan. Semenjak tinggal bersama dengan pemuda pilihannya, dia merasa lama kelamaan dia mulai kehilangan kebebasannya. Tak ada lagi seminar-seminar, yang mampu menampung kebebasan berpendapatnya, yang bisa dihadirinya; tak ada lagi kegiatan-kegiatan, yang bisa menggali potensi dalam dirinya, yang bisa diikutinya.
Sang kekasih selalu mengekangnya, melarang Jehan melakukan semua itu. Dalihnya adalah agar keberadaan mereka tak sampai terdeteksi oleh kerabat dan keluarga Jehan. Jehan pun sadar apa yang dikatakan kekasihnya benar. Mereka hidup dalam pelarian. Namun hati kecilnya pun tahu, tak sepenuhnya alasan itu benar. Karena meski mereka tak hidup dalam pelarian, Jehan yakin kekasihnya itu tidak akan membiarkannya meraih kebebasan itu.

Jehan cukup, tidak, Jehan sangat mengenalnya. Sisi protektif pemuda itu kelewat batas. Baginya Jehan cukup diam di dalam rumah, mencintai dan dicintainya. Jehan tak perlu berhubungan dengan dunia luar. Cukup hanya ada aku dan kamu, maka tak perlu kata dia dan mereka. Hal yang dulu dianggapnya sebagai hal paling romantis, kini berbalik mencekiknya.

Pemuda itu memonopolinya. Dia mengekang kebebasan Jehan. Sejak pertama mengenal pemuda itu, baru kali ini Jehan merasa menyesal mencintai dan hidup bersamanya. Malam itu Jehan gelisah dalam tidurnya.

Jehan membuka kedua matanya. Kilasan hidupnya dulu membuat rasa takut kembali menyergapnya. Sudah lama Jehan berusaha melupakan satu babak dalam hidupnya itu. Semenjak memutuskan untuk pergi meninggalkan pemuda itu, Jehan berusaha lepas dari ingatan-ingatan kebersamaannya dengan si pemuda. Namun beberapa bulan ini ingatan itu malah semakin jelas dan muncul ke permukaan.

Mencoba mengabaikan perasaan kebas yang mendadak menjalari hatinya, Jehan kembali pada niat awalnya, mandi. Jehan memejamkan matanya ketika menikmati guyuran air pada kepalanya. Lagi-lagi ingatan itu menyeruak ke permukaan.

Jehan mencintai kekasihnya, itu jelas. Pun kekasihnya yang mencintainya setengah mati. Jehan bisa merasakan itu. Namun kekangan akan kebebasannya membuat Jehan perlahan-lahan memupuk rasa hambar di hatinya, berusaha mengalahkan perasaan cinta yang menggebu-gebu yang dulu dirasakannya pada kekasihnya. Jehan tidak bisa begitu saja meninggalkan pemuda itu. Jehan tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan pemuda itu. Dia tidak setega itu. Atau malah sebenarnya apa yang dilakukannya itu lebih dari sekadar tega?

Semakin lama keinginan Jehan untuk berpisah dari kekasihnya semakin menguat. Dia kadang berpikir, andai saja dulu dia menuruti perkataan orang tuanya. Mukin dia masih bisa merasakan kebebasan. Jehan masih muda. Masih banyak sisi dunia yang belum dijumpainya. Masih banyak keinginannya yang belum terpenuhi.

Dulu dia berpikir, karena merasa dirinya adalah seorang pribadi otonom, maka dia berhak pergi dan hidup bersama pemuda pilihannya meski tanpa restu keluarganya. Kini dia menyesal. Justru pemuda itulah yang kini merenggut semua hak-haknya sebagai seorang pribadi otonom. Jehan mungkin bisa menentang pemuda itu, sama seperti dia menentang kedua orang tuanya. Namun dia sadar, meski kekasihnya itu begitu lembut dan perhatiaan, tapi pemuda itu juga memiliki kekejaman yang bisa Jehan rasakan dari setiap tatapan mata pemuda itu.

Jehan tidak buta dan juga tidak tuli. Saat belum memutuskan untuk hidup bersama, beberapa kali Jehan mendengar bahwa kekasihnya itu pernah memukuli sampai sekarat seorang pemuda yang katanya menaruh hati padanya. Dulu dia menganggap itu adalah bentuk cinta yang dalam kekasihnya pada dirinya. Namun kini perlahan-lahan kekejaman pria itu menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya. Meski tidak pernah menyiksanya secara fisik, tapi Jehan bisa merasakan kekejaman sang kekasih meski hanya lewat tatapan mata.

Tubuh Jehan bergidik ngiri. Dengan segera dibukanya kembali kedua matanya. Napasnya memburu, kilasan masa lalunya seakan mengejarnya tanpa ampun. Mencoba menetralisir kegelisahan dalam hatinya, Jehan menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya secara perlahan.

Jehan menyudahi mandinya dengan cepat. Saat keluar dari kamar mandi kamarnya, dia sudah melihat Thomas duduk di tepi tempat tidurnya. Pemuda tampan itu tampak fokus menonton siaran televisi yang menampilkan sekilas info mengenai kejadian-kejadian kriminal yang marak terjadi saat ini.

"Kau sudah selesai?"

Jehan mengangguk kecil, dia menuju lemarinya, memilih gaun tidur kesukaannya yang berwarna ungu muda dengan aksen bunga-bunga kecil pada tepinya.

Jehan kembali ke dalam kamar mandi. Meski pernah beberapa kali berhubungan intim dengan 
Thomas, walaupun mereka belum terikat dalam pernikahan, tapi tetap saja Jehan kadang merasa risih jika harus meloloskan pakaian yang dikenakannya di hadapan pemuda itu. Bukan hanya karena tatapan penuh gairah milik Thomas yang seolah menelusuri setiap lekuk tubuhnya, yang membuatnya merasakan gairah sensual yang membakarnya, tapi juga karena sesuatu dalam tatapan kedua mata biru langit itu mengingatkannya pada tatapan seseorang dari masa lalunya.
Selesai mengenakan gaun tidurnya, Jehan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kali ini televisi sudah dimatikan. Kesunyian melanda. Thomas kini sedang membaca buku sambil berbaring di satu sisi tempat tidur. Kacamata baca bertengger di hidungnya. Matanya melirik Jehan yang perlahan menyusup ke balik selimut yang tadinya hanya menutupi sampai ke pinggang Thomas; dada bidangnya dibiarkan terbuka tanpa atasan.

Thomas meletakkan buku yang dibacanya pada meja kecil di samping tempat tidur, mencopot kacamatanya yang kemudian diletakkannya di atas buku itu.

"Ada apa?"

Jehan diam. Dia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari Thomas. Maka dia memilih hanya membalikkan posisinya ke arah Thomas, sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

"Kau terlihat seperti memikirkan sesuatu, Sayang."

Jehan menatap ke dalam kedua mata Thomas yang sedang memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Akhir-akhir ini dia memang sedang memikirkan sesuatu. Kejadian-kejadiaan yang terjadi selama sebulan ini, tepat saat Thomas pergi dinas ke luar kota, begitu mengganggunya. Kenangan-kenangan yang sudah jauh-jauh ditanamnya ke dasar ingatannya malah semakin hari semakin gencar naik ke permukaan.

"Kau tidak ingin bercerita padaku?"
Jehan ragu sesaat, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan masa lalu yang pernah membelenggunya pada Thomas. Thomas adalah satu-satunya pemuda yang mampu membuatnya kembali merasakan cinta selain pemuda dari masa lalunya yang kini tak jelas rimbanya.

***

Malam itu kegelisahan Jehan semakin meningkat. Sudah beberapa hari pemuda yang hidup bersama dengannya dalam pelarian tidak kunjung pulang. Meski keinginan Jehan untuk berpisah semakin lama semakin kuat, tapi Jehan tidak bisa menampik bahwa sisi lain hatinya masih menyimpan rasa hangat yang begitu besar pada pemuda itu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika suara pintu depan yang terbuka mengganggu pendengarannya. Dengan tergesa Jehan turun dari tempat tidurnya, setengah berlari menuju ruang depan. Napasnya tercekat saat melihat kondisi kekasihnya yang berlumuran darah.

"Astaga, Tuhan! Apa yang terjadi padamu?!" seru Jehan. Dia berlari menuju kekasihnya, mengusap darah yang mengalir dari kening sang kekasih.

Kedua mata pemuda itu terpejam, menikmati sentuhan hangat Jehan di keningnya. Rasa bahagia membanjiri relung hatinya. Satu-satunya wanita yang dicintainya begitu mengasihinya. Dia membuka kedua matanya secara perlahan, menangkap jemari Jehan yang masih mengusap darah di keningnya.

"Aku tidak apa-apa, Jehan." Pemuda itu berusaha tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa. Asal kau di sampingku, aku tidak apa-apa."

Hati Jehan mencelos mendengar apa yang diucapkan kekasihnya. Jehan sadar dengan segenap hatinya bahwa pemuda di hadapannya ini begitu mencintainya. Setitik ragu muncul kembali di hatinya. Dia tidak mungkin bisa meninggalkan pemuda yang begitu mencintainya. Namun di saat kesempatan untuk meninggalkan pemuda itu muncul, Jehan tidak bisa menolak begitu saja.

Kesempatan itu datang ketika sang kekasih menceritakan pekerjaan apa yang dilakukannya demi menopang kehidupan mereka selama ini. Kala itu, jantung Jehan nyaris berhenti saat mengetahui bahwa kekasihnya bekerja sebagai kurir obat-obatan terlarang. Jehan secara keras melarang kekasihnya melanjutkan pekerjaan itu. Namun sang kekasih pun bersikeras mempertahankan pekerjaannya demi penghasilan untuk menopang kehidupan mereka.

"Tidak, jangan lakukan itu lagi!" Jehan melirik jendela rumah kecil yang mereka huni, takut-takut jika ada tetangga mereka yang menguping pembicaraan mereka. Dia bergegas mengunci jendela dan menutup tirainya.

"Sayang, mengertilah. Aku tidak apa-apa, aku hanya bertindak sebagai kurir, aku juga bukan pemakai. Aku-"

"Stop! Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Aku bisa menerima pekerjaanmu, apa pun, asal jangan bertentangan dengan hukum." Jehan berkata lemah, "Please..."

"Sayang, mengertilah. Dengan pekerjaan ini aku bisa mengumpulkan banyak uang, kita bisa membiayai kebutuhan kita sehari-hari. Bahkan aku bisa menabung untuk biaya pernikahan kita nanti."

Jehan mendekap mulutnya dengan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.

"Aku ingin membahagiakanmu, Sayang."

Si pemuda menurunkan tangan Jehan dari mulut gadis itu, kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Percaya padaku, aku, tidak, kita akan baik-baik saja."

Namun Jehan tidak bisa membiarkan ini semua terjadi begitu saja. Dia mencintai kekasihnya, tapi dia tidak bisa menerima pekerjaan sang kekasih. Maka dengan berat hati, Jehan sendirilah yang menjebloskan kekasihnya ke balik jeruji besi.

Sang kekasih murka luar biasa. Kekecewaan berat melanda hatinya. Kebencian mulai melata di hatinya ketika satu-satunya wanita yang dicintainya justru menjebloskannya ke dalam sel tahanan. Dia bersumpah, Jehan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dia akan mengejar Jehan sampai ke mana pun. Tak akan ada tempat bagi Jehan untuk pulang, kecuali ke dalam dekapannya. Sumpah yang akan dibawanya sampai mati.

Dengan ditahannya sang kekasih, Jehan kembali ke dalam pelukan keluarganya. Sebagian hati kecil Jehan merasa sakit. Dia telah mengkhianati kekasihnya sendiri. Meski kalimat-kalimat pembelaan, bahwa dia melakukan itu semata-mata agar sang kekasih menyadari kekeliruannya, terus dia tanamkan dalam hatinya, tapi Jehan tidak bisa menyangkal bahwa sisi lain hatinya bersorak karena akhirnya dia bisa lepas dari belenggu kekasihnya.

***
Thomas membelai lembut sisi wajah Jehan. "Tenanglah," katanya. "Itu semua sudah berakhir."
Jehan menggeleng lemah. "Tidak, itu semua belum berakhir. Dia ... dia masih ada, Thomas."

***
Jehan merasakan kedamaian hidup selama dua tahun setelah kekasihnya resmi dibui. Dia memulai hidupnya seperti dulu, mengaktualisasikan dirinya seperti apa yang dikehendakinya selama ini. Jehan bahagia. Meski ada rongga kosong di sudut hatinya, dia percaya suatu saat nanti akan ada pemuda yang mengisi kekosongan itu.

Pemuda pertama adalah Alfa, teman sepermainan Jehan sejak kecil. Salah satu sahabat Jehan yang melarang hubungannya dulu. Hubungan Jehan dengan Alfa semakin dekat. Bahkan beberapa kali mereka sepakat untuk melakukan kencan. Namun itu semua harus terhenti di tengah jalan ketika Jehan mendapat surat kaleng tepat setelah dia pulang kencan dengan Alfa.

"Dear Jehan kekasihku tercinta,
Aku tahu kau telah melupakanku. Kau mengkhianati cintaku. Kau jatuhkanku dalam lubang dalam yang sulit untuk kutembus. Namun kau lupa satu hal, Sayang. Kau lupa bahwa aku akan selalu kembali padamu. Sekeras apa pun kau menghindariku, aku akan kembali datang padamu. Begitu pula denganmu. Kau akan kembali padaku. Karena hanya akulah tempatmu kembali. Maka jangan sekali-kali kau berani menjalin hubungan dengan pemuda lain. Atau hanya ada dua pilihan. Kau atau dia yang menemaniku di neraka.
Dari kekasih yang kaukhianati,
A"

Tubuh Jehan menggigil. Dia tahu, dia telah kembali. Jehan tidak akan bisa melupakan tulisan tangannya. Tulisan yang tercetak jelas di surat ancaman yang dikirimkan padanya.

***

Thomas mendekap erat tubuh Jehan. Dilepaskan dekapannya saat mendapati keadaan Jehan berangsur tenang. "Tenanglah, ada aku."

Jehan mengangguk lemah. "Tapi dia kembali, Thomas."

Thomas menautkan kedua alisnya. "Bukankah kau bilang sudah lama dia tak lagi mengganggumu?"
Jehan mengangguk. Pandangan matanya jatuh pada cermin yang tergantung di dinding di belakang Thomas. Bayangan seorang gadis bermata coklat menatapnya langsung. "Tapi dia kembali Thomas, dia ... dia berada di dekatku, di dekat kita, aku bisa merasakan keberadaannya." 

Suara Jehan bergetar. Matanya terpejam, berusaha menghalau laju seraut wajah yang kini memenuhi pikirannya.

"Dari tadi kau tidak menyebutkannya, siapa nama pemuda itu, Sayang?"

Kedua mata Jehan terbuka. Pantulan bola mata biru langit itu balas menatapnya. "Alfred, namanya Alfredo Harsen."
.
.
.
Hampir seharian ini Jehan membereskan rumahnya. Semenjak tinggal terpisah dari orang tuanya, Jehan mulai melakukan segala urusan rumah tangga sendiri. Mulai dari mencuci baju sampai dengan urusan di dapur. Sehubungan dengan kegiatannya yang cukup sibuk sebagai ahli dermatologi di salah satu klinik terbesar di Surabaya, Jehan hanya sempat membersihkan rumahnya di kala libur seperti hari ini.

Seprai dan baju-baju kotor sudah dicuci dan dijemur di halaman belakang. Seluruh ruangan di dalam rumah sudah disapu dan dipel sampai bersih. Jehan tinggal membersihkan diri untuk kemudian bersantai sejenak. Namun langkah kakinya menuju kamar mandi di kamarnya terhenti saat mendengar suara-suara ganjil dari arah gudang belakang.

Awalnya Jehan mengira itu hanya suara barang bekas yang jatuh dari susunannya. Jehan ingat minggu lalu dia menyusun kotak-kotak hingga barang-barang bekas di dalam gudang dengan asal. Mungkin salah satu dari benda itu jatuh. Namun suara itu terulang lagi. Jehan memutuskan untuk menengok barang sebentar ke gudang, memastikan apa yang terjadi di sana.

Sesampainya di depan pintu gudang suara itu tiba-tiba menghilang. Jehan batal membuka pintu gudang, tapi ketika Jehan berbalik, suara itu muncul lagi. Maka tanpa ragu lagi Jehan memutar kunci dan membuka pintu gudang itu.

Suasana di dalam gudang tampak baik-baik saja. Bahkan susunan barang bekas yang disusun Jehan minggu lalu tak berubah banyak, tak ada barang yang jatuh, seingat Jehan. Namun sesuatu yang mengenai punggung kakinya yang telanjang membuat Jehan menjerit dengan keras.

Kerangka manusia yang berlumuran darah ada di hadapannya. Jehan jatuh terduduk di lantai, tepat di depan pintu gudang. Dia ingat dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak punya kerangka manusia yang sering digunakan di sekolah-sekolah sebagai alat bantu pada pelajaran biologi. Lalu siapa yang meletakkan kerangka itu di dalam gudangnya?

Jehan memandang ngeri ke arah kerangka berlumuran darah itu. Tampak secarik kertas menyembul di sela-sela bagian tangan kerangka itu. Jehan ragu-ragu menarik kertas itu, membacanya dengan cepat.

'Aku kembali, Sayang.'

Jehan melempar kertas itu. Matanya memandang gelisah ke kiri-kanannya. Seolah-olah sosok pemuda masa lalunya itu akan muncul dengan tiba-tiba di sekitarnya. Seakan kengerian yang ditimbulkan kerangka dan surat itu belum cukup, kini Jehan mendengar derap langkah kaki yang mendekatinya.

Jehan bergegas bangkit, berusaha secepat mungkin ke luar dari rumahnya. Terus berlari, sambil berusaha menghubungi Thomas dengan ponsel yang tadi disimpannya di dalam sakunya.

'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan kami.'

Jehan berkali-kali mencoba menghubungi Thomas, tapi nihil. Lagi-lagi pesan dari operator yang didapatnya. Dia terus berlari, sedikit lagi dia sampai di pintu depan rumahnya. Jika tiba di luar, dia bisa berteriak jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, dan dia pikir orang-orang di jalan atau tetangga-tetangganya kemungkinan akan mendengar teriakannya. Namun belum sempat tangannya mencapai pintu, satu sosok muncul dengan tiba-tiba dari ruang di sebelah kanan pintu depan.

Alfredo Harsen menyeringai menatap ketakukan yang terpancar dari wajah jelita di hadapannya.

"Aku kembali, Sayang!"

Jehan seperti lupa bagaimana caranya berteriak. Yang dia ingat adalah tatapan mata yang penuh dengan kebencian sekaligus pemujaan yang mendalam, sebelum kegelapan menyelimutinya.
.
.
.
Kedua mata Jehan terbuka dengan perlahan. Samar-samar dia melihat ada gerakan di depan matanya.

"Sudah bangun, Sayang?"

Bagai disengat listrik, tubuh Jehan mengejang. Dia bangkit, menatap ngeri pada sosok di hadapannya. Namun sedetik kemudian dia membelalakkan kedua matanya. "Tidak, tidak mungkin."
Sosok yang kini ada di hadapannya bukan Alfred, melainkan Thomas.

"Ada apa, Sayang?"

"Di mana? Di mana dia?" cecar Jehan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan gelisah.

"Dia?" Thomas tampak bingung.

"Alfred, dia ... dia ada di sini, Thomas..."

Thomas menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan, lalu kembali kepada Jehan.
 "Dengar, tidak ada siapa-siapa di sini, Sayang. Kau hanya bermimpi." Thomas duduk di tepi tempat tidur, menempatkan dirinya di sebelah Jehan. "Saat aku tiba, kau sudah terlelap di sini. Kau pasti kelelahan membereskan rumah sampai-sampai kau ketiduran dan bermimpi buruk."

Jehan menggeleng liar. "Tidak. Aku tidak bermimpi, Thomas. Dia ada di sini," Jehan bersikukuh mempertahankan ingatannya. "Kerangka, surat, gudang, ya, kau harus melihatnya, Thomas. Kerangka itu, surat itu, kita harus ke gudang, Thomas!"

Jehan mencengkram pundak Thomas. Matanya menyiratkan ketakutan. Dia butuh seseorang di sampingnya. Dia membutuhkan Thomas.

Thomas tampak tidak memercayai apa yang baru saja dikatakan Jehan. Namun dia tidak ingin membuat gadis itu semakin gelisah. Maka diturutinya keinginan Jehan.

Mereka bergegas bangkit dan berjalan menuju gudang. Sesekali Jehan melirik kanan-kirinya, takut-takut jika tiba-tiba sosok Alfred muncul menyerangnya dan Thomas. Namun sampai di depan gudang belakang, sosok itu tak lagi muncul.

Pintu gudang tertutup rapat, dengan kunci masih bertengger di lubang kunci. Jehan memang mempunyai kebiasaan tidak mencopot kunci gudangnya. Perlahan-lahan Thomas membuka pintu gudang. Daun pintu yang membuka ke arah luar membuat mereka dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam gudang. Kotak-kotak dan tumpukan barang bekas tersimpan secara wajar di dalam gudang, tak ada yang mencurigakan, bahkan kerangka, dan surat yang tadi dikatakan Jehan sama sekali tak ada di dalam gudang.

Jehan membekap mulutnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin," katanya dengan lemah. "Aku bersumpah semua yang baru saja terjadi itu nyata, Thomas." Dia menatap kedua mata Thomas, meminta kepercayaan pemuda itu.

Thomas tampak serbasalah. Bukannya tidak memercayai Jehan, tapi perkataan Jehan tidak masuk diakal. Itu semua lebih seperti manifestasi akan ketakutannya yang berlebihan terhadap sosok Alfred.

"Aku percaya padamu, tapi kali ini kauharus percaya padaku, Jehan," kata Thomas tegas. "Kau hanya kelelahan. Dan untuk masalah Alfred, aku berjanji tidak akan ada lagi sosok Alfred. Aku akan terus berada di sampingmu, maka sosok itu tidak akan lagi mengganggumu. Kau percaya padaku, 'kan?"

Thomas menyentuh dahi Jehan dengan dahinya sendiri. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Jehan. Dibawanya tangan itu menuju dada bidangnya.

"Aku mencintaimu, Jehanaya Friyani. Maukah kau menjadi istriku?"

Jehan tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ketakukan masih melanda hatinya. Namun di bawah tatapan penuh cinta Thomas, yang disiratkan dari kedua bola matanya yang berlumuran rasa cinta, Jehan tak sanggup mengatakan kalimat selain, "Aku bersedia, Thomas."

Mungkin hanya permainan cahaya ketika Jehan melihat senyuman Alfred bersarang di sudut bibir Thomas. Bibir yang sedetik kemudian membungkam bibirnya. Masa lalu pun berulang, Jehan kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa sampai mati akhirnya terwujud. Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan, sampai dia tak bisa lagi melihat selain apa yang memang seharusnya dilihat dari balik dinding.
.
.
Thomas membakar sebuah foto yang menyuguhkan kemesraan pemuda berambut hitam legam dengan iris mata berwarna coklat bersama dengan gadis cantik bermata coklat. Dia memandang rambutnya yang berwarna coklat keemasan dari cermin di hadapannya. Cat rambut yang tadi digunakannya masih ada di atas wastafelnya. Iris matanya kini berwarna biru langit, bantuan dari lensa yang dipakainya.

Sosok Alfred begitu berbeda dengan Thomas secara penampilan. Alfred yang berambut hitam dan beriris coklat selalu tampil sederhana, bahkan bisa dibilang tak terurus. Dia tidak mementingkan penampilannya. Rambutnya dibiarkan panjang menggantung sebahu. Pakaian yang dikenakannya pun bukan berasal dari merk-merk ternama. Dia tidak butuh itu semua. Dia hanya butuh Jehan. Kekasih yang dicintainya setengah mati. Namun pengkhianatan Jehan menghancurkannya.

Dia bertekad akan mengejar wanita itu sampai kapan pun dan di mana pun wanita itu berada. Setelah keluar dari bui Alfred mengubah penampilannya habis-habisan. Namanya pun diubahnya menjadi Thomas Ariadi. Butuh waktu lama sampai dia bisa hidup mapan. Dia memangkas pendek rambut dan mengganti warnanya menjadi coklat keemasan. Irisnya pun kini dihiasi lensa berwarna biru langit, menutupi warna asli iris matanya. Tak aka nada yang menyadari bahwa Alfred yang malang adalah orang yang sama dengan Thomas, seorang eksekutif muda yang begitu memikat.

Lalu pencariannya pun memberikan hasil. Di Surabaya, Alfred melihat Jehan ketika wanita itu belanja di super market tak jauh dari kantornya. Jehan masih sama cantiknya dari yang terkahir kali dilihatnya. Wanita itu tumbuh semakin matang. Waktu tidak memadamkan gairah dan hasratnya pada Jehan. Dia pernah bersumpah bahwa Jehan harus kembali padanya. Dan sebentar lagi Jehan akan menjadi miliknya. Selamanya. Ingatan itu membuatnya tersenyum miring.
"Selamat datang Thomas Ariadi dan selamat tinggal Alfredo Harsen."

SELESAI