Kamis, 10 Januari 2013

Menjemput Cinta




an: fiksi ini adalah sebuah fanfiksi yang pernah saya buat, tapi tentu saja di sini sudah saya sesuaikan setting tempat dan tokohnya. :)

Selamat Membaca :)










Menjemput Cinta (Part 1)

"Hey, coba kalian lihat ke belakang," bisik Seli pada Nia dan Ryan.

Wajah Nia memerah ketika menyadari bahwa yang ingin diperlihatkan Seli padanya dan Ryanadalah tiga orang sosok pemuda penghuni jurusan teknik.

Ryan yang penasaran, meletakkan novel yang tadi sedang dibacanya di atas meja kantin, lalu ikut melihat sosok ke arah yang ditunjukkan Seli. Matanya menangkap tiga sosok pemuda yang memiliki ciri khas yang berbeda. Nia sudah jelas memerhatikan Rinto, pemuda jurusan teknik yang sudah lama ditaksirnya, Seli jelas sedang curi-curi pandang pada Dafa, pemuda yang katanya bulan lalu menjadi perwakilan kampus mereka dalam debat nasional se-Indonesia.

Yang jadi perhatian Ryan adalah pemuda sisanya, yang nampaknya baru pertama kali dilihatnya. Biasanya di jam makan siang begini, mereka-lebih tepatnya Seli dan Nia-sengaja mencari tempat di pojok kantin dekat Gedung D, tempat anak-anak jurusan teknik. Katanya sih, view di sini bagus, tapi Ryan tahu dengan jelas, yang dimaksud view itu Rinto dan Dafa. Biasanya mereka hanya berdua, baru kali ini Ryan melihat pemuda berambut hitam kebiruan yang kini nampaknya sedang menikmati makan siangnya dengan tenang.

"Ry, serius banget. Ada apa?"

Ryan baru tersadar, rasanya ia kelewat lama memperhatikan pemuda baru itu. "Nggak, nggak apa-apa." Ryan nyengir. Buru-buru dia kembali meneruskan kegiatan membaca novelnya yang sempat tertunda.

"Eh, si Farell tambah ganteng, ya?" Seli melirik sekilas pada pemuda yang tadi diperhatikan Ryan.

Nia tertawa kecil merespons pertanyaan Seli. "Seli, kau kan sudah naksir Dafa."

Ryan yang tertarik dengan percakapan mereka, mengangkat kepalanya, memandang penuh tanya pada mereka. "Farell itu siapa?"

Seli tertawa dan Nia tersenyum kecil. Merasa tak diacuhkan, Ryan cemberut kecil. "Serius, Farell itu siapa?"

"Tuh, yang lagi makan, yang duduk di samping Rinto-nya Hinata kita yang tersayang ini," kata Seli.

Nia menggerakkan tangannya menyebrangi meja, mencoba mencubit lengan Seli. "Seliii..."
Seli hanya tertawa pelan menanggapinya.

Ryan kembali memutar tubuhnya ke belakang, melirik kembali tiga sosok pemuda yang tadi sempat diperhatikannya. Dafa duduk membelakangi arah pandang Ryan. Sedang Rinto dan pemuda yang bernama Farell itu duduk tepat menghadap ke arahnya. Ryan tersentak ketika menyadari Farell balik memandangnya. Bahkan pemuda itu nampak terusik dengan tatapannya. Mencoba berdamai, Ryan tersenyum ala kadarnya, lalu membalikkan tubuhnya.

"Biasa saja," komentar Ryan.

"Huuu... Farell itu ganteng, Ry. Matamu harus diperiksa tuh," goda Seli. "Banyak loh yang naksir dia. Kabarnya sih cowok jurusan teknik yang paling diincar, ya dia."

"Sok tahu," kata Ryan, bibirnya membentuk senyum kecil.
.
.
.
Dua hari berturut-turut Ryan kembali melihat Farell bergabung di kantin bersama Dafa dan Rinto. Padahal sebelumnya, dia yakin, Farell tidak pernah ada jika Rinto dan Dafa makan di kantin. Tapi sama sekali tidak menjadi masalah baginya.

Dan kali ini menjadi yang ketiga bagi Ryan bertemu dengan Farell, tapi bukan di kantin kampus seperti biasanya melainkan di perpustakaan umum yang terletak di samping kampus mereka.

Farell sedang duduk membaca buku yang dipinjamnya ketika Ryan kesulitan mengambil novel yang terletak di rak paling atas. Farell yang memperhatikannya dari tempat duduknya bangkit, menghampiri tempat Ryan. Pemuda itu membantu Ryan mengambil novel yang ingin dibacanya. Dengan sekali gerakan, novel itu sudah berada di tangan Farell.

"Ini," katanya.

Novel itu kini telah berpindah tangan kepada Ryan. "Trims."

Farell mengangguk kecil, kembali ke tempat duduknya.

Awalnya Ryan ragu mengambil tempat di sebelah Farell. Namun berhubung sudah tak ada lagi tempat yang kosong di seksi itu, mau tak mau, Ryan melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Suara kursi yang ditarik Ryan membuat Farell mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya pada Ryan.

"Maaf," kata Ryan.

Farell menggeleng pelan. "Tidak, tidak apa-apa."

Ryan tersenyum simpul. Gadis berambut sebahu itu kemudian menekuri kegiatan membacanya. Hampir setengah jam ia tenggelam dalam novel yang dibacanya. Tidak sadar bahwa Farell yang duduk di sampingnya kini sedang memperhatikannya. Entah apa yang dilihat pemuda itu, ketika secara perlahan, dia menyunggingkan sebuah senyum kecil.

Ryan yang merasa dirinya sedang ditatap, menolehkan kepalanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah tatapan Farell yang menyambutnya. Sontak gadis itu menjadi salah tingkah. Ternyata diperhatikan itu tidak nyaman, pikirnya.

Ryan hanya diam, tapi sedetik kemudian pemuda itu tersenyum kecil-lebih mirip seperti seringaian. "Sorry, aku hanya penasaran dengan warna namamu."

Sakura menekuk wajahnya. Dia bingung, kenapa semua orang yang pertama kali mengenalnya pasti berkomentar mengenai warna namanya yang seperti nama seorang lelaki, tak terkecuali pemuda yang duduk di sampingnya. Namun dia merasa heran, kenapa Farell bisa tahu namanya? Bukankah mereka belum pernah berkenalan secara resmi.

"Aneh ya?"

"Tidak," tukas Farell. "Unik lebih tepatnya."

Ryan nyengir. "Lumayan, setidaknya unik lebih terdengar keren dibandingkan dengan aneh."

Farell tertawa kecil mendengar jawaban Sakura. Dia mengulurkan tangannya. "Farellio Sandy, kau?"

Ryan nampak sedikit terkejut ketika Farell menglurkan tangannya. Tak ingin membuat Farell kecewa, buru-buru disambutnya uluran tangan Farell. "Ryan, Ryan Aditiana."

"Suka baca?"

Ryan mengangguk kecil. Dia menatap Farell sekilas sebelum kembali berkutat dengan novel yang dibacanya. "Ya, sangat suku." Ryan menatap Farell, "kau?"

Farell mengabaikan buku yang tadi dipinjamnya, dia menatap Ryan sepenuhnya. "Tergantung."

"Maksudnya?"

"Tergantung jenis bacaannya," katanya. "Kalau novel, aku tidak begitu suka."

"Oh," tanggap Ryan. Dia kembali melanjutkan kegiatan bacanya.

"Kakakku yang suka."

"Eh?" Secara refleks Ryan sedikit berseru.

"Sssttt, kau ingin kita diusir?"

Ryan nyengir. "Maaf, oh ya, kakakmu perempuan?"

"Tidak, dia seorang pria."

Ryan nampaknya ingin melanjutkan percakapan mereka, tapi melihat gelagat Farell yang mulai sibuk dengan buku yang dibacanya membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Dia hanya menatap Farell sejenak sebelum kembali menekuri novel yang dibacanya.
.
.
.
Farell belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa kakinya kini melangkah ke arah kamar kakak laki-laki satu-satunya yang dia miliki. Tangan Farell sempat ragu ketika ingin mengetuk pintu kamar kakaknya. Namun toh, dia tetap melaksanakan niatnya.

Merasa ada yang mengetuk pintu kamarnya, Andre berseru dari dalam kamar. "Masuk saja, tidak dikunci."

Terdengar suara derit pintu yang dibuka disusul suara pintu yang ditutup. Farell berdiri di depan pintu kamar Andre, melirik kakaknya yang sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop.

"Ada apa?" Andre melirik kecil ke arah Farell. "Tumben ke kamarku." Andre menyesap secangkir kopi miliknya.

"Hn." Farell mengedarkan pandangannya ke arah tumpukan novel Andre di rak buku miliknya. "Aku mau pinjam novel."

Andre nyaris tersedak kopinya ketika mendengar perkataan Farell. "Uhuk, uhuk..."

Farell berjengit risih. "Boleh tidak?"

Andre meletakkan kopinya di atas meja di samping laptopnya. "Tumben, untuk apa?"

"Tentu saja untuk dibaca, memangnya untuk apa lagi?" sahut Farell gusar.

Andre terkekeh kecil, adiknya memang tidak berubah, masih galak dan ketus seperti biasanya. Tapi baru pertama kali Farell meminjam koleksi novelnya, biasanya barang yang pernah dipinjam Farell hanya mobilnya.

"Okey, okey, jangan ngambek. Tuh, kau pilih saja novel apa yang mau kau baca."

Farell berjalan mendekati rak buku Andre. Matanya memindai judul-judul novel yang ada di dalam rak tersebut. Kebanyakan dari novel-novel itu adalah novel tentang cerita kriminal dan detektif, terlihat dari judul-judulnya yang sedikit mengandung kata pembunuhan. Farell mulai bingung memutuskan ingin meminjam yang mana.

"Kira-kira yang bagus apa?"

Andre memutar tubuhnya, dia menatap Farell lekat. "Memangnya kau mau membaca yang seperti apa?" tanyanya. "Percintaan?" Terjadi jeda sebentar. "Atau tentang pembunuhan?"

Farell berpikir sebentar. "Kalau tentang misteri, tapi tetap ada bumbu romance, ada?"

Andre nyaris tergelak mendengar permintaan Farell. "Sejak kapan kau suka novel dengan bumbu romance?"

Farell mendengus kecil. "Berisik," katanya. "Ada atau tidak?"

Andre tidak menjawab, dia bangkit dari duduknya, berjalan menuju rak buku. Tangannya mengambil satu novel dengan judul Tanpa Batas. "Nih, coba saja baca. Kau pasti akan kaget setelah membaca akhirnya."

Farell menatap novel yang kini ada di tangannya. Dia membaca ringkasan cerita di sampul belakang novel itu.

'Untuk gadisku yang kusayangi tanpa batas.
Untuk wanitaku yang kucintai tanpa batas.
Untuk pengantinku yang kusakiti tanpa batas.
Untuk cintaku yang kubunuh tanpa batas.
Untuk semua yang ada pada dirimu yang kulukai dan kugilai tanpa batas.'

"Aku pinjam yang ini."

"Okey," sahut Andre.

Farell melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Andre. Baru saja tangannya menyentuh kenop pintu, suara Andre mengiterupsi gerakannya.

"Oh ya, omong-omong, tokoh utama dalam novel itu bernama sama denganmu."

"Hn?" Farell berbalik menatap Andre.

"Iya, tokoh utama prianya bernama Farell, sedangkan tokoh utama wanitanya bernama Ryan," tutur Andre.

Farell hampir terbelalak mendengar penuturan Andre, namun ditahannya. Hanya dengusan kecil yang keluar dari mulutnya sebelum dia benar-benar keluar dari kamar Andre.

.
.
.
Ryan tidak pernah menyangka bahwa Farell akan menghampirinya di kantin kampus. Namun itulah yang saat ini terjadi, pemuda itu dengan santai berjalan ke arah mejanya yang dihuninya bersama Seli dan Nia.

"Boleh pinjam Ryan sebentar?"

Seli hanya terperangah dengan permintaanFarell. Buru-buru gadis beriris biru langit itu menganggukkan kepalanya. "Tentu."

Nia hanya merespons perkataan Farell dengan sebuah senyuman.

Sedangkan Ryan kini sedang dilanda kebingungan. Untuk apa Farell menemuinya? Tak ingin membuat Farell menunggu lebih lama, gadis itu nyengir ke arah Seli dan Nia sebelum mengikuti Farell ke arah taman belakang gedung D.

Pemuda itu membuka tas ranselnya, mengeluarkan, dan mengulurkan sebuah novel berlatar warna biru gelap dengan ukiran tinta berwarna keperakan untuk judulnya dari dalam tasnya ke arah Ryan.

"Ini," kata Farell.

Ryan menatap novel di tangan Farell dan wajah Farell secara bergantian.

"Untukku?"

"Tidak," jawab Farell singkat.

Ryan menekuk wajahnya, dia pikir Farell akan memberikan novel itu untuknya. Farell tersenyum tipis melihat mimik wajah Ryan.

"Tapi aku meminjamkannya untukmu."

"Serius?"

Farell hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ryan menerima novel dari tangan Farell. Dia membaca judul novel itu, kemudian membaca sekilas ringkasan cerita di sampul belakang novel.

"Wow, sepertinya bagus. Punyamu?"

"Bukan, punya kakakku. Kupikir kau mungkin menyukainya, maka aku meminjamnya untukmu."

Ryan tersenyum kecil. "Trims," katanya. "Kau baik juga."

Farell mendengus kecil. Ryan terkekeh melihatnya.

"Kalau begitu, aku kembali ke kantin lagi, ya," kata Ryan. "Kurasa teman-temanku masih menungguku."

Farell hanya mengangguk affirmatif. Kedua matanya memandangi punggung Ryan yang semakin menjauh. Entah apa yang dia rasakan ketika dia tersenyum tipis, nyaris tak kentara, ketika melihat gadis itu. Rasanya sudah lama dia tidak merasakan hal-hal semacam ini.
.
.
.

Ryan langsung diberondong pertanyaan oleh Seli setibanya dia di kantin. Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan itu berinti sama: sejak kapan dia mengenal Farellio Sandy. Ryan tertawa kecil melihat Seli yang sedikit penasaran.

"Huuu... Katanya tidak suka, Farell tidak ganteng, biasa saja, tapi ternyata diam-diam berhubungan dengannya," goda Seli.

Nia ikut tertawa mendengar godaan Seli.

Ryan mengernyitkan alisnya. "Apaan sih, Sel~! Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Farell," jelas gadis itu sambil menyeruput jus alpukat miliknya.

"Aku tidak percaya," kata Seli. "Jelas-jelas tadi Farell menghampiri kita, lalu dia bilang, dia ingin meminjammu sebentar. Uh, itu sih lebih dari cukup untuk disamakan seperti seorang pria pada kekasihnya," tutur Seli penuh semangat.

Ryan hanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Aku dan Farell tidak pacaran, kami hanya teman."

"Lalu tadi dia mengajakmu ke mana?"

Ryan menatap Seli, dia mengeluarkan novel dari dalam tasnya. "Dia hanya mau meminjamiku ini," katanya.

Seli mengambil novel dari tangan Ryan. "Tanpa Batas," gumamnya. "Ecieee... Dia perhatian sekali."

Ryan menatap Seli dengan tatapan 'apaan-sih'.

"Omong-omong, sejak kapan Farell dekat denganmu, Ry?" tanya Nia.

Ryan mengalihkan pandangannya pada Nia. "Tidak, kami tidak dekat, kok. Kebetulan kemarin aku bertemu dengannya di perpustakaan umum. Kami berbincang sebentar, hanya itu."

"Tapi yang kudengar Farell itu jarang loh berbicara dengan seorang gadis. Jangan-jangan dia itu naksir padamu, Ry!" seru Seli berapi-api.

Nia ikut menimpali. "Mungkin juga."

Ryan hanya cemberut mendengar godaan kedua sahabatnya. "Kalian ini, Farell kan hanya meminjamiku sebuah novel, kenapa jadi berpikir yang macam-macam sih? Lagi pula, bisa jadi dia sudah memiliki seorang kekasih."

Tiba-tiba sekelumit perasaan tak menyenangkan menggeliat dalam perut Ryan ketika dia memikirkan kemungkinan bahwa Farell telah memiliki seorang kekasih.
.
.
.

Farell menimang-nimang ponsel miliknya. Tangannya mengetikkan sebuah email ke salah satu alamat email di kontaknya. Dia nampak sedikit merenung.

Belakangan ini, dia sering secara diam-diam memerhatikan Ryan, gadis jurusan sastra. Ryan tidak begitu cantik, Farell sendiri tidak mengerti mengapa dia jadi suka memerhatikan gadis itu. Mulai dari cara gadis itu berbicara, tersenyum, tertawa, bahkan cara gadis itu menekuk wajahnya. Entah kenapa dia jadi memerhatikan body language gadis itu.

Sebuah email masuk di ponselnya mengalihkan pikiran Farell dari Ryan. Sebuah email yang menyadarkan pada sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolaknya.
.
.


Ryan melirik jam tangannya. Waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Kegiatan klub teater kampus yang diikutinya membuatnya harus pulang cukup malam, memang belum terlalu malam, tapi biasanya jam tujuh seperti ini, Ryan sudah duduk manis di kamarnya sambil membaca novel kesukaannya. Seli sudah pulang sejak jam kuliah terakhir selesai. Nia pun telah dijemput Nino, sepupunya, sejak tadi sore. Tinggal Ryan yang melangkahkan kakinya sendirian menuju halte bus di samping kampusnya.

Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih tampak menunggu bus di halte yang sama dengan Ryan. Sambil menunggu bus, Ryan duduk di bangku halte, dia mengeluarkan novel yang dipinjami oleh Farell. Ryan mulai membaca novel itu. Gadis itu sedikit terkejut ketika mendapati nama tokoh utama dalam novel itu sama seperti dirinya dan Farell. Gadis itu merasakan sebuah perasaan aneh menggelitik hatinya, terlebih ketika mengetahui bahwa Ryan dan Farell dalam novel itu adalah sepasang suami istri. Tanpa disadarinya sebuah motor berhenti di depan halte. Pengendara motor itu menepikan motornya, menghampiri Ryan yang masih tenggelam dalam novel yang dibacanya.

"Belum pulang?" Sebuah suara berat mengalihkan Ryan dari kegiatannya. Farell tengah berdiri, menjulang tinggi di hadapannya.

"Eh? Belum. Kau sendiri?"

Tanpa menjawab pertanyaan Ryan, Farell mengulurkan sebuah helm kecil ke arah Ryan. "Kuantar kau pulang," katanya.

"Eeh?" Ryan masih diam, dia sedikit terkejut dengan perkataan Farell.

Farell mendengus kecil. "Ayo, hari sudah semakin gelap."

Ryan nampak ragu, tapi akhirnya gadis itu menerima helm dari Farell dan mengikuti langkah pemuda itu menuju motornya.

Suara deru mesin motor Farell segera saja digantikan oleh hembusan angin malam yang menyapu permukaan kulit Ryan.

"Memangnya kau tahu rumahku, Rell?" tanya Ryan. Suara gadis itu berusaha mengimbangi suara bising di jalan raya.

"Tidak," sahut Farell datar.

"Tch! Dasar! Rumahku di Jalan Karawaci No. 12, dari sini kau belok-"

"Aku tahu alamat itu, kau diam saja," potong Farell.

Ryan hanya menekuk wajahnya. Farell tetap saja sedikit mengesalkan. Awalnya Ryan ragu ketika mengulurkan tangannya, berpegangan pada pinggang Farell. Namun akhirnya diberanikan dirinya berpegangan kecil pada pinggang Farell. Ryan sedikit cemas, takut-takut Farell menganggapnya tidak sopan, jujur saja, Ryan melakukan ini hanya semata-mata takut dengan kecepatan motor yang dikendarai Farell. 

Ryan takut Farell menolak, namun gadis itu sedikit lega ketika Farell tidak menolak, bahkan Ryan seperti tersengat listrik ketika tangan kiri Farell malah menyentuh telapak tangannya, mengeratkan pegangan Ryan pada pinggangnya. Kini kedua tangan Ryan sepenuhnya melingkar pada pinggang Farell.

Ryan merasakan gejolak aneh pada hatinya. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Dia berusaha menahan getaran aneh yang mulai merambati hatinya. Rasa hangat dan nyaman memenuhi dirinya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Farell seolah membiusnya. Mencoba mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak-tidak, Ryan memecah kesunyian di antara mereka.

"Rumahmu di mana?"

Farell menjawab datar. "Tidak terlalu jauh dari rumahmu."

"Oh," respons Ryan.

Keheningan kembali melanda keduanya. Baik Farell maupun Ryan nampaknya tidak berniat membuka percakapan di sisa perjalanan mereka.

Deru mesin motor yang menepi di sebuah rumah sederhana melatari keadaan mereka saat ini.

"Trims," kata Ryan. Gadis itu turun dari motor, mengembalikan helm milik Farell yang dipakainya.

"Sama-sama," sahut Farell. Farell ikut turun, mengaitkan helm kecil yang tadi dipakai Ryan ke kaitan kecil di sisi samping belakang motornya.

"Omong-omong, itu helm punyamu?"

"Hn," katanya. "Kenapa?"

"Tidak, hanya saja, helm itu seperti helm untuk wanita."

Farell menatap Ryan lama, sebelum menanggapi perkataan Ryan. "Sudah malam, sebaiknya kau masuk."

Ryan mengangguk kecil. Hatinya sedikit mencelos. Dia merasa Farell sengaja mengalihkan pokok pembicaraan mereka sebelumnya. Namun dia berusaha tidak mengambil pusing mengenai hal itu.

"Aku pulang," pamit Farell.

"Hati-hati di jalan."

"Hn."

Suara starter motor disusul deru mesin motor yang semakin menjauhi komplek kediaman Ryan terdengar membelah kesunyian malam. Ryan hanya menatap lama, sebuah senyuman tipis terpatri di bibirnya.
.
.
.
Farell merebahkan tubuhnya sambil menatap kosong langit-langit kamarnya. Masih terekam jelas dalam ingatannya apa yang tadi dia lakukan: mengantar Ryan pulang.

Entah apa yang dipikirkannya ketika dia menawarkan gadis itu tumpangan sampai ke rumah. Farell memejamkan kedua matanya, berharap menghapus jejak-jejak ingatan yang ditanamkan gadis berambut  sebahu itu. Namun gagal.

Lagi-lagi Farell harus merelakan pikirannya dipenuhi oleh sosok gadis itu. Mulai dari suara gadis itu, sampai sentuhan gadis itu ketika memeluk pinggangnya saat di motor tadi.

Dia melirik pigura di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Seorang pemuda berdiri sambil merangkul seorang gadis manis berambut coklat.

Farell mendesah berat. 'Kenapa jadi seperti ini?'
.
.
.

Sudah dua jam lebih SRyan menghabiskan waktunya untuk melahap novel yang dipinjami Farell. Gadis itu benar-benar terbawa suasana dalam novel itu. Novel itu bercerita tentang sepasang suami istri yang harus didera polemik yang cukup berat dalam rumah tangga mereka. Sang suami yang bernama Farell dituduh melakukan pembunuhan berantai di desa tempat mereka tinggal.

Ryan masih bersemangat membaca novel itu. Apalagi ketika dia tahu bahwa tokoh Farell di novel itu ternyata memiliki affair dengan sahabat istrinya. Ryan benar-benar menaruh simpati pada tokoh istri-terlebih nama mereka sama. Gadis manis itu mengutuk tokoh Farell yang ternyata memiliki niat jahat pada istrinya. Namun setelah membaca hampir tiga per empat novel itu, dia mendesah lega. Ternyata tokoh Farell benar-benar mencintai istrinya.

Membicarakan tentang tokoh itu, Ryan sedikit tersipu ketika tokoh Farell mengatakan pada istrinya yang bernama Ryan bahwa dia mencintai wanita itu. Sempat terbersit di pikirannya, bagaimana jika Farell yang dikenalnya juga mengatakan hal yang sama pada dirinya.

Sadar akan kekonyolan pikirannya, buru-buru Ryan menepis pemikiran itu. Dia tertawa kecil.
Seketika ingatan tentang kejadian hari ini berlarian di benaknya. Mulai dari Farell yang meminjaminya novel, lalu mengantarnya pulang, sampai perlakuan Farell yang nampak tidak keberatan ketika Ryan berpegangan pada pinggangnya. Bahkan Farell malah melingkarkan tangan Ryan pada pinggangnya, membuat gadis itu mengeratkan pegangannya.

Wajahnya mulai merona. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta?
.
.
.
.
Hampir seminggu Farell mengantar Ryan pulang. Mereka selalu kebetulan bertemu di depan halte ketika Ryan sedang menunggu bus. Entah siapa yang memulai, muncul berita mengenai mereka berdua. Bagai dihembus angin, berita itu menyebar ke seluruh kampus, Farell, pemuda yang paling diincar di kampus mereka sedang menjalin hubungan dengan Ryan, mahasiswi dari jurusan sastra.

"Ryannnnn~!"

Seli datang tergopoh-gopoh ke kelas. Gadis itu duduk di kursi di sebelah Ryan. Ryan yang sedang mengobrol dengan Nia di sebelah kanannya, menolehkan kepalanya, menghadap Seli di sebelah kirinya. "Ada apa?"

"Serius, Ry, kamu pacaran sama Farell?"

Ryan nampak terkejut. Buru-buru dia meluruskan pemikiran Seli. "Siapa yang bilang? Aku tidak pacaran dengan Farell."

"Yakin?"

Ryan menekuk wajahnya. "Tentu saja, Seli. Kalau aku pacaran dengan seorang pria, kalian berdua pasti jadi orang pertama yang kuberitahu."

Seli nyengir. "Trims," katanya. "Tapi gosipnya menyebar ke seluruh kampus loh," terang Seli.

"Gosip?" tanya Ryan bingung. "Gosip apa?"

"Tentu saja gosip mengenai hubunganmu dengan Farell."

"Loh, kenapa bisa ada gosip seperti itu?"

"Katanya banyak yang sering melihat kau pulang diantar oleh Farell. Padahal kan Farell tidak pernah mengantar seorang gadis mana pun di kampus ini."

Ryan tertawa kecil. "Sudah seminggu ini dia memang mengantarku pulang."

"Tuh kan!"

"Tapi hanya mengantar pulang, tidak lebih," tukas Ryan cepat. Dia tidak mau Seli berpikir yang macam-macam.

Nia menyahut, "Ryan naksir Farell, ya?"

Ryan terdiam. Gadis itu berusaha mengenali perasaan yang akhir-akhir ini menderanya. "Mungkin," kata Ryan lirih. "Aku juga bingung dengan perasaanku."

Seli menepuk pelan bahu Ryan. "Kurasa Farell juga menyukaimu."

"Tidak mungkin," kata Ryan sambil tertawa kecil, berusaha menutupi sekelumit rasa sesak yang tiba-tiba hadir di dadanya. "Lagi pula kami tidak dekat. Farell juga tidak menunjukkan tanda-tanda menyukaiku."

Nia meremas pelan tangan Ryan. Berusaha memberi dukungan moril pada Ryan tanpa lewat kata-kata.

Ryan tersenyum tulus ke arah keduanya. "Sudah-sudah, lagi pula aku sendiri tidak tahu perasaanku pada Farell seperti apa. Ini mungkin hanya efek dari kebersamaan kami akhir-akhir ini. Jangan memperlakukan aku seperti gadis yang habis patah hati dong!"

Seli dan Nia tertawa kecil. Ryan menekuk wajahnya, tapi dalam hati dia tersenyum. Meski dia terus bertanya, apa benar dirinya menyukai Farell?
.
.
.
Farell sedang membaca diktat miliknya ketika sebuah tepukan mendarat di atas bahunya.

"Rell, aku dengar kamu lagi deket sama Ryan, ya?"

Farell mengalihkan pandangannya pada sosok yang kini duduk di sampingnya. Rinto sedang menunggu respons darinya.

Farell mengangguk kecil. "Hn."

"Kau menyukainya?"

Tanpa menjawab pertanyaan Rinto, dia balik bertanya. "Kau mengenalnya?"

"Tidak dekat, tapi tetap saja aku tidak suka kalau dia akhirnya patah hati," jawab Rinto.

Farell mendesah berat. Dia menatap Rinto penuh arti. "Apa aku salah?"

Rinto diam. Dia hanya mengangkat kedua bahunya. "Putuskanlah, sebenarnya siapa yang ada di hatimu?"
.
.
.
.
Lagi-lagi Ryan harus pulang sendiri. Seli diantar pulang oleh Dafa, nampaknya rasa suka Seli mulai terbalas, dan Nia seperti biasa selalu dijemput oleh Nino. Dia tidak keberatan, toh sudah beberapa hari ini dia pulang sendiri, meski akhirnya bertemu Farell dan diantar pulang oleh pemuda itu. Tapi sepertinya hari ini adalah pengecualian, hampir seharian ini Ryan tidak melihat Farell. Biasanya Farell selalu ada di kantin bersama Rinto dan Dafa saat jam makan siang. Tapi hari ini, pemuda itu absen.

Ryan berusaha tidak memikirkan hal itu. Sebuah bus berhenti di halte tempat Ryan menunggu. Gadis itu melirik gerbang kampusnya, sedikit berharap Farell muncul dengan motor hitamnya, mengajaknya pulang bersama, seperti hari-hari kemarin. Namun segera ditepisnya harapan itu. Gadis itu bergegas menaiki bus.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bus yang dinaikinya penuh sesak. Dia terpaksa berdiri di dalam bus. Hampir selama perjalanan menuju rumahnya, Ryan tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bis. Merasa bosan, kedua matanya memandang jalan-jalan di sekelilingnya lewat kaca bus yang tembus pandang.

Sampai di pertigaan lampu merah, kedua mata Ryan memicing memandang pengendara motor yang berhenti di sebelah bus. Dia tidak mungkin salah mengenali motor hitam itu. Itu adalah motor Farell. Ryan sendiri dengan yakin memastikan bahwa pengendara motor itu adalah Farell. Yang mengganggu pikirannya adalah sosok gadis yang berada di belakang Farell. Gadis berambut coklat panjang, yang sebagian rambutnya tertutup helm kecil yang selama ini sering dipakai Ryan jika menumpang motor Farell. Ryan melirik ke arah tangan gadis itu yang berpegangan erat di pinggang Farell.

Ada perasaan sesak yang menghantam ulu hatinya ketika melihat pemandangan itu. Seperti ada palu godam yang meremukkan hatinya. Ryan tidak mengerti apa yang dia rasakan. Bukankah dari dulu dia dan Farell memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Bukankah sejak awal dia sendiri yang meyakinkan hatinya bahwa Farell tidak mungkin menyukainya, meski perhatiaan pemuda itu bisa dibilang lebih kepadanya. Bukankah Farell memang tidak pernah secara gamblang mengatakan bahwa dia menyukainya. Bukankah sejak awal dia sendiri yang mengatakan bahwa dia dan Farell hanya sebatas teman. Tapi tetap saja, itu semua tidak bisa menghentikan rasa sesak di dadanya dan segumpal air yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
.
.
Bersambung ke part 2

Aku di Hatimu


Engkau selalu ada di hatiku,
Namun adakah aku di hatimu?







Aku di Hatimu
.
.

Kalau hati bisa memilih, mungkin aku tidak akan memilih jatuh cinta padanya. Itu adalah kalimat yang sering kali kuucapkan dalam hati jika melihatmu tersenyum manis, sambil menggandeng tangan pria itu. Kata orang cinta itu bodoh, tapi aku sebagai pelakunya lebih dari sekadar kata bodoh. Sudah tahu wanita itu tidak pernah mencintaiku, aku tetap saja menaruh dirinya di puncak hatiku.

Wanita itu adalah Liana. Aku mengenalnya saat menghadiri salah satu seminar yang diadakan oleh kampus tempatku mengajar. Liana adalah salah satu pembicara di seminar itu. Aku terkesan dengan caranya membawakan seminar itu. Dulu sering kali aku berpikir, seorang wanita tidak akan mampu melampaui wawasan seorang pria. Namun melihat cara Liana berbicara dalam seminar itu, aku tahu pikiranku tidak sepenuhnya benar.

Kami bertukar nomor ponsel setelah seminar itu selesai. Mulai dari saat itu, kami sering bertukar pikiran. Semakin lama kekagumanku pada Liana semakin bertambah. Di mataku dia bukan hanya seorang wanita yang memiliki wajah rupawan dan fisik yang molek, tapi juga wawasan dan cara berpikirnya membuatku kagum.

Namun ada satu hal yang membuatku kecewa. Liana telah memiliki seorang suami. Pada awalnya, hubungan kami berjalan dengan normal, sebatas rekanan yang sering bertukar pikiran demi memperluas wawasan. Sampai akhirnya batasan itu terlanggar sedikit demi sedikit. Liana pada awalnya tidak pernah mengeluhkan sedikit pun kehidupan rumah tangganya. Di mataku, pernikahan dan kehidupan rumah tangganya sempurna. Suaminya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Tapi ternyata bahtera rumah tangga mereka yang kupikir baik-baik saja, tidak semulus kelihatannya.

Aku mengetahui itu semua saat kulihat dia menangis di sela-sela diskusi kami. Saat itu dia mencurahkan segala isi hatinya. Suaminya tidak pernah mencintainya. Pernikahan mereka adalah buah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Suaminya memang memberinya nafkah secara lahir maupun batin, tapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Apa lagi, sampai saat ini mereka belum memiliki buah hati dari pernikahan mereka.

Awalnya aku hanya sebatas memberikan penghiburan padanya lewat sebuah pelukan kasih sayang seorang teman. Hubungan kami semakin erat. Ada kalanya sesuatu yang erat itu justru begitu sulit untuk dilepaskan, sama halnya dengan hubungan kami. Jika pada awalnya aku mengatasnamakan persahabatan dari setiap pelukan yang kuberikan, semakin lama pelukan itu beralih menjadi kecupan, bahkan sesuatu yang dulu selalu kuikrarkan dalam hatiku hanya akan kulakan dengan istriku sendiri.

Hubungan kami semakin lama semakin tidak sehat. Kami berhubungan fisik layaknya suami istri. Kadang aku merasa jijik pada diriku sendiri. Tidak pernah terbersit sedikit pun di benakku jika pada akhirnya aku menjalani hubungan terlarang ini. Dinding kamar apartemenku menjadi saksi bisu perbuatan terlarang kami. Kadang dalam satu malam, desahan, peluh, dan ciuman-ciuman liar menjadi satu, membaur dalam pekatnya udara penuh dosa yang tercium.

"Ana," panggilku. Aku memainkan anak rambut di dahinya. Malam ini adalah malam kesekian dari malam penyatuan kami. Peluh di dahinya masih bisa terasa di jemariku.

"Hmmm...," gumamnya.

"Apa kau mencintaiku?"

Aku bisa merasakan tubuhnya yang berbaring di sampingku sedikit menegang. Selalu seperti itu jika aku mulai menanyakan apa arti diriku di hatinya. Kulihat dia memejamkan matanya sejenak, lalu membuka kedua matanya, dan tersenyum ke arahku.

"Tentu saja aku mencintaimu."

Aku menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan. "Kalau begitu, menikahlah denganku."
Lamaran itu bukanlah lamaran pertama yang terucap dari bibirku padanya. Namun Liana selalu menolaknya dengan halus. Sama seperti malam ini. Perlahan dia mulai membebaskan tangannya dari genggamanku.

"Maaf," katanya. "Aku tidak bisa, Dafa." Kedua matanya mulai berkaca-kaca, sampai sebutir air mata lolos mengalir di sepanjang pipi ranumnya. "Aku tidak bisa," katanya lagi. "Maaf, aku tahu aku yang salah. Aku—aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Maaf, mulai saat ini aku tidak akan meneruskan hubungan ini." Perlahan dia bangkit, memungut pakaiannya yang berserakan di bawah tempat tidur, mulai memakainya secara tergesa.

Ingin rasanya aku membiarkannya pergi. Aku pun ingin diakui, jika dia tidak bisa memberikan cintanya padaku, mungkin lebih baik jika semua hubungan ini diakhiri. Aku juga adalah seorang pria yang memiliki harga diri dan rasa bersalah. Namun tetap saja, aku tidak bisa. Sekeras apa pun aku mencoba mengakhiri semua ini, pada akhirnya aku akan menahannya, memeluknya dari belakang, mengecup pucuk kepalanya dengan penuh cinta dan damba. "Maaf, maafkan aku, Ana. Aku tidak akan memaksamu."

Aku sadar aku bodoh, tolol, pria tidak tahu diri, atau apa pun cacian dan makian yang cocok dilontarkan terhadapku. Namun itu semua tidak bisa merubah kenyataan bahwa aku sangat mencintai Liana. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kami. Terlepas dari statusnya sebagai istri orang, Liana adalah wanita yang kuidam-idamkan. Dia adalah sosok wanita yang kuinginkan sebagai pelabuhan terakhirku, wanita yang menemaniku hingga aku tutup usia, wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku terlalu mencintainya dan sudah terjerat terlalu kuat, hingga jika ikatan itu putus, sama artinya dengan mati.

Kadang aku berpikir apa artiku di hatimu, Liana? Apa aku hanyalah sebagai pelarian dari kehidupan rumah tanggamu yang tidak harmonis? Apa aku hanyalah sebuah alat yang bisa kau gunakan sebagai pemuas kebutuhan fisikmu? Tapi mata hatiku sudah tertutup oleh cinta abstrak yang ditawarkannya padaku. Aku tidak peduli apa aku di hatinya. Aku mencintainya, dia bersamaku, itu cukup. Benar jika orang bilang cinta itu buta.

Malam itu hujan turun rintik-rintik. Aku sedang menonton televisi di apartemenku saat kudengar bunyi bel bersahut-sahutan dengan rintik hujan di luar sana. Aku berlari melintasi ruang tengah apartemenku, menuju pintu masuk. Aku cukup terkejut melihat Liana berdiri di depan apartemenku. Biasanya Liana selalu memberitahuku terlebih dahulu sebelum datang. Rambutnya sedikit basah.

Aku merasa ada yang berbeda dengannya malam ini. Malam ini Liana nampak lebih cantik dari biasanya. Entahlah, aku sulit mendeskripsikannya dengan baik. Yang jelas, wajahnya lebih bersinar dari biasanya.

"Ada apa?"

"Kau tidak senang aku ke sini," katanya, sambil tertawa kecil.

Aku membalas tawanya dengan senyum tipis, tanganku memainkan rambutnya. Aku menyelipkan anak rambutnya di balik telinganya, kegiatan rutinku jika bertemu dengannya. Biasanya, Liana akan tersenyum tulus ketika aku melakukan kegiatan rutin itu, tapi yang kini kudapatkan adalah sebuah senyuman kikuk yang sedikit dipaksakan.

"Aku hamil."

Aku diam. Diriku masih mencoba menangkap dengan jelas maksud dari perkataannya. Tiba-tiba saja bayangan diriku sedang menggendong bayi laki-laki yang sehat menyeruak ke permukaan. Aku tersenyum tipis, menariknya dalam dekapanku.

Liana sedikit terkejut dengan responsku. Aku bisa merasakan dari gerak tubuhnya dalam dekapanku. Awalnya kupikir dia akan senang dengan responsku, ternyata aku salah. Setelah dirinya terbebas dari dekapanku, dia menatapku dengan tatapan lirih.

"Maaf—maafkan aku, Dafa. Kupikir lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini."

"Tapi, tapi kau hamil, Ana," kataku.

"Justru karena aku hamil, Dafa. Aku tidak mungkin meneruskan hubungan kita, sementara kini di rahimku ada buah cinta dariku dan ..."

Aku tahu aku tidak akan pernah ingin mendengar lanjutan perkataannya.

"... suamiku."

Aku tertawa sarkastik. "Tapi bayi itu bisa saja anakku, darah dagingku, Liana."

Dia mulai menangis sesenggukkan. "Ya, kau benar, Dafa. Bayi ini mungkin saja adalah anakmu."

Hatiku miris mendengarnya mengatakan kata anakmu. Kenapa harus anakku atau anakmu? Kenapa kau tidak mengatakan anak kita, Liana? Apa selama ini kemesraan dan kasih sayang yang kita habiskan bersama hanyalah sebuah kebohongan?

"Karena itu, aku mohon, izinkanlah anak ini tetap menjadi anakku ... dan suamiku."

Aku bagai tersambar petir ketika mendengar perkataannya.

"Karena bagaimana pun, aku masih berstatus sebagai istri orang. Kumohon, Dafa. Dengan adanya anak ini, kuharap hubunganku dengan suamiku bisa diperbaiki."

Aku tidak lagi mendengarkan semua perkataan yang diucapkannya. Hatiku mati rasa. Semudah itukah? Semudah itukah perkataan yang begitu menyakitkan hatiku keluar dari bibirnya? Bibir yang selalu menggumamkan kata mencintaiku di sela-sela percintaan kami, kini begitu tega menyakitiku segini dalam. Semudah itukah, Ana?
.
.
Sudah dua hari sejak Liana mengatakan bahwa lebih baik kami mengakhiri hubungan kami berlalu. Semenjak itu pula dia tidak pernah menghubungiku. Begitupun sebaliknya, aku tidak ingin menghubunginya.

Aku mulai berpikir. Seharusnya aku sadar, selama ini Liana tidak pernah mencintaiku. Cintanya hanya untuk suaminya. Dia lari ke pelukanku hanya didorong rasa keputusasaannya terhadap behtera rumah tangganya yang hampa. Selama ini aku hanyalah pelariannya, orang yang menampung keluh kesahnya, memuaskan fisik dan batinnya yang tak pernah dihangatkan oleh suaminya. Cintaku hanya borok besar yang selalu berusaha ditutupinya. Berbeda dengan cintanya pada suaminya yang selalu dicurahkannya dengan tulus.

Maka dari itu, mulai malam ini aku akan melepaskannya. Biar saja dia bahagia dengan pilihannya. Maka aku akan bahagia dengan pilihanku. Jika dia bisa bahagia dengan suaminya, maka aku pun harus bisa bahagia dengan hidupku sendiri. Aku sudah memberikan pilihan padanya. Dan dia memilih untuk pergi meninggalkanku. Maka kini aku pun akan pergi dari kehidupannya. Aku sekarang merasa semakin jijik pada diriku sendiri. Aku harus melakukan perubahan. Itu dimulai dari keputusanku untuk meninggalkan kota ini.

Aku mulai berkemas. Semua barang-barang yang kukemas sudah siap untuk kubawa. Aku sudah memutuskan untuk pergi malam ini juga. Hujan di luar sana menambah efek dramatis pada keputusanku untuk meninggalkan kota ini. Suara bel di pintu apartemenku membuaku mengalihkan pandanganku dari barang-barang yang sudah kukemas. Rasanya seperti deja vu. Aku melihat Liana berdiri di depan pintu apartemenku dengan pakaian hampir basah kuyup.

"Ada apa?"

Aku berusaha menahan diriku sendiri untuk tidak menyelipkan anak rambutnya yang basah ke balik daun telinganya. Aku pun berusaha mati-matian tidak menarik tubuhnya yang gemetar karena kedinginan dalam dekapanku.

"Apa—apa kau masih mencintaiku?"

Aku tertawa dingin. Setelah sekian lama aku yang selalu melontarkan pertanyaan itu, kini dirinyalah yang menanyakan hal itu padaku. Aku tidak bisa mengelak, dalam hati kecilku tumbuh asa bahwa akhirnya penantianku selama ini terbalas. Mungkin jika dia datang sebelum malam ini, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka. Aku akan memeluknya, menciumnya, dan mencumbunya dengan mesra sambil membisikkan kata aku mencintaimu.

"Bukankah tidak penting jika aku mencintaimu, karena suamimulah yang kau cintai."

Liana menangis. "Suamiku mengusirku dari rumah. Ternyata, dia ... dia mandul. Dia mengusirku setelah tahu bahwa aku sedang hamil. Aku ... aku ..."

"Kembalilah pada suamimu, katakanlah kau mencintainya. Mungkin dia akan memaafkan dan menerimamu kembali."

Aku tidak percaya aku bisa berkata sekasar itu padanya.

"Dafa...."

Aku melangkah pergi meninggalkannya. Seiring dengan hujan yang turun semakin deras, aku pergi meninggalkannya. Jika saja dia menyadari keberadaanku selama ini, jika saja dia tidak menyakiti hatiku terlalu dalam, mungkin aku akan kembali padanya. Dulu aku selalu bertanya apa arti aku di hatimu? Sekarang aku tahu, kau selalu ada di hatiku, tapi aku tidak pernah ada di hatimu.
.
.
Selesai