Selasa, 26 Februari 2013

Ingatan Masa Lalu


Masa lalu pun berulang, Jehan kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa sampai mati akhirnya terwujud. Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan, sampai dia tak bisa lagi melihat selain apa yang memang seharusnya dilihat dari balik dinding.

Ingatan Masa Lalu
.
.
Sepasang kaki itu melangkah pelan di antara sebaran daun-daun yang gugur. Si pemilik kaki kadang menghentikan langkahnya dan mendengarkan kicauan burung-burung yang tertangkap telinganya. Kemudian dia ikut bersenandung kecil, sambil sesekali mengumbar senyum ke arah rumah kecilnya yang sudah tampak di depan mata. Tangannya hampir mencapai pagar, ketika tepukan pelan mendarat di bahunya. Tubuhnya sedikit menegang. Raut keterkejutan terpeta jelas di wajahnya. Kilasan seseorang yang pernah hadir di kehidupannya beberapa tahun lalu membuat kedua matanya membuka lebar. Akan tetapi keterkejutan itu berangsur pulih saat melihat siapa yang yang menepuk bahunya.

"Ada apa? Wajahmu terlihat pucat?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Kupikir kau baru pulang besok, Thomas."

Thomas tertawa renyah. "Tidak kangen padaku?"

Yang ditanya hanya tersenyum kecil, sambil membuka pagar rumahnya, dia mempersilakan Thomas masuk. "Rupanya dinas ke luar kota menambah kamus rayuanmu."

Thomas masuk, mengekori si pemilik rumah sampai ke dalam pekarangan, lalu menutup pintu pagar yang tadi dibiarkan terbuka oleh si pemilik rumah. "Bagaimana kabarmu? Sudah seminggu kau tidak mengabariku. Apa kau melupakanku, Sayang?"

Yang dipanggil sayang hanya menolehkan kepalanya, tertawa kecil, kemudian menghampiri Thomas yang berada dua langkah di belakangnya. Didekatkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu. Usia Thomas tiga puluh tahun. Wajah pemuda itu memang ganteng. Belum lagi postur tubuhnya yang kekar dan kulit tan-nya yang semakin menambah kesan 'laki-laki' pada dirinya. Tak heran jika gadis yang kini sedang berada di hadapannya, yang tersenyum lembut, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu begitu tergila-gila padanya. "Menurutmu?"

Thomas tersenyum lebar. Dia menjawil pucuk hidung sang penanya. "Kau semakin nakal setelah kutinggal pergi, Jehan."

Jehan tertawa kecil, melepaskan kalungan tangannya di leher Thomas. "Aku mau mandi dulu. Kau tunggulah dulu di ruang tengah."

"Ah, seandainya aku boleh ikut,” canda Thomas. Dia berpura-pura memasang wajah kecewa, tapi gagal karena dia tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.

Jehan melempar tatapan tajam. Namun sesaat kemudian tertawa kecil. "Coba saja kalau berani."
Setelah jauh dari pandangan Thomas, wajah Jehan yang tadinya menampilkan keceriaan kini berubah menjadi murung luar biasa. Seakan ada beban berat di pundaknya, dia bersandar di dinding. Kedua matanya terpejam. Beberapa kejadiaan dalam satu bulan ke belakang membuatnya bergidik ngeri.

Dulu Jehan pernah sekali melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Pada saat usianya masih hinggap di angka sembilan belas tahun, dia kabur bersama pemuda yang dia pikir dicintainya setengah mati. Kedua orang tuanya menentang habis-habisan hubungan mereka. Pemuda itu bagi keluarga Jehan hanyalah pemuda urakan, miskin, dan tak punya masa depan untuk menghidupi dan membahagiakannya. Namun bagi Jehan, pemuda itu adalah cintanya. Jehanaya Friyani jatuh cinta setengah mati pada pemuda itu.

Maka berbekal cinta yang mereka pikir bisa membawa mereka pada kebahagiaan meski ditentang banyak pihak, keduanya memutuskan untuk kabur dan hidup bersama. Kenyataannya Jehan tidak salah. Pemuda itu memang benar-benar mencintai dan menyayanginya. Satu tahun hidup bersama, tanpa status pernikahan, membuktikan cinta pemuda itu pada Jehan bukanlah isapan jempol semata. Namun Jehan melakukan satu kesalahan fatal yang membuat pemuda itu berbalik membencinya.

Jehan adalah pribadi otonom yang menyukai kebebasan. Semenjak tinggal bersama dengan pemuda pilihannya, dia merasa lama kelamaan dia mulai kehilangan kebebasannya. Tak ada lagi seminar-seminar, yang mampu menampung kebebasan berpendapatnya, yang bisa dihadirinya; tak ada lagi kegiatan-kegiatan, yang bisa menggali potensi dalam dirinya, yang bisa diikutinya.
Sang kekasih selalu mengekangnya, melarang Jehan melakukan semua itu. Dalihnya adalah agar keberadaan mereka tak sampai terdeteksi oleh kerabat dan keluarga Jehan. Jehan pun sadar apa yang dikatakan kekasihnya benar. Mereka hidup dalam pelarian. Namun hati kecilnya pun tahu, tak sepenuhnya alasan itu benar. Karena meski mereka tak hidup dalam pelarian, Jehan yakin kekasihnya itu tidak akan membiarkannya meraih kebebasan itu.

Jehan cukup, tidak, Jehan sangat mengenalnya. Sisi protektif pemuda itu kelewat batas. Baginya Jehan cukup diam di dalam rumah, mencintai dan dicintainya. Jehan tak perlu berhubungan dengan dunia luar. Cukup hanya ada aku dan kamu, maka tak perlu kata dia dan mereka. Hal yang dulu dianggapnya sebagai hal paling romantis, kini berbalik mencekiknya.

Pemuda itu memonopolinya. Dia mengekang kebebasan Jehan. Sejak pertama mengenal pemuda itu, baru kali ini Jehan merasa menyesal mencintai dan hidup bersamanya. Malam itu Jehan gelisah dalam tidurnya.

Jehan membuka kedua matanya. Kilasan hidupnya dulu membuat rasa takut kembali menyergapnya. Sudah lama Jehan berusaha melupakan satu babak dalam hidupnya itu. Semenjak memutuskan untuk pergi meninggalkan pemuda itu, Jehan berusaha lepas dari ingatan-ingatan kebersamaannya dengan si pemuda. Namun beberapa bulan ini ingatan itu malah semakin jelas dan muncul ke permukaan.

Mencoba mengabaikan perasaan kebas yang mendadak menjalari hatinya, Jehan kembali pada niat awalnya, mandi. Jehan memejamkan matanya ketika menikmati guyuran air pada kepalanya. Lagi-lagi ingatan itu menyeruak ke permukaan.

Jehan mencintai kekasihnya, itu jelas. Pun kekasihnya yang mencintainya setengah mati. Jehan bisa merasakan itu. Namun kekangan akan kebebasannya membuat Jehan perlahan-lahan memupuk rasa hambar di hatinya, berusaha mengalahkan perasaan cinta yang menggebu-gebu yang dulu dirasakannya pada kekasihnya. Jehan tidak bisa begitu saja meninggalkan pemuda itu. Jehan tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan pemuda itu. Dia tidak setega itu. Atau malah sebenarnya apa yang dilakukannya itu lebih dari sekadar tega?

Semakin lama keinginan Jehan untuk berpisah dari kekasihnya semakin menguat. Dia kadang berpikir, andai saja dulu dia menuruti perkataan orang tuanya. Mukin dia masih bisa merasakan kebebasan. Jehan masih muda. Masih banyak sisi dunia yang belum dijumpainya. Masih banyak keinginannya yang belum terpenuhi.

Dulu dia berpikir, karena merasa dirinya adalah seorang pribadi otonom, maka dia berhak pergi dan hidup bersama pemuda pilihannya meski tanpa restu keluarganya. Kini dia menyesal. Justru pemuda itulah yang kini merenggut semua hak-haknya sebagai seorang pribadi otonom. Jehan mungkin bisa menentang pemuda itu, sama seperti dia menentang kedua orang tuanya. Namun dia sadar, meski kekasihnya itu begitu lembut dan perhatiaan, tapi pemuda itu juga memiliki kekejaman yang bisa Jehan rasakan dari setiap tatapan mata pemuda itu.

Jehan tidak buta dan juga tidak tuli. Saat belum memutuskan untuk hidup bersama, beberapa kali Jehan mendengar bahwa kekasihnya itu pernah memukuli sampai sekarat seorang pemuda yang katanya menaruh hati padanya. Dulu dia menganggap itu adalah bentuk cinta yang dalam kekasihnya pada dirinya. Namun kini perlahan-lahan kekejaman pria itu menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya. Meski tidak pernah menyiksanya secara fisik, tapi Jehan bisa merasakan kekejaman sang kekasih meski hanya lewat tatapan mata.

Tubuh Jehan bergidik ngiri. Dengan segera dibukanya kembali kedua matanya. Napasnya memburu, kilasan masa lalunya seakan mengejarnya tanpa ampun. Mencoba menetralisir kegelisahan dalam hatinya, Jehan menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya secara perlahan.

Jehan menyudahi mandinya dengan cepat. Saat keluar dari kamar mandi kamarnya, dia sudah melihat Thomas duduk di tepi tempat tidurnya. Pemuda tampan itu tampak fokus menonton siaran televisi yang menampilkan sekilas info mengenai kejadian-kejadian kriminal yang marak terjadi saat ini.

"Kau sudah selesai?"

Jehan mengangguk kecil, dia menuju lemarinya, memilih gaun tidur kesukaannya yang berwarna ungu muda dengan aksen bunga-bunga kecil pada tepinya.

Jehan kembali ke dalam kamar mandi. Meski pernah beberapa kali berhubungan intim dengan 
Thomas, walaupun mereka belum terikat dalam pernikahan, tapi tetap saja Jehan kadang merasa risih jika harus meloloskan pakaian yang dikenakannya di hadapan pemuda itu. Bukan hanya karena tatapan penuh gairah milik Thomas yang seolah menelusuri setiap lekuk tubuhnya, yang membuatnya merasakan gairah sensual yang membakarnya, tapi juga karena sesuatu dalam tatapan kedua mata biru langit itu mengingatkannya pada tatapan seseorang dari masa lalunya.
Selesai mengenakan gaun tidurnya, Jehan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kali ini televisi sudah dimatikan. Kesunyian melanda. Thomas kini sedang membaca buku sambil berbaring di satu sisi tempat tidur. Kacamata baca bertengger di hidungnya. Matanya melirik Jehan yang perlahan menyusup ke balik selimut yang tadinya hanya menutupi sampai ke pinggang Thomas; dada bidangnya dibiarkan terbuka tanpa atasan.

Thomas meletakkan buku yang dibacanya pada meja kecil di samping tempat tidur, mencopot kacamatanya yang kemudian diletakkannya di atas buku itu.

"Ada apa?"

Jehan diam. Dia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari Thomas. Maka dia memilih hanya membalikkan posisinya ke arah Thomas, sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

"Kau terlihat seperti memikirkan sesuatu, Sayang."

Jehan menatap ke dalam kedua mata Thomas yang sedang memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Akhir-akhir ini dia memang sedang memikirkan sesuatu. Kejadian-kejadiaan yang terjadi selama sebulan ini, tepat saat Thomas pergi dinas ke luar kota, begitu mengganggunya. Kenangan-kenangan yang sudah jauh-jauh ditanamnya ke dasar ingatannya malah semakin hari semakin gencar naik ke permukaan.

"Kau tidak ingin bercerita padaku?"
Jehan ragu sesaat, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan masa lalu yang pernah membelenggunya pada Thomas. Thomas adalah satu-satunya pemuda yang mampu membuatnya kembali merasakan cinta selain pemuda dari masa lalunya yang kini tak jelas rimbanya.

***

Malam itu kegelisahan Jehan semakin meningkat. Sudah beberapa hari pemuda yang hidup bersama dengannya dalam pelarian tidak kunjung pulang. Meski keinginan Jehan untuk berpisah semakin lama semakin kuat, tapi Jehan tidak bisa menampik bahwa sisi lain hatinya masih menyimpan rasa hangat yang begitu besar pada pemuda itu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika suara pintu depan yang terbuka mengganggu pendengarannya. Dengan tergesa Jehan turun dari tempat tidurnya, setengah berlari menuju ruang depan. Napasnya tercekat saat melihat kondisi kekasihnya yang berlumuran darah.

"Astaga, Tuhan! Apa yang terjadi padamu?!" seru Jehan. Dia berlari menuju kekasihnya, mengusap darah yang mengalir dari kening sang kekasih.

Kedua mata pemuda itu terpejam, menikmati sentuhan hangat Jehan di keningnya. Rasa bahagia membanjiri relung hatinya. Satu-satunya wanita yang dicintainya begitu mengasihinya. Dia membuka kedua matanya secara perlahan, menangkap jemari Jehan yang masih mengusap darah di keningnya.

"Aku tidak apa-apa, Jehan." Pemuda itu berusaha tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa. Asal kau di sampingku, aku tidak apa-apa."

Hati Jehan mencelos mendengar apa yang diucapkan kekasihnya. Jehan sadar dengan segenap hatinya bahwa pemuda di hadapannya ini begitu mencintainya. Setitik ragu muncul kembali di hatinya. Dia tidak mungkin bisa meninggalkan pemuda yang begitu mencintainya. Namun di saat kesempatan untuk meninggalkan pemuda itu muncul, Jehan tidak bisa menolak begitu saja.

Kesempatan itu datang ketika sang kekasih menceritakan pekerjaan apa yang dilakukannya demi menopang kehidupan mereka selama ini. Kala itu, jantung Jehan nyaris berhenti saat mengetahui bahwa kekasihnya bekerja sebagai kurir obat-obatan terlarang. Jehan secara keras melarang kekasihnya melanjutkan pekerjaan itu. Namun sang kekasih pun bersikeras mempertahankan pekerjaannya demi penghasilan untuk menopang kehidupan mereka.

"Tidak, jangan lakukan itu lagi!" Jehan melirik jendela rumah kecil yang mereka huni, takut-takut jika ada tetangga mereka yang menguping pembicaraan mereka. Dia bergegas mengunci jendela dan menutup tirainya.

"Sayang, mengertilah. Aku tidak apa-apa, aku hanya bertindak sebagai kurir, aku juga bukan pemakai. Aku-"

"Stop! Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Aku bisa menerima pekerjaanmu, apa pun, asal jangan bertentangan dengan hukum." Jehan berkata lemah, "Please..."

"Sayang, mengertilah. Dengan pekerjaan ini aku bisa mengumpulkan banyak uang, kita bisa membiayai kebutuhan kita sehari-hari. Bahkan aku bisa menabung untuk biaya pernikahan kita nanti."

Jehan mendekap mulutnya dengan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.

"Aku ingin membahagiakanmu, Sayang."

Si pemuda menurunkan tangan Jehan dari mulut gadis itu, kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Percaya padaku, aku, tidak, kita akan baik-baik saja."

Namun Jehan tidak bisa membiarkan ini semua terjadi begitu saja. Dia mencintai kekasihnya, tapi dia tidak bisa menerima pekerjaan sang kekasih. Maka dengan berat hati, Jehan sendirilah yang menjebloskan kekasihnya ke balik jeruji besi.

Sang kekasih murka luar biasa. Kekecewaan berat melanda hatinya. Kebencian mulai melata di hatinya ketika satu-satunya wanita yang dicintainya justru menjebloskannya ke dalam sel tahanan. Dia bersumpah, Jehan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dia akan mengejar Jehan sampai ke mana pun. Tak akan ada tempat bagi Jehan untuk pulang, kecuali ke dalam dekapannya. Sumpah yang akan dibawanya sampai mati.

Dengan ditahannya sang kekasih, Jehan kembali ke dalam pelukan keluarganya. Sebagian hati kecil Jehan merasa sakit. Dia telah mengkhianati kekasihnya sendiri. Meski kalimat-kalimat pembelaan, bahwa dia melakukan itu semata-mata agar sang kekasih menyadari kekeliruannya, terus dia tanamkan dalam hatinya, tapi Jehan tidak bisa menyangkal bahwa sisi lain hatinya bersorak karena akhirnya dia bisa lepas dari belenggu kekasihnya.

***
Thomas membelai lembut sisi wajah Jehan. "Tenanglah," katanya. "Itu semua sudah berakhir."
Jehan menggeleng lemah. "Tidak, itu semua belum berakhir. Dia ... dia masih ada, Thomas."

***
Jehan merasakan kedamaian hidup selama dua tahun setelah kekasihnya resmi dibui. Dia memulai hidupnya seperti dulu, mengaktualisasikan dirinya seperti apa yang dikehendakinya selama ini. Jehan bahagia. Meski ada rongga kosong di sudut hatinya, dia percaya suatu saat nanti akan ada pemuda yang mengisi kekosongan itu.

Pemuda pertama adalah Alfa, teman sepermainan Jehan sejak kecil. Salah satu sahabat Jehan yang melarang hubungannya dulu. Hubungan Jehan dengan Alfa semakin dekat. Bahkan beberapa kali mereka sepakat untuk melakukan kencan. Namun itu semua harus terhenti di tengah jalan ketika Jehan mendapat surat kaleng tepat setelah dia pulang kencan dengan Alfa.

"Dear Jehan kekasihku tercinta,
Aku tahu kau telah melupakanku. Kau mengkhianati cintaku. Kau jatuhkanku dalam lubang dalam yang sulit untuk kutembus. Namun kau lupa satu hal, Sayang. Kau lupa bahwa aku akan selalu kembali padamu. Sekeras apa pun kau menghindariku, aku akan kembali datang padamu. Begitu pula denganmu. Kau akan kembali padaku. Karena hanya akulah tempatmu kembali. Maka jangan sekali-kali kau berani menjalin hubungan dengan pemuda lain. Atau hanya ada dua pilihan. Kau atau dia yang menemaniku di neraka.
Dari kekasih yang kaukhianati,
A"

Tubuh Jehan menggigil. Dia tahu, dia telah kembali. Jehan tidak akan bisa melupakan tulisan tangannya. Tulisan yang tercetak jelas di surat ancaman yang dikirimkan padanya.

***

Thomas mendekap erat tubuh Jehan. Dilepaskan dekapannya saat mendapati keadaan Jehan berangsur tenang. "Tenanglah, ada aku."

Jehan mengangguk lemah. "Tapi dia kembali, Thomas."

Thomas menautkan kedua alisnya. "Bukankah kau bilang sudah lama dia tak lagi mengganggumu?"
Jehan mengangguk. Pandangan matanya jatuh pada cermin yang tergantung di dinding di belakang Thomas. Bayangan seorang gadis bermata coklat menatapnya langsung. "Tapi dia kembali Thomas, dia ... dia berada di dekatku, di dekat kita, aku bisa merasakan keberadaannya." 

Suara Jehan bergetar. Matanya terpejam, berusaha menghalau laju seraut wajah yang kini memenuhi pikirannya.

"Dari tadi kau tidak menyebutkannya, siapa nama pemuda itu, Sayang?"

Kedua mata Jehan terbuka. Pantulan bola mata biru langit itu balas menatapnya. "Alfred, namanya Alfredo Harsen."
.
.
.
Hampir seharian ini Jehan membereskan rumahnya. Semenjak tinggal terpisah dari orang tuanya, Jehan mulai melakukan segala urusan rumah tangga sendiri. Mulai dari mencuci baju sampai dengan urusan di dapur. Sehubungan dengan kegiatannya yang cukup sibuk sebagai ahli dermatologi di salah satu klinik terbesar di Surabaya, Jehan hanya sempat membersihkan rumahnya di kala libur seperti hari ini.

Seprai dan baju-baju kotor sudah dicuci dan dijemur di halaman belakang. Seluruh ruangan di dalam rumah sudah disapu dan dipel sampai bersih. Jehan tinggal membersihkan diri untuk kemudian bersantai sejenak. Namun langkah kakinya menuju kamar mandi di kamarnya terhenti saat mendengar suara-suara ganjil dari arah gudang belakang.

Awalnya Jehan mengira itu hanya suara barang bekas yang jatuh dari susunannya. Jehan ingat minggu lalu dia menyusun kotak-kotak hingga barang-barang bekas di dalam gudang dengan asal. Mungkin salah satu dari benda itu jatuh. Namun suara itu terulang lagi. Jehan memutuskan untuk menengok barang sebentar ke gudang, memastikan apa yang terjadi di sana.

Sesampainya di depan pintu gudang suara itu tiba-tiba menghilang. Jehan batal membuka pintu gudang, tapi ketika Jehan berbalik, suara itu muncul lagi. Maka tanpa ragu lagi Jehan memutar kunci dan membuka pintu gudang itu.

Suasana di dalam gudang tampak baik-baik saja. Bahkan susunan barang bekas yang disusun Jehan minggu lalu tak berubah banyak, tak ada barang yang jatuh, seingat Jehan. Namun sesuatu yang mengenai punggung kakinya yang telanjang membuat Jehan menjerit dengan keras.

Kerangka manusia yang berlumuran darah ada di hadapannya. Jehan jatuh terduduk di lantai, tepat di depan pintu gudang. Dia ingat dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak punya kerangka manusia yang sering digunakan di sekolah-sekolah sebagai alat bantu pada pelajaran biologi. Lalu siapa yang meletakkan kerangka itu di dalam gudangnya?

Jehan memandang ngeri ke arah kerangka berlumuran darah itu. Tampak secarik kertas menyembul di sela-sela bagian tangan kerangka itu. Jehan ragu-ragu menarik kertas itu, membacanya dengan cepat.

'Aku kembali, Sayang.'

Jehan melempar kertas itu. Matanya memandang gelisah ke kiri-kanannya. Seolah-olah sosok pemuda masa lalunya itu akan muncul dengan tiba-tiba di sekitarnya. Seakan kengerian yang ditimbulkan kerangka dan surat itu belum cukup, kini Jehan mendengar derap langkah kaki yang mendekatinya.

Jehan bergegas bangkit, berusaha secepat mungkin ke luar dari rumahnya. Terus berlari, sambil berusaha menghubungi Thomas dengan ponsel yang tadi disimpannya di dalam sakunya.

'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan kami.'

Jehan berkali-kali mencoba menghubungi Thomas, tapi nihil. Lagi-lagi pesan dari operator yang didapatnya. Dia terus berlari, sedikit lagi dia sampai di pintu depan rumahnya. Jika tiba di luar, dia bisa berteriak jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, dan dia pikir orang-orang di jalan atau tetangga-tetangganya kemungkinan akan mendengar teriakannya. Namun belum sempat tangannya mencapai pintu, satu sosok muncul dengan tiba-tiba dari ruang di sebelah kanan pintu depan.

Alfredo Harsen menyeringai menatap ketakukan yang terpancar dari wajah jelita di hadapannya.

"Aku kembali, Sayang!"

Jehan seperti lupa bagaimana caranya berteriak. Yang dia ingat adalah tatapan mata yang penuh dengan kebencian sekaligus pemujaan yang mendalam, sebelum kegelapan menyelimutinya.
.
.
.
Kedua mata Jehan terbuka dengan perlahan. Samar-samar dia melihat ada gerakan di depan matanya.

"Sudah bangun, Sayang?"

Bagai disengat listrik, tubuh Jehan mengejang. Dia bangkit, menatap ngeri pada sosok di hadapannya. Namun sedetik kemudian dia membelalakkan kedua matanya. "Tidak, tidak mungkin."
Sosok yang kini ada di hadapannya bukan Alfred, melainkan Thomas.

"Ada apa, Sayang?"

"Di mana? Di mana dia?" cecar Jehan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan gelisah.

"Dia?" Thomas tampak bingung.

"Alfred, dia ... dia ada di sini, Thomas..."

Thomas menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan, lalu kembali kepada Jehan.
 "Dengar, tidak ada siapa-siapa di sini, Sayang. Kau hanya bermimpi." Thomas duduk di tepi tempat tidur, menempatkan dirinya di sebelah Jehan. "Saat aku tiba, kau sudah terlelap di sini. Kau pasti kelelahan membereskan rumah sampai-sampai kau ketiduran dan bermimpi buruk."

Jehan menggeleng liar. "Tidak. Aku tidak bermimpi, Thomas. Dia ada di sini," Jehan bersikukuh mempertahankan ingatannya. "Kerangka, surat, gudang, ya, kau harus melihatnya, Thomas. Kerangka itu, surat itu, kita harus ke gudang, Thomas!"

Jehan mencengkram pundak Thomas. Matanya menyiratkan ketakutan. Dia butuh seseorang di sampingnya. Dia membutuhkan Thomas.

Thomas tampak tidak memercayai apa yang baru saja dikatakan Jehan. Namun dia tidak ingin membuat gadis itu semakin gelisah. Maka diturutinya keinginan Jehan.

Mereka bergegas bangkit dan berjalan menuju gudang. Sesekali Jehan melirik kanan-kirinya, takut-takut jika tiba-tiba sosok Alfred muncul menyerangnya dan Thomas. Namun sampai di depan gudang belakang, sosok itu tak lagi muncul.

Pintu gudang tertutup rapat, dengan kunci masih bertengger di lubang kunci. Jehan memang mempunyai kebiasaan tidak mencopot kunci gudangnya. Perlahan-lahan Thomas membuka pintu gudang. Daun pintu yang membuka ke arah luar membuat mereka dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam gudang. Kotak-kotak dan tumpukan barang bekas tersimpan secara wajar di dalam gudang, tak ada yang mencurigakan, bahkan kerangka, dan surat yang tadi dikatakan Jehan sama sekali tak ada di dalam gudang.

Jehan membekap mulutnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin," katanya dengan lemah. "Aku bersumpah semua yang baru saja terjadi itu nyata, Thomas." Dia menatap kedua mata Thomas, meminta kepercayaan pemuda itu.

Thomas tampak serbasalah. Bukannya tidak memercayai Jehan, tapi perkataan Jehan tidak masuk diakal. Itu semua lebih seperti manifestasi akan ketakutannya yang berlebihan terhadap sosok Alfred.

"Aku percaya padamu, tapi kali ini kauharus percaya padaku, Jehan," kata Thomas tegas. "Kau hanya kelelahan. Dan untuk masalah Alfred, aku berjanji tidak akan ada lagi sosok Alfred. Aku akan terus berada di sampingmu, maka sosok itu tidak akan lagi mengganggumu. Kau percaya padaku, 'kan?"

Thomas menyentuh dahi Jehan dengan dahinya sendiri. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Jehan. Dibawanya tangan itu menuju dada bidangnya.

"Aku mencintaimu, Jehanaya Friyani. Maukah kau menjadi istriku?"

Jehan tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ketakukan masih melanda hatinya. Namun di bawah tatapan penuh cinta Thomas, yang disiratkan dari kedua bola matanya yang berlumuran rasa cinta, Jehan tak sanggup mengatakan kalimat selain, "Aku bersedia, Thomas."

Mungkin hanya permainan cahaya ketika Jehan melihat senyuman Alfred bersarang di sudut bibir Thomas. Bibir yang sedetik kemudian membungkam bibirnya. Masa lalu pun berulang, Jehan kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa sampai mati akhirnya terwujud. Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan, sampai dia tak bisa lagi melihat selain apa yang memang seharusnya dilihat dari balik dinding.
.
.
Thomas membakar sebuah foto yang menyuguhkan kemesraan pemuda berambut hitam legam dengan iris mata berwarna coklat bersama dengan gadis cantik bermata coklat. Dia memandang rambutnya yang berwarna coklat keemasan dari cermin di hadapannya. Cat rambut yang tadi digunakannya masih ada di atas wastafelnya. Iris matanya kini berwarna biru langit, bantuan dari lensa yang dipakainya.

Sosok Alfred begitu berbeda dengan Thomas secara penampilan. Alfred yang berambut hitam dan beriris coklat selalu tampil sederhana, bahkan bisa dibilang tak terurus. Dia tidak mementingkan penampilannya. Rambutnya dibiarkan panjang menggantung sebahu. Pakaian yang dikenakannya pun bukan berasal dari merk-merk ternama. Dia tidak butuh itu semua. Dia hanya butuh Jehan. Kekasih yang dicintainya setengah mati. Namun pengkhianatan Jehan menghancurkannya.

Dia bertekad akan mengejar wanita itu sampai kapan pun dan di mana pun wanita itu berada. Setelah keluar dari bui Alfred mengubah penampilannya habis-habisan. Namanya pun diubahnya menjadi Thomas Ariadi. Butuh waktu lama sampai dia bisa hidup mapan. Dia memangkas pendek rambut dan mengganti warnanya menjadi coklat keemasan. Irisnya pun kini dihiasi lensa berwarna biru langit, menutupi warna asli iris matanya. Tak aka nada yang menyadari bahwa Alfred yang malang adalah orang yang sama dengan Thomas, seorang eksekutif muda yang begitu memikat.

Lalu pencariannya pun memberikan hasil. Di Surabaya, Alfred melihat Jehan ketika wanita itu belanja di super market tak jauh dari kantornya. Jehan masih sama cantiknya dari yang terkahir kali dilihatnya. Wanita itu tumbuh semakin matang. Waktu tidak memadamkan gairah dan hasratnya pada Jehan. Dia pernah bersumpah bahwa Jehan harus kembali padanya. Dan sebentar lagi Jehan akan menjadi miliknya. Selamanya. Ingatan itu membuatnya tersenyum miring.
"Selamat datang Thomas Ariadi dan selamat tinggal Alfredo Harsen."

SELESAI

Kamis, 10 Januari 2013

Menjemput Cinta




an: fiksi ini adalah sebuah fanfiksi yang pernah saya buat, tapi tentu saja di sini sudah saya sesuaikan setting tempat dan tokohnya. :)

Selamat Membaca :)










Menjemput Cinta (Part 1)

"Hey, coba kalian lihat ke belakang," bisik Seli pada Nia dan Ryan.

Wajah Nia memerah ketika menyadari bahwa yang ingin diperlihatkan Seli padanya dan Ryanadalah tiga orang sosok pemuda penghuni jurusan teknik.

Ryan yang penasaran, meletakkan novel yang tadi sedang dibacanya di atas meja kantin, lalu ikut melihat sosok ke arah yang ditunjukkan Seli. Matanya menangkap tiga sosok pemuda yang memiliki ciri khas yang berbeda. Nia sudah jelas memerhatikan Rinto, pemuda jurusan teknik yang sudah lama ditaksirnya, Seli jelas sedang curi-curi pandang pada Dafa, pemuda yang katanya bulan lalu menjadi perwakilan kampus mereka dalam debat nasional se-Indonesia.

Yang jadi perhatian Ryan adalah pemuda sisanya, yang nampaknya baru pertama kali dilihatnya. Biasanya di jam makan siang begini, mereka-lebih tepatnya Seli dan Nia-sengaja mencari tempat di pojok kantin dekat Gedung D, tempat anak-anak jurusan teknik. Katanya sih, view di sini bagus, tapi Ryan tahu dengan jelas, yang dimaksud view itu Rinto dan Dafa. Biasanya mereka hanya berdua, baru kali ini Ryan melihat pemuda berambut hitam kebiruan yang kini nampaknya sedang menikmati makan siangnya dengan tenang.

"Ry, serius banget. Ada apa?"

Ryan baru tersadar, rasanya ia kelewat lama memperhatikan pemuda baru itu. "Nggak, nggak apa-apa." Ryan nyengir. Buru-buru dia kembali meneruskan kegiatan membaca novelnya yang sempat tertunda.

"Eh, si Farell tambah ganteng, ya?" Seli melirik sekilas pada pemuda yang tadi diperhatikan Ryan.

Nia tertawa kecil merespons pertanyaan Seli. "Seli, kau kan sudah naksir Dafa."

Ryan yang tertarik dengan percakapan mereka, mengangkat kepalanya, memandang penuh tanya pada mereka. "Farell itu siapa?"

Seli tertawa dan Nia tersenyum kecil. Merasa tak diacuhkan, Ryan cemberut kecil. "Serius, Farell itu siapa?"

"Tuh, yang lagi makan, yang duduk di samping Rinto-nya Hinata kita yang tersayang ini," kata Seli.

Nia menggerakkan tangannya menyebrangi meja, mencoba mencubit lengan Seli. "Seliii..."
Seli hanya tertawa pelan menanggapinya.

Ryan kembali memutar tubuhnya ke belakang, melirik kembali tiga sosok pemuda yang tadi sempat diperhatikannya. Dafa duduk membelakangi arah pandang Ryan. Sedang Rinto dan pemuda yang bernama Farell itu duduk tepat menghadap ke arahnya. Ryan tersentak ketika menyadari Farell balik memandangnya. Bahkan pemuda itu nampak terusik dengan tatapannya. Mencoba berdamai, Ryan tersenyum ala kadarnya, lalu membalikkan tubuhnya.

"Biasa saja," komentar Ryan.

"Huuu... Farell itu ganteng, Ry. Matamu harus diperiksa tuh," goda Seli. "Banyak loh yang naksir dia. Kabarnya sih cowok jurusan teknik yang paling diincar, ya dia."

"Sok tahu," kata Ryan, bibirnya membentuk senyum kecil.
.
.
.
Dua hari berturut-turut Ryan kembali melihat Farell bergabung di kantin bersama Dafa dan Rinto. Padahal sebelumnya, dia yakin, Farell tidak pernah ada jika Rinto dan Dafa makan di kantin. Tapi sama sekali tidak menjadi masalah baginya.

Dan kali ini menjadi yang ketiga bagi Ryan bertemu dengan Farell, tapi bukan di kantin kampus seperti biasanya melainkan di perpustakaan umum yang terletak di samping kampus mereka.

Farell sedang duduk membaca buku yang dipinjamnya ketika Ryan kesulitan mengambil novel yang terletak di rak paling atas. Farell yang memperhatikannya dari tempat duduknya bangkit, menghampiri tempat Ryan. Pemuda itu membantu Ryan mengambil novel yang ingin dibacanya. Dengan sekali gerakan, novel itu sudah berada di tangan Farell.

"Ini," katanya.

Novel itu kini telah berpindah tangan kepada Ryan. "Trims."

Farell mengangguk kecil, kembali ke tempat duduknya.

Awalnya Ryan ragu mengambil tempat di sebelah Farell. Namun berhubung sudah tak ada lagi tempat yang kosong di seksi itu, mau tak mau, Ryan melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Suara kursi yang ditarik Ryan membuat Farell mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya pada Ryan.

"Maaf," kata Ryan.

Farell menggeleng pelan. "Tidak, tidak apa-apa."

Ryan tersenyum simpul. Gadis berambut sebahu itu kemudian menekuri kegiatan membacanya. Hampir setengah jam ia tenggelam dalam novel yang dibacanya. Tidak sadar bahwa Farell yang duduk di sampingnya kini sedang memperhatikannya. Entah apa yang dilihat pemuda itu, ketika secara perlahan, dia menyunggingkan sebuah senyum kecil.

Ryan yang merasa dirinya sedang ditatap, menolehkan kepalanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah tatapan Farell yang menyambutnya. Sontak gadis itu menjadi salah tingkah. Ternyata diperhatikan itu tidak nyaman, pikirnya.

Ryan hanya diam, tapi sedetik kemudian pemuda itu tersenyum kecil-lebih mirip seperti seringaian. "Sorry, aku hanya penasaran dengan warna namamu."

Sakura menekuk wajahnya. Dia bingung, kenapa semua orang yang pertama kali mengenalnya pasti berkomentar mengenai warna namanya yang seperti nama seorang lelaki, tak terkecuali pemuda yang duduk di sampingnya. Namun dia merasa heran, kenapa Farell bisa tahu namanya? Bukankah mereka belum pernah berkenalan secara resmi.

"Aneh ya?"

"Tidak," tukas Farell. "Unik lebih tepatnya."

Ryan nyengir. "Lumayan, setidaknya unik lebih terdengar keren dibandingkan dengan aneh."

Farell tertawa kecil mendengar jawaban Sakura. Dia mengulurkan tangannya. "Farellio Sandy, kau?"

Ryan nampak sedikit terkejut ketika Farell menglurkan tangannya. Tak ingin membuat Farell kecewa, buru-buru disambutnya uluran tangan Farell. "Ryan, Ryan Aditiana."

"Suka baca?"

Ryan mengangguk kecil. Dia menatap Farell sekilas sebelum kembali berkutat dengan novel yang dibacanya. "Ya, sangat suku." Ryan menatap Farell, "kau?"

Farell mengabaikan buku yang tadi dipinjamnya, dia menatap Ryan sepenuhnya. "Tergantung."

"Maksudnya?"

"Tergantung jenis bacaannya," katanya. "Kalau novel, aku tidak begitu suka."

"Oh," tanggap Ryan. Dia kembali melanjutkan kegiatan bacanya.

"Kakakku yang suka."

"Eh?" Secara refleks Ryan sedikit berseru.

"Sssttt, kau ingin kita diusir?"

Ryan nyengir. "Maaf, oh ya, kakakmu perempuan?"

"Tidak, dia seorang pria."

Ryan nampaknya ingin melanjutkan percakapan mereka, tapi melihat gelagat Farell yang mulai sibuk dengan buku yang dibacanya membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Dia hanya menatap Farell sejenak sebelum kembali menekuri novel yang dibacanya.
.
.
.
Farell belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa kakinya kini melangkah ke arah kamar kakak laki-laki satu-satunya yang dia miliki. Tangan Farell sempat ragu ketika ingin mengetuk pintu kamar kakaknya. Namun toh, dia tetap melaksanakan niatnya.

Merasa ada yang mengetuk pintu kamarnya, Andre berseru dari dalam kamar. "Masuk saja, tidak dikunci."

Terdengar suara derit pintu yang dibuka disusul suara pintu yang ditutup. Farell berdiri di depan pintu kamar Andre, melirik kakaknya yang sedang mengerjakan sesuatu di depan laptop.

"Ada apa?" Andre melirik kecil ke arah Farell. "Tumben ke kamarku." Andre menyesap secangkir kopi miliknya.

"Hn." Farell mengedarkan pandangannya ke arah tumpukan novel Andre di rak buku miliknya. "Aku mau pinjam novel."

Andre nyaris tersedak kopinya ketika mendengar perkataan Farell. "Uhuk, uhuk..."

Farell berjengit risih. "Boleh tidak?"

Andre meletakkan kopinya di atas meja di samping laptopnya. "Tumben, untuk apa?"

"Tentu saja untuk dibaca, memangnya untuk apa lagi?" sahut Farell gusar.

Andre terkekeh kecil, adiknya memang tidak berubah, masih galak dan ketus seperti biasanya. Tapi baru pertama kali Farell meminjam koleksi novelnya, biasanya barang yang pernah dipinjam Farell hanya mobilnya.

"Okey, okey, jangan ngambek. Tuh, kau pilih saja novel apa yang mau kau baca."

Farell berjalan mendekati rak buku Andre. Matanya memindai judul-judul novel yang ada di dalam rak tersebut. Kebanyakan dari novel-novel itu adalah novel tentang cerita kriminal dan detektif, terlihat dari judul-judulnya yang sedikit mengandung kata pembunuhan. Farell mulai bingung memutuskan ingin meminjam yang mana.

"Kira-kira yang bagus apa?"

Andre memutar tubuhnya, dia menatap Farell lekat. "Memangnya kau mau membaca yang seperti apa?" tanyanya. "Percintaan?" Terjadi jeda sebentar. "Atau tentang pembunuhan?"

Farell berpikir sebentar. "Kalau tentang misteri, tapi tetap ada bumbu romance, ada?"

Andre nyaris tergelak mendengar permintaan Farell. "Sejak kapan kau suka novel dengan bumbu romance?"

Farell mendengus kecil. "Berisik," katanya. "Ada atau tidak?"

Andre tidak menjawab, dia bangkit dari duduknya, berjalan menuju rak buku. Tangannya mengambil satu novel dengan judul Tanpa Batas. "Nih, coba saja baca. Kau pasti akan kaget setelah membaca akhirnya."

Farell menatap novel yang kini ada di tangannya. Dia membaca ringkasan cerita di sampul belakang novel itu.

'Untuk gadisku yang kusayangi tanpa batas.
Untuk wanitaku yang kucintai tanpa batas.
Untuk pengantinku yang kusakiti tanpa batas.
Untuk cintaku yang kubunuh tanpa batas.
Untuk semua yang ada pada dirimu yang kulukai dan kugilai tanpa batas.'

"Aku pinjam yang ini."

"Okey," sahut Andre.

Farell melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Andre. Baru saja tangannya menyentuh kenop pintu, suara Andre mengiterupsi gerakannya.

"Oh ya, omong-omong, tokoh utama dalam novel itu bernama sama denganmu."

"Hn?" Farell berbalik menatap Andre.

"Iya, tokoh utama prianya bernama Farell, sedangkan tokoh utama wanitanya bernama Ryan," tutur Andre.

Farell hampir terbelalak mendengar penuturan Andre, namun ditahannya. Hanya dengusan kecil yang keluar dari mulutnya sebelum dia benar-benar keluar dari kamar Andre.

.
.
.
Ryan tidak pernah menyangka bahwa Farell akan menghampirinya di kantin kampus. Namun itulah yang saat ini terjadi, pemuda itu dengan santai berjalan ke arah mejanya yang dihuninya bersama Seli dan Nia.

"Boleh pinjam Ryan sebentar?"

Seli hanya terperangah dengan permintaanFarell. Buru-buru gadis beriris biru langit itu menganggukkan kepalanya. "Tentu."

Nia hanya merespons perkataan Farell dengan sebuah senyuman.

Sedangkan Ryan kini sedang dilanda kebingungan. Untuk apa Farell menemuinya? Tak ingin membuat Farell menunggu lebih lama, gadis itu nyengir ke arah Seli dan Nia sebelum mengikuti Farell ke arah taman belakang gedung D.

Pemuda itu membuka tas ranselnya, mengeluarkan, dan mengulurkan sebuah novel berlatar warna biru gelap dengan ukiran tinta berwarna keperakan untuk judulnya dari dalam tasnya ke arah Ryan.

"Ini," kata Farell.

Ryan menatap novel di tangan Farell dan wajah Farell secara bergantian.

"Untukku?"

"Tidak," jawab Farell singkat.

Ryan menekuk wajahnya, dia pikir Farell akan memberikan novel itu untuknya. Farell tersenyum tipis melihat mimik wajah Ryan.

"Tapi aku meminjamkannya untukmu."

"Serius?"

Farell hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ryan menerima novel dari tangan Farell. Dia membaca judul novel itu, kemudian membaca sekilas ringkasan cerita di sampul belakang novel.

"Wow, sepertinya bagus. Punyamu?"

"Bukan, punya kakakku. Kupikir kau mungkin menyukainya, maka aku meminjamnya untukmu."

Ryan tersenyum kecil. "Trims," katanya. "Kau baik juga."

Farell mendengus kecil. Ryan terkekeh melihatnya.

"Kalau begitu, aku kembali ke kantin lagi, ya," kata Ryan. "Kurasa teman-temanku masih menungguku."

Farell hanya mengangguk affirmatif. Kedua matanya memandangi punggung Ryan yang semakin menjauh. Entah apa yang dia rasakan ketika dia tersenyum tipis, nyaris tak kentara, ketika melihat gadis itu. Rasanya sudah lama dia tidak merasakan hal-hal semacam ini.
.
.
.

Ryan langsung diberondong pertanyaan oleh Seli setibanya dia di kantin. Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan itu berinti sama: sejak kapan dia mengenal Farellio Sandy. Ryan tertawa kecil melihat Seli yang sedikit penasaran.

"Huuu... Katanya tidak suka, Farell tidak ganteng, biasa saja, tapi ternyata diam-diam berhubungan dengannya," goda Seli.

Nia ikut tertawa mendengar godaan Seli.

Ryan mengernyitkan alisnya. "Apaan sih, Sel~! Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Farell," jelas gadis itu sambil menyeruput jus alpukat miliknya.

"Aku tidak percaya," kata Seli. "Jelas-jelas tadi Farell menghampiri kita, lalu dia bilang, dia ingin meminjammu sebentar. Uh, itu sih lebih dari cukup untuk disamakan seperti seorang pria pada kekasihnya," tutur Seli penuh semangat.

Ryan hanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Aku dan Farell tidak pacaran, kami hanya teman."

"Lalu tadi dia mengajakmu ke mana?"

Ryan menatap Seli, dia mengeluarkan novel dari dalam tasnya. "Dia hanya mau meminjamiku ini," katanya.

Seli mengambil novel dari tangan Ryan. "Tanpa Batas," gumamnya. "Ecieee... Dia perhatian sekali."

Ryan menatap Seli dengan tatapan 'apaan-sih'.

"Omong-omong, sejak kapan Farell dekat denganmu, Ry?" tanya Nia.

Ryan mengalihkan pandangannya pada Nia. "Tidak, kami tidak dekat, kok. Kebetulan kemarin aku bertemu dengannya di perpustakaan umum. Kami berbincang sebentar, hanya itu."

"Tapi yang kudengar Farell itu jarang loh berbicara dengan seorang gadis. Jangan-jangan dia itu naksir padamu, Ry!" seru Seli berapi-api.

Nia ikut menimpali. "Mungkin juga."

Ryan hanya cemberut mendengar godaan kedua sahabatnya. "Kalian ini, Farell kan hanya meminjamiku sebuah novel, kenapa jadi berpikir yang macam-macam sih? Lagi pula, bisa jadi dia sudah memiliki seorang kekasih."

Tiba-tiba sekelumit perasaan tak menyenangkan menggeliat dalam perut Ryan ketika dia memikirkan kemungkinan bahwa Farell telah memiliki seorang kekasih.
.
.
.

Farell menimang-nimang ponsel miliknya. Tangannya mengetikkan sebuah email ke salah satu alamat email di kontaknya. Dia nampak sedikit merenung.

Belakangan ini, dia sering secara diam-diam memerhatikan Ryan, gadis jurusan sastra. Ryan tidak begitu cantik, Farell sendiri tidak mengerti mengapa dia jadi suka memerhatikan gadis itu. Mulai dari cara gadis itu berbicara, tersenyum, tertawa, bahkan cara gadis itu menekuk wajahnya. Entah kenapa dia jadi memerhatikan body language gadis itu.

Sebuah email masuk di ponselnya mengalihkan pikiran Farell dari Ryan. Sebuah email yang menyadarkan pada sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolaknya.
.
.


Ryan melirik jam tangannya. Waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Kegiatan klub teater kampus yang diikutinya membuatnya harus pulang cukup malam, memang belum terlalu malam, tapi biasanya jam tujuh seperti ini, Ryan sudah duduk manis di kamarnya sambil membaca novel kesukaannya. Seli sudah pulang sejak jam kuliah terakhir selesai. Nia pun telah dijemput Nino, sepupunya, sejak tadi sore. Tinggal Ryan yang melangkahkan kakinya sendirian menuju halte bus di samping kampusnya.

Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih tampak menunggu bus di halte yang sama dengan Ryan. Sambil menunggu bus, Ryan duduk di bangku halte, dia mengeluarkan novel yang dipinjami oleh Farell. Ryan mulai membaca novel itu. Gadis itu sedikit terkejut ketika mendapati nama tokoh utama dalam novel itu sama seperti dirinya dan Farell. Gadis itu merasakan sebuah perasaan aneh menggelitik hatinya, terlebih ketika mengetahui bahwa Ryan dan Farell dalam novel itu adalah sepasang suami istri. Tanpa disadarinya sebuah motor berhenti di depan halte. Pengendara motor itu menepikan motornya, menghampiri Ryan yang masih tenggelam dalam novel yang dibacanya.

"Belum pulang?" Sebuah suara berat mengalihkan Ryan dari kegiatannya. Farell tengah berdiri, menjulang tinggi di hadapannya.

"Eh? Belum. Kau sendiri?"

Tanpa menjawab pertanyaan Ryan, Farell mengulurkan sebuah helm kecil ke arah Ryan. "Kuantar kau pulang," katanya.

"Eeh?" Ryan masih diam, dia sedikit terkejut dengan perkataan Farell.

Farell mendengus kecil. "Ayo, hari sudah semakin gelap."

Ryan nampak ragu, tapi akhirnya gadis itu menerima helm dari Farell dan mengikuti langkah pemuda itu menuju motornya.

Suara deru mesin motor Farell segera saja digantikan oleh hembusan angin malam yang menyapu permukaan kulit Ryan.

"Memangnya kau tahu rumahku, Rell?" tanya Ryan. Suara gadis itu berusaha mengimbangi suara bising di jalan raya.

"Tidak," sahut Farell datar.

"Tch! Dasar! Rumahku di Jalan Karawaci No. 12, dari sini kau belok-"

"Aku tahu alamat itu, kau diam saja," potong Farell.

Ryan hanya menekuk wajahnya. Farell tetap saja sedikit mengesalkan. Awalnya Ryan ragu ketika mengulurkan tangannya, berpegangan pada pinggang Farell. Namun akhirnya diberanikan dirinya berpegangan kecil pada pinggang Farell. Ryan sedikit cemas, takut-takut Farell menganggapnya tidak sopan, jujur saja, Ryan melakukan ini hanya semata-mata takut dengan kecepatan motor yang dikendarai Farell. 

Ryan takut Farell menolak, namun gadis itu sedikit lega ketika Farell tidak menolak, bahkan Ryan seperti tersengat listrik ketika tangan kiri Farell malah menyentuh telapak tangannya, mengeratkan pegangan Ryan pada pinggangnya. Kini kedua tangan Ryan sepenuhnya melingkar pada pinggang Farell.

Ryan merasakan gejolak aneh pada hatinya. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Dia berusaha menahan getaran aneh yang mulai merambati hatinya. Rasa hangat dan nyaman memenuhi dirinya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh Farell seolah membiusnya. Mencoba mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak-tidak, Ryan memecah kesunyian di antara mereka.

"Rumahmu di mana?"

Farell menjawab datar. "Tidak terlalu jauh dari rumahmu."

"Oh," respons Ryan.

Keheningan kembali melanda keduanya. Baik Farell maupun Ryan nampaknya tidak berniat membuka percakapan di sisa perjalanan mereka.

Deru mesin motor yang menepi di sebuah rumah sederhana melatari keadaan mereka saat ini.

"Trims," kata Ryan. Gadis itu turun dari motor, mengembalikan helm milik Farell yang dipakainya.

"Sama-sama," sahut Farell. Farell ikut turun, mengaitkan helm kecil yang tadi dipakai Ryan ke kaitan kecil di sisi samping belakang motornya.

"Omong-omong, itu helm punyamu?"

"Hn," katanya. "Kenapa?"

"Tidak, hanya saja, helm itu seperti helm untuk wanita."

Farell menatap Ryan lama, sebelum menanggapi perkataan Ryan. "Sudah malam, sebaiknya kau masuk."

Ryan mengangguk kecil. Hatinya sedikit mencelos. Dia merasa Farell sengaja mengalihkan pokok pembicaraan mereka sebelumnya. Namun dia berusaha tidak mengambil pusing mengenai hal itu.

"Aku pulang," pamit Farell.

"Hati-hati di jalan."

"Hn."

Suara starter motor disusul deru mesin motor yang semakin menjauhi komplek kediaman Ryan terdengar membelah kesunyian malam. Ryan hanya menatap lama, sebuah senyuman tipis terpatri di bibirnya.
.
.
.
Farell merebahkan tubuhnya sambil menatap kosong langit-langit kamarnya. Masih terekam jelas dalam ingatannya apa yang tadi dia lakukan: mengantar Ryan pulang.

Entah apa yang dipikirkannya ketika dia menawarkan gadis itu tumpangan sampai ke rumah. Farell memejamkan kedua matanya, berharap menghapus jejak-jejak ingatan yang ditanamkan gadis berambut  sebahu itu. Namun gagal.

Lagi-lagi Farell harus merelakan pikirannya dipenuhi oleh sosok gadis itu. Mulai dari suara gadis itu, sampai sentuhan gadis itu ketika memeluk pinggangnya saat di motor tadi.

Dia melirik pigura di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Seorang pemuda berdiri sambil merangkul seorang gadis manis berambut coklat.

Farell mendesah berat. 'Kenapa jadi seperti ini?'
.
.
.

Sudah dua jam lebih SRyan menghabiskan waktunya untuk melahap novel yang dipinjami Farell. Gadis itu benar-benar terbawa suasana dalam novel itu. Novel itu bercerita tentang sepasang suami istri yang harus didera polemik yang cukup berat dalam rumah tangga mereka. Sang suami yang bernama Farell dituduh melakukan pembunuhan berantai di desa tempat mereka tinggal.

Ryan masih bersemangat membaca novel itu. Apalagi ketika dia tahu bahwa tokoh Farell di novel itu ternyata memiliki affair dengan sahabat istrinya. Ryan benar-benar menaruh simpati pada tokoh istri-terlebih nama mereka sama. Gadis manis itu mengutuk tokoh Farell yang ternyata memiliki niat jahat pada istrinya. Namun setelah membaca hampir tiga per empat novel itu, dia mendesah lega. Ternyata tokoh Farell benar-benar mencintai istrinya.

Membicarakan tentang tokoh itu, Ryan sedikit tersipu ketika tokoh Farell mengatakan pada istrinya yang bernama Ryan bahwa dia mencintai wanita itu. Sempat terbersit di pikirannya, bagaimana jika Farell yang dikenalnya juga mengatakan hal yang sama pada dirinya.

Sadar akan kekonyolan pikirannya, buru-buru Ryan menepis pemikiran itu. Dia tertawa kecil.
Seketika ingatan tentang kejadian hari ini berlarian di benaknya. Mulai dari Farell yang meminjaminya novel, lalu mengantarnya pulang, sampai perlakuan Farell yang nampak tidak keberatan ketika Ryan berpegangan pada pinggangnya. Bahkan Farell malah melingkarkan tangan Ryan pada pinggangnya, membuat gadis itu mengeratkan pegangannya.

Wajahnya mulai merona. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta?
.
.
.
.
Hampir seminggu Farell mengantar Ryan pulang. Mereka selalu kebetulan bertemu di depan halte ketika Ryan sedang menunggu bus. Entah siapa yang memulai, muncul berita mengenai mereka berdua. Bagai dihembus angin, berita itu menyebar ke seluruh kampus, Farell, pemuda yang paling diincar di kampus mereka sedang menjalin hubungan dengan Ryan, mahasiswi dari jurusan sastra.

"Ryannnnn~!"

Seli datang tergopoh-gopoh ke kelas. Gadis itu duduk di kursi di sebelah Ryan. Ryan yang sedang mengobrol dengan Nia di sebelah kanannya, menolehkan kepalanya, menghadap Seli di sebelah kirinya. "Ada apa?"

"Serius, Ry, kamu pacaran sama Farell?"

Ryan nampak terkejut. Buru-buru dia meluruskan pemikiran Seli. "Siapa yang bilang? Aku tidak pacaran dengan Farell."

"Yakin?"

Ryan menekuk wajahnya. "Tentu saja, Seli. Kalau aku pacaran dengan seorang pria, kalian berdua pasti jadi orang pertama yang kuberitahu."

Seli nyengir. "Trims," katanya. "Tapi gosipnya menyebar ke seluruh kampus loh," terang Seli.

"Gosip?" tanya Ryan bingung. "Gosip apa?"

"Tentu saja gosip mengenai hubunganmu dengan Farell."

"Loh, kenapa bisa ada gosip seperti itu?"

"Katanya banyak yang sering melihat kau pulang diantar oleh Farell. Padahal kan Farell tidak pernah mengantar seorang gadis mana pun di kampus ini."

Ryan tertawa kecil. "Sudah seminggu ini dia memang mengantarku pulang."

"Tuh kan!"

"Tapi hanya mengantar pulang, tidak lebih," tukas Ryan cepat. Dia tidak mau Seli berpikir yang macam-macam.

Nia menyahut, "Ryan naksir Farell, ya?"

Ryan terdiam. Gadis itu berusaha mengenali perasaan yang akhir-akhir ini menderanya. "Mungkin," kata Ryan lirih. "Aku juga bingung dengan perasaanku."

Seli menepuk pelan bahu Ryan. "Kurasa Farell juga menyukaimu."

"Tidak mungkin," kata Ryan sambil tertawa kecil, berusaha menutupi sekelumit rasa sesak yang tiba-tiba hadir di dadanya. "Lagi pula kami tidak dekat. Farell juga tidak menunjukkan tanda-tanda menyukaiku."

Nia meremas pelan tangan Ryan. Berusaha memberi dukungan moril pada Ryan tanpa lewat kata-kata.

Ryan tersenyum tulus ke arah keduanya. "Sudah-sudah, lagi pula aku sendiri tidak tahu perasaanku pada Farell seperti apa. Ini mungkin hanya efek dari kebersamaan kami akhir-akhir ini. Jangan memperlakukan aku seperti gadis yang habis patah hati dong!"

Seli dan Nia tertawa kecil. Ryan menekuk wajahnya, tapi dalam hati dia tersenyum. Meski dia terus bertanya, apa benar dirinya menyukai Farell?
.
.
.
Farell sedang membaca diktat miliknya ketika sebuah tepukan mendarat di atas bahunya.

"Rell, aku dengar kamu lagi deket sama Ryan, ya?"

Farell mengalihkan pandangannya pada sosok yang kini duduk di sampingnya. Rinto sedang menunggu respons darinya.

Farell mengangguk kecil. "Hn."

"Kau menyukainya?"

Tanpa menjawab pertanyaan Rinto, dia balik bertanya. "Kau mengenalnya?"

"Tidak dekat, tapi tetap saja aku tidak suka kalau dia akhirnya patah hati," jawab Rinto.

Farell mendesah berat. Dia menatap Rinto penuh arti. "Apa aku salah?"

Rinto diam. Dia hanya mengangkat kedua bahunya. "Putuskanlah, sebenarnya siapa yang ada di hatimu?"
.
.
.
.
Lagi-lagi Ryan harus pulang sendiri. Seli diantar pulang oleh Dafa, nampaknya rasa suka Seli mulai terbalas, dan Nia seperti biasa selalu dijemput oleh Nino. Dia tidak keberatan, toh sudah beberapa hari ini dia pulang sendiri, meski akhirnya bertemu Farell dan diantar pulang oleh pemuda itu. Tapi sepertinya hari ini adalah pengecualian, hampir seharian ini Ryan tidak melihat Farell. Biasanya Farell selalu ada di kantin bersama Rinto dan Dafa saat jam makan siang. Tapi hari ini, pemuda itu absen.

Ryan berusaha tidak memikirkan hal itu. Sebuah bus berhenti di halte tempat Ryan menunggu. Gadis itu melirik gerbang kampusnya, sedikit berharap Farell muncul dengan motor hitamnya, mengajaknya pulang bersama, seperti hari-hari kemarin. Namun segera ditepisnya harapan itu. Gadis itu bergegas menaiki bus.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bus yang dinaikinya penuh sesak. Dia terpaksa berdiri di dalam bus. Hampir selama perjalanan menuju rumahnya, Ryan tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bis. Merasa bosan, kedua matanya memandang jalan-jalan di sekelilingnya lewat kaca bus yang tembus pandang.

Sampai di pertigaan lampu merah, kedua mata Ryan memicing memandang pengendara motor yang berhenti di sebelah bus. Dia tidak mungkin salah mengenali motor hitam itu. Itu adalah motor Farell. Ryan sendiri dengan yakin memastikan bahwa pengendara motor itu adalah Farell. Yang mengganggu pikirannya adalah sosok gadis yang berada di belakang Farell. Gadis berambut coklat panjang, yang sebagian rambutnya tertutup helm kecil yang selama ini sering dipakai Ryan jika menumpang motor Farell. Ryan melirik ke arah tangan gadis itu yang berpegangan erat di pinggang Farell.

Ada perasaan sesak yang menghantam ulu hatinya ketika melihat pemandangan itu. Seperti ada palu godam yang meremukkan hatinya. Ryan tidak mengerti apa yang dia rasakan. Bukankah dari dulu dia dan Farell memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Bukankah sejak awal dia sendiri yang meyakinkan hatinya bahwa Farell tidak mungkin menyukainya, meski perhatiaan pemuda itu bisa dibilang lebih kepadanya. Bukankah Farell memang tidak pernah secara gamblang mengatakan bahwa dia menyukainya. Bukankah sejak awal dia sendiri yang mengatakan bahwa dia dan Farell hanya sebatas teman. Tapi tetap saja, itu semua tidak bisa menghentikan rasa sesak di dadanya dan segumpal air yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
.
.
Bersambung ke part 2