
Masa lalu pun berulang, Jehan kembali jatuh ke dalam pelukan
pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa sampai mati akhirnya terwujud.
Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan, sampai dia tak bisa lagi melihat
selain apa yang memang seharusnya dilihat dari balik dinding.
Ingatan Masa Lalu
.
.
Sepasang kaki itu melangkah
pelan di antara sebaran daun-daun yang gugur. Si pemilik kaki kadang
menghentikan langkahnya dan mendengarkan kicauan burung-burung yang tertangkap
telinganya. Kemudian dia ikut bersenandung kecil, sambil sesekali mengumbar
senyum ke arah rumah kecilnya yang sudah tampak di depan mata. Tangannya hampir
mencapai pagar, ketika tepukan pelan mendarat di bahunya. Tubuhnya sedikit
menegang. Raut keterkejutan terpeta jelas di wajahnya. Kilasan seseorang yang
pernah hadir di kehidupannya beberapa tahun lalu membuat kedua matanya membuka
lebar. Akan tetapi keterkejutan itu berangsur pulih saat melihat siapa yang
yang menepuk bahunya.
"Ada apa? Wajahmu terlihat
pucat?"
"Tidak, aku tidak apa-apa.
Kupikir kau baru pulang besok, Thomas."
Thomas tertawa renyah.
"Tidak kangen padaku?"
Yang ditanya hanya tersenyum
kecil, sambil membuka pagar rumahnya, dia mempersilakan Thomas masuk.
"Rupanya dinas ke luar kota menambah kamus rayuanmu."
Thomas masuk, mengekori si
pemilik rumah sampai ke dalam pekarangan, lalu menutup pintu pagar yang tadi
dibiarkan terbuka oleh si pemilik rumah. "Bagaimana kabarmu? Sudah
seminggu kau tidak mengabariku. Apa kau melupakanku, Sayang?"
Yang dipanggil sayang hanya
menolehkan kepalanya, tertawa kecil, kemudian menghampiri Thomas yang berada
dua langkah di belakangnya. Didekatkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu. Usia
Thomas tiga puluh tahun. Wajah pemuda itu memang ganteng. Belum lagi postur
tubuhnya yang kekar dan kulit tan-nya
yang semakin menambah kesan 'laki-laki' pada dirinya. Tak heran jika gadis yang
kini sedang berada di hadapannya, yang tersenyum lembut, sambil mengalungkan
kedua tangannya di leher pemuda itu begitu tergila-gila padanya.
"Menurutmu?"
Thomas tersenyum lebar. Dia
menjawil pucuk hidung sang penanya. "Kau semakin nakal setelah kutinggal
pergi, Jehan."
Jehan tertawa kecil, melepaskan
kalungan tangannya di leher Thomas. "Aku mau mandi dulu. Kau tunggulah
dulu di ruang tengah."
"Ah, seandainya aku boleh
ikut,” canda Thomas. Dia berpura-pura memasang wajah kecewa, tapi gagal karena
dia tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.
Jehan melempar tatapan tajam.
Namun sesaat kemudian tertawa kecil. "Coba saja kalau berani."
Setelah jauh dari pandangan Thomas,
wajah Jehan yang tadinya menampilkan keceriaan kini berubah menjadi murung luar
biasa. Seakan ada beban berat di pundaknya, dia bersandar di dinding. Kedua
matanya terpejam. Beberapa kejadiaan dalam satu bulan ke belakang membuatnya
bergidik ngeri.
Dulu Jehan pernah sekali
melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Pada saat usianya masih hinggap di
angka sembilan belas tahun, dia kabur bersama pemuda yang dia pikir dicintainya
setengah mati. Kedua orang tuanya menentang habis-habisan hubungan mereka.
Pemuda itu bagi keluarga Jehan hanyalah pemuda urakan, miskin, dan tak punya
masa depan untuk menghidupi dan membahagiakannya. Namun bagi Jehan, pemuda itu
adalah cintanya. Jehanaya Friyani jatuh cinta setengah mati pada pemuda itu.
Maka berbekal cinta yang mereka
pikir bisa membawa mereka pada kebahagiaan meski ditentang banyak pihak,
keduanya memutuskan untuk kabur dan hidup bersama. Kenyataannya Jehan tidak
salah. Pemuda itu memang benar-benar mencintai dan menyayanginya. Satu tahun
hidup bersama, tanpa status pernikahan, membuktikan cinta pemuda itu pada Jehan
bukanlah isapan jempol semata. Namun Jehan melakukan satu kesalahan fatal yang
membuat pemuda itu berbalik membencinya.
Jehan adalah pribadi otonom
yang menyukai kebebasan. Semenjak tinggal bersama dengan pemuda pilihannya, dia
merasa lama kelamaan dia mulai kehilangan kebebasannya. Tak ada lagi
seminar-seminar, yang mampu menampung kebebasan berpendapatnya, yang bisa
dihadirinya; tak ada lagi kegiatan-kegiatan, yang bisa menggali potensi dalam
dirinya, yang bisa diikutinya.
Sang kekasih selalu
mengekangnya, melarang Jehan melakukan semua itu. Dalihnya adalah agar
keberadaan mereka tak sampai terdeteksi oleh kerabat dan keluarga Jehan. Jehan
pun sadar apa yang dikatakan kekasihnya benar. Mereka hidup dalam pelarian.
Namun hati kecilnya pun tahu, tak sepenuhnya alasan itu benar. Karena meski
mereka tak hidup dalam pelarian, Jehan yakin kekasihnya itu tidak akan
membiarkannya meraih kebebasan itu.
Jehan cukup, tidak, Jehan
sangat mengenalnya. Sisi protektif pemuda itu kelewat batas. Baginya Jehan
cukup diam di dalam rumah, mencintai dan dicintainya. Jehan tak perlu
berhubungan dengan dunia luar. Cukup hanya ada aku dan kamu, maka tak perlu
kata dia dan mereka. Hal yang dulu dianggapnya sebagai hal paling romantis,
kini berbalik mencekiknya.
Pemuda itu memonopolinya. Dia
mengekang kebebasan Jehan. Sejak pertama mengenal pemuda itu, baru kali ini Jehan
merasa menyesal mencintai dan hidup bersamanya. Malam itu Jehan gelisah dalam
tidurnya.
Jehan membuka kedua matanya.
Kilasan hidupnya dulu membuat rasa takut kembali menyergapnya. Sudah lama Jehan
berusaha melupakan satu babak dalam hidupnya itu. Semenjak memutuskan untuk
pergi meninggalkan pemuda itu, Jehan berusaha lepas dari ingatan-ingatan kebersamaannya
dengan si pemuda. Namun beberapa bulan ini ingatan itu malah semakin jelas dan
muncul ke permukaan.
Mencoba mengabaikan perasaan
kebas yang mendadak menjalari hatinya, Jehan kembali pada niat awalnya, mandi. Jehan
memejamkan matanya ketika menikmati guyuran air pada kepalanya. Lagi-lagi
ingatan itu menyeruak ke permukaan.
Jehan mencintai kekasihnya, itu
jelas. Pun kekasihnya yang mencintainya setengah mati. Jehan bisa merasakan
itu. Namun kekangan akan kebebasannya membuat Jehan perlahan-lahan memupuk rasa
hambar di hatinya, berusaha mengalahkan perasaan cinta yang menggebu-gebu yang
dulu dirasakannya pada kekasihnya. Jehan tidak bisa begitu saja meninggalkan
pemuda itu. Jehan tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan
pemuda itu. Dia tidak setega itu. Atau malah sebenarnya apa yang dilakukannya
itu lebih dari sekadar tega?
Semakin lama keinginan Jehan
untuk berpisah dari kekasihnya semakin menguat. Dia kadang berpikir, andai saja
dulu dia menuruti perkataan orang tuanya. Mukin dia masih bisa merasakan
kebebasan. Jehan masih muda. Masih banyak sisi dunia yang belum dijumpainya.
Masih banyak keinginannya yang belum terpenuhi.
Dulu dia berpikir, karena
merasa dirinya adalah seorang pribadi otonom, maka dia berhak pergi dan hidup
bersama pemuda pilihannya meski tanpa restu keluarganya. Kini dia menyesal.
Justru pemuda itulah yang kini merenggut semua hak-haknya sebagai seorang
pribadi otonom. Jehan mungkin bisa menentang pemuda itu, sama seperti dia
menentang kedua orang tuanya. Namun dia sadar, meski kekasihnya itu begitu
lembut dan perhatiaan, tapi pemuda itu juga memiliki kekejaman yang bisa Jehan
rasakan dari setiap tatapan mata pemuda itu.
Jehan tidak buta dan juga tidak
tuli. Saat belum memutuskan untuk hidup bersama, beberapa kali Jehan mendengar
bahwa kekasihnya itu pernah memukuli sampai sekarat seorang pemuda yang katanya
menaruh hati padanya. Dulu dia menganggap itu adalah bentuk cinta yang dalam
kekasihnya pada dirinya. Namun kini perlahan-lahan kekejaman pria itu menjadi
momok yang menakutkan bagi dirinya. Meski tidak pernah menyiksanya secara
fisik, tapi Jehan bisa merasakan kekejaman sang kekasih meski hanya lewat
tatapan mata.
Tubuh Jehan bergidik ngiri.
Dengan segera dibukanya kembali kedua matanya. Napasnya memburu, kilasan masa
lalunya seakan mengejarnya tanpa ampun. Mencoba menetralisir kegelisahan dalam
hatinya, Jehan menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya secara
perlahan.
Jehan menyudahi mandinya dengan
cepat. Saat keluar dari kamar mandi kamarnya, dia sudah melihat Thomas duduk di
tepi tempat tidurnya. Pemuda tampan itu tampak fokus menonton siaran televisi
yang menampilkan sekilas info mengenai kejadian-kejadian kriminal yang marak terjadi
saat ini.
"Kau sudah selesai?"
Jehan mengangguk kecil, dia
menuju lemarinya, memilih gaun tidur kesukaannya yang berwarna ungu muda dengan
aksen bunga-bunga kecil pada tepinya.
Jehan kembali ke dalam kamar
mandi. Meski pernah beberapa kali berhubungan intim dengan
Thomas, walaupun
mereka belum terikat dalam pernikahan, tapi tetap saja Jehan kadang merasa
risih jika harus meloloskan pakaian yang dikenakannya di hadapan pemuda itu.
Bukan hanya karena tatapan penuh gairah milik Thomas yang seolah menelusuri
setiap lekuk tubuhnya, yang membuatnya merasakan gairah sensual yang
membakarnya, tapi juga karena sesuatu dalam tatapan kedua mata biru langit itu
mengingatkannya pada tatapan seseorang dari masa lalunya.
Selesai mengenakan gaun
tidurnya, Jehan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kali ini televisi sudah
dimatikan. Kesunyian melanda. Thomas kini sedang membaca buku sambil berbaring
di satu sisi tempat tidur. Kacamata baca bertengger di hidungnya. Matanya
melirik Jehan yang perlahan menyusup ke balik selimut yang tadinya hanya
menutupi sampai ke pinggang Thomas; dada bidangnya dibiarkan terbuka tanpa
atasan.
Thomas meletakkan buku yang
dibacanya pada meja kecil di samping tempat tidur, mencopot kacamatanya yang
kemudian diletakkannya di atas buku itu.
"Ada apa?"
Jehan diam. Dia tak tahu harus
menjawab apa pertanyaan dari Thomas. Maka dia memilih hanya membalikkan posisinya
ke arah Thomas, sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
"Kau terlihat seperti
memikirkan sesuatu, Sayang."
Jehan menatap ke dalam kedua
mata Thomas yang sedang memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Akhir-akhir ini
dia memang sedang memikirkan sesuatu. Kejadian-kejadiaan yang terjadi selama
sebulan ini, tepat saat Thomas pergi dinas ke luar kota, begitu mengganggunya.
Kenangan-kenangan yang sudah jauh-jauh ditanamnya ke dasar ingatannya malah
semakin hari semakin gencar naik ke permukaan.
"Kau tidak ingin bercerita
padaku?"
Jehan ragu sesaat, tapi
akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan masa lalu yang pernah membelenggunya
pada Thomas. Thomas adalah satu-satunya pemuda yang mampu membuatnya kembali
merasakan cinta selain pemuda dari masa lalunya yang kini tak jelas rimbanya.
***
Malam itu kegelisahan Jehan
semakin meningkat. Sudah beberapa hari pemuda yang hidup bersama dengannya
dalam pelarian tidak kunjung pulang. Meski keinginan Jehan untuk berpisah
semakin lama semakin kuat, tapi Jehan tidak bisa menampik bahwa sisi lain
hatinya masih menyimpan rasa hangat yang begitu besar pada pemuda itu.
Jarum jam sudah menunjukkan
pukul dua dini hari ketika suara pintu depan yang terbuka mengganggu
pendengarannya. Dengan tergesa Jehan turun dari tempat tidurnya, setengah
berlari menuju ruang depan. Napasnya tercekat saat melihat kondisi kekasihnya
yang berlumuran darah.
"Astaga, Tuhan! Apa yang
terjadi padamu?!" seru Jehan. Dia berlari menuju kekasihnya, mengusap
darah yang mengalir dari kening sang kekasih.
Kedua mata pemuda itu terpejam,
menikmati sentuhan hangat Jehan di keningnya. Rasa bahagia membanjiri relung
hatinya. Satu-satunya wanita yang dicintainya begitu mengasihinya. Dia membuka
kedua matanya secara perlahan, menangkap jemari Jehan yang masih mengusap darah
di keningnya.
"Aku tidak apa-apa, Jehan."
Pemuda itu berusaha tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa. Asal kau di
sampingku, aku tidak apa-apa."
Hati Jehan mencelos mendengar
apa yang diucapkan kekasihnya. Jehan sadar dengan segenap hatinya bahwa pemuda
di hadapannya ini begitu mencintainya. Setitik ragu muncul kembali di hatinya.
Dia tidak mungkin bisa meninggalkan pemuda yang begitu mencintainya. Namun di
saat kesempatan untuk meninggalkan pemuda itu muncul, Jehan tidak bisa menolak
begitu saja.
Kesempatan itu datang ketika
sang kekasih menceritakan pekerjaan apa yang dilakukannya demi menopang
kehidupan mereka selama ini. Kala itu, jantung Jehan nyaris berhenti saat
mengetahui bahwa kekasihnya bekerja sebagai kurir obat-obatan terlarang. Jehan
secara keras melarang kekasihnya melanjutkan pekerjaan itu. Namun sang kekasih
pun bersikeras mempertahankan pekerjaannya demi penghasilan untuk menopang
kehidupan mereka.
"Tidak, jangan lakukan itu
lagi!" Jehan melirik jendela rumah kecil yang mereka huni, takut-takut
jika ada tetangga mereka yang menguping pembicaraan mereka. Dia bergegas
mengunci jendela dan menutup tirainya.
"Sayang, mengertilah. Aku
tidak apa-apa, aku hanya bertindak sebagai kurir, aku juga bukan pemakai.
Aku-"
"Stop! Cukup! Aku tidak
ingin mendengar alasan apa pun. Aku bisa menerima pekerjaanmu, apa pun, asal
jangan bertentangan dengan hukum." Jehan berkata lemah,
"Please..."
"Sayang, mengertilah.
Dengan pekerjaan ini aku bisa mengumpulkan banyak uang, kita bisa membiayai
kebutuhan kita sehari-hari. Bahkan aku bisa menabung untuk biaya pernikahan
kita nanti."
Jehan mendekap mulutnya dengan
tangannya. Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Aku ingin
membahagiakanmu, Sayang."
Si pemuda menurunkan tangan Jehan
dari mulut gadis itu, kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Percaya
padaku, aku, tidak, kita akan baik-baik saja."
Namun Jehan tidak bisa
membiarkan ini semua terjadi begitu saja. Dia mencintai kekasihnya, tapi dia
tidak bisa menerima pekerjaan sang kekasih. Maka dengan berat hati, Jehan
sendirilah yang menjebloskan kekasihnya ke balik jeruji besi.
Sang kekasih murka luar biasa.
Kekecewaan berat melanda hatinya. Kebencian mulai melata di hatinya ketika
satu-satunya wanita yang dicintainya justru menjebloskannya ke dalam sel
tahanan. Dia bersumpah, Jehan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dia akan
mengejar Jehan sampai ke mana pun. Tak akan ada tempat bagi Jehan untuk pulang,
kecuali ke dalam dekapannya. Sumpah yang akan dibawanya sampai mati.
Dengan ditahannya sang kekasih,
Jehan kembali ke dalam pelukan keluarganya. Sebagian hati kecil Jehan merasa
sakit. Dia telah mengkhianati kekasihnya sendiri. Meski kalimat-kalimat
pembelaan, bahwa dia melakukan itu semata-mata agar sang kekasih menyadari
kekeliruannya, terus dia tanamkan dalam hatinya, tapi Jehan tidak bisa
menyangkal bahwa sisi lain hatinya bersorak karena akhirnya dia bisa lepas dari
belenggu kekasihnya.
***
Thomas membelai lembut sisi
wajah Jehan. "Tenanglah," katanya. "Itu semua sudah
berakhir."
Jehan menggeleng lemah.
"Tidak, itu semua belum berakhir. Dia ... dia masih ada, Thomas."
***
Jehan merasakan kedamaian hidup
selama dua tahun setelah kekasihnya resmi dibui. Dia memulai hidupnya seperti
dulu, mengaktualisasikan dirinya seperti apa yang dikehendakinya selama ini. Jehan
bahagia. Meski ada rongga kosong di sudut hatinya, dia percaya suatu saat nanti
akan ada pemuda yang mengisi kekosongan itu.
Pemuda pertama adalah Alfa,
teman sepermainan Jehan sejak kecil. Salah satu sahabat Jehan yang melarang
hubungannya dulu. Hubungan Jehan dengan Alfa semakin dekat. Bahkan beberapa
kali mereka sepakat untuk melakukan kencan. Namun itu semua harus terhenti di
tengah jalan ketika Jehan mendapat surat kaleng tepat setelah dia pulang kencan
dengan Alfa.
"Dear Jehan kekasihku
tercinta,
Aku tahu kau telah melupakanku.
Kau mengkhianati cintaku. Kau jatuhkanku dalam lubang dalam yang sulit untuk
kutembus. Namun kau lupa satu hal, Sayang. Kau lupa bahwa aku akan selalu
kembali padamu. Sekeras apa pun kau menghindariku, aku akan kembali datang
padamu. Begitu pula denganmu. Kau akan kembali padaku. Karena hanya akulah
tempatmu kembali. Maka jangan sekali-kali kau berani menjalin hubungan dengan
pemuda lain. Atau hanya ada dua pilihan. Kau atau dia yang menemaniku di
neraka.
Dari kekasih yang kaukhianati,
A"
Tubuh Jehan menggigil. Dia
tahu, dia telah kembali. Jehan tidak akan bisa melupakan tulisan tangannya.
Tulisan yang tercetak jelas di surat ancaman yang dikirimkan padanya.
***
Thomas mendekap erat tubuh Jehan.
Dilepaskan dekapannya saat mendapati keadaan Jehan berangsur tenang.
"Tenanglah, ada aku."
Jehan mengangguk lemah.
"Tapi dia kembali, Thomas."
Thomas menautkan kedua alisnya.
"Bukankah kau bilang sudah lama dia tak lagi mengganggumu?"
Jehan mengangguk. Pandangan
matanya jatuh pada cermin yang tergantung di dinding di belakang Thomas.
Bayangan seorang gadis bermata coklat menatapnya langsung. "Tapi dia
kembali Thomas, dia ... dia berada di dekatku, di dekat kita, aku bisa
merasakan keberadaannya."
Suara Jehan bergetar. Matanya terpejam, berusaha
menghalau laju seraut wajah yang kini memenuhi pikirannya.
"Dari tadi kau tidak menyebutkannya,
siapa nama pemuda itu, Sayang?"
Kedua mata Jehan terbuka.
Pantulan bola mata biru langit itu balas menatapnya. "Alfred, namanya Alfredo
Harsen."
.
.
.
Hampir seharian ini Jehan
membereskan rumahnya. Semenjak tinggal terpisah dari orang tuanya, Jehan mulai
melakukan segala urusan rumah tangga sendiri. Mulai dari mencuci baju sampai
dengan urusan di dapur. Sehubungan dengan kegiatannya yang cukup sibuk sebagai
ahli dermatologi di salah satu klinik terbesar di Surabaya, Jehan hanya sempat
membersihkan rumahnya di kala libur seperti hari ini.
Seprai dan baju-baju kotor
sudah dicuci dan dijemur di halaman belakang. Seluruh ruangan di dalam rumah
sudah disapu dan dipel sampai bersih. Jehan tinggal membersihkan diri untuk
kemudian bersantai sejenak. Namun langkah kakinya menuju kamar mandi di
kamarnya terhenti saat mendengar suara-suara ganjil dari arah gudang belakang.
Awalnya Jehan mengira itu hanya
suara barang bekas yang jatuh dari susunannya. Jehan ingat minggu lalu dia
menyusun kotak-kotak hingga barang-barang bekas di dalam gudang dengan asal.
Mungkin salah satu dari benda itu jatuh. Namun suara itu terulang lagi. Jehan
memutuskan untuk menengok barang sebentar ke gudang, memastikan apa yang
terjadi di sana.
Sesampainya di depan pintu
gudang suara itu tiba-tiba menghilang. Jehan batal membuka pintu gudang, tapi
ketika Jehan berbalik, suara itu muncul lagi. Maka tanpa ragu lagi Jehan memutar
kunci dan membuka pintu gudang itu.
Suasana di dalam gudang tampak
baik-baik saja. Bahkan susunan barang bekas yang disusun Jehan minggu lalu tak
berubah banyak, tak ada barang yang jatuh, seingat Jehan. Namun sesuatu yang
mengenai punggung kakinya yang telanjang membuat Jehan menjerit dengan keras.
Kerangka manusia yang berlumuran
darah ada di hadapannya. Jehan jatuh terduduk di lantai, tepat di depan pintu
gudang. Dia ingat dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak punya kerangka
manusia yang sering digunakan di sekolah-sekolah sebagai alat bantu pada
pelajaran biologi. Lalu siapa yang meletakkan kerangka itu di dalam gudangnya?
Jehan memandang ngeri ke arah
kerangka berlumuran darah itu. Tampak secarik kertas menyembul di sela-sela
bagian tangan kerangka itu. Jehan ragu-ragu menarik kertas itu, membacanya
dengan cepat.
'Aku kembali, Sayang.'
Jehan melempar kertas itu.
Matanya memandang gelisah ke kiri-kanannya. Seolah-olah sosok pemuda masa
lalunya itu akan muncul dengan tiba-tiba di sekitarnya. Seakan kengerian yang
ditimbulkan kerangka dan surat itu belum cukup, kini Jehan mendengar derap
langkah kaki yang mendekatinya.
Jehan bergegas bangkit,
berusaha secepat mungkin ke luar dari rumahnya. Terus berlari, sambil berusaha
menghubungi Thomas dengan ponsel yang tadi disimpannya di dalam sakunya.
'Nomor yang Anda tuju sedang
tidak aktif atau berada di luar jangkauan kami.'
Jehan berkali-kali mencoba
menghubungi Thomas, tapi nihil. Lagi-lagi pesan dari operator yang didapatnya. Dia terus berlari,
sedikit lagi dia sampai di pintu depan rumahnya. Jika tiba di luar, dia bisa
berteriak jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, dan dia pikir orang-orang
di jalan atau tetangga-tetangganya kemungkinan akan mendengar teriakannya.
Namun belum sempat tangannya mencapai pintu, satu sosok muncul dengan tiba-tiba
dari ruang di sebelah kanan pintu depan.
Alfredo Harsen menyeringai
menatap ketakukan yang terpancar dari wajah jelita di hadapannya.
"Aku kembali,
Sayang!"
Jehan seperti lupa bagaimana
caranya berteriak. Yang dia ingat adalah tatapan mata yang penuh dengan
kebencian sekaligus pemujaan yang mendalam, sebelum kegelapan menyelimutinya.
.
.
.
Kedua mata Jehan terbuka dengan
perlahan. Samar-samar dia melihat ada gerakan di depan matanya.
"Sudah bangun,
Sayang?"
Bagai disengat listrik, tubuh Jehan
mengejang. Dia bangkit, menatap ngeri pada sosok di hadapannya. Namun sedetik
kemudian dia membelalakkan kedua matanya. "Tidak, tidak mungkin."
Sosok yang kini ada di
hadapannya bukan Alfred, melainkan Thomas.
"Ada apa, Sayang?"
"Di mana? Di mana
dia?" cecar Jehan. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan
gelisah.
"Dia?" Thomas tampak
bingung.
"Alfred, dia ... dia ada
di sini, Thomas..."
Thomas menyapukan pandangannya
ke setiap sudut ruangan, lalu kembali kepada Jehan.
"Dengar, tidak ada siapa-siapa di sini,
Sayang. Kau hanya bermimpi." Thomas duduk di tepi tempat tidur,
menempatkan dirinya di sebelah Jehan. "Saat aku tiba, kau sudah terlelap
di sini. Kau pasti kelelahan membereskan rumah sampai-sampai kau ketiduran dan
bermimpi buruk."
Jehan menggeleng liar.
"Tidak. Aku tidak bermimpi, Thomas. Dia ada di sini," Jehan
bersikukuh mempertahankan ingatannya. "Kerangka, surat, gudang, ya, kau
harus melihatnya, Thomas. Kerangka itu, surat itu, kita harus ke gudang, Thomas!"
Jehan mencengkram pundak Thomas.
Matanya menyiratkan ketakutan. Dia butuh seseorang di sampingnya. Dia
membutuhkan Thomas.
Thomas tampak tidak memercayai
apa yang baru saja dikatakan Jehan. Namun dia tidak ingin membuat gadis itu
semakin gelisah. Maka diturutinya keinginan Jehan.
Mereka bergegas bangkit dan
berjalan menuju gudang. Sesekali Jehan melirik kanan-kirinya, takut-takut jika
tiba-tiba sosok Alfred muncul menyerangnya dan Thomas. Namun sampai di depan
gudang belakang, sosok itu tak lagi muncul.
Pintu gudang tertutup rapat,
dengan kunci masih bertengger di lubang kunci. Jehan memang mempunyai kebiasaan
tidak mencopot kunci gudangnya. Perlahan-lahan Thomas membuka pintu gudang. Daun
pintu yang membuka ke arah luar membuat mereka dapat melihat dengan jelas apa
yang ada di dalam gudang. Kotak-kotak dan tumpukan barang bekas tersimpan
secara wajar di dalam gudang, tak ada yang mencurigakan, bahkan kerangka, dan
surat yang tadi dikatakan Jehan sama sekali tak ada di dalam gudang.
Jehan membekap mulutnya, dia
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin," katanya dengan
lemah. "Aku bersumpah semua yang baru saja terjadi itu nyata, Thomas."
Dia menatap kedua mata Thomas, meminta kepercayaan pemuda itu.
Thomas tampak serbasalah.
Bukannya tidak memercayai Jehan, tapi perkataan Jehan tidak masuk diakal. Itu
semua lebih seperti manifestasi akan ketakutannya yang berlebihan terhadap
sosok Alfred.
"Aku percaya padamu, tapi
kali ini kauharus percaya padaku, Jehan," kata Thomas tegas. "Kau
hanya kelelahan. Dan untuk masalah Alfred, aku berjanji tidak akan ada lagi
sosok Alfred. Aku akan terus berada di sampingmu, maka sosok itu tidak akan
lagi mengganggumu. Kau percaya padaku, 'kan?"
Thomas menyentuh dahi Jehan
dengan dahinya sendiri. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Jehan.
Dibawanya tangan itu menuju dada bidangnya.
"Aku mencintaimu, Jehanaya
Friyani. Maukah kau menjadi istriku?"
Jehan tidak tahu apa yang harus
dikatakannya. Ketakukan masih melanda hatinya. Namun di bawah tatapan penuh
cinta Thomas, yang disiratkan dari kedua bola matanya yang berlumuran rasa
cinta, Jehan tak sanggup mengatakan kalimat selain, "Aku bersedia, Thomas."
Mungkin hanya permainan cahaya
ketika Jehan melihat senyuman Alfred bersarang di sudut bibir Thomas. Bibir
yang sedetik kemudian membungkam bibirnya. Masa lalu pun berulang, Jehan
kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang sama. Hanya dia. Sumpah yang dibawa
sampai mati akhirnya terwujud. Dinding tinggi itu kembali mengelilingi Jehan,
sampai dia tak bisa lagi melihat selain apa yang memang seharusnya dilihat dari
balik dinding.
.
.
Thomas membakar sebuah foto
yang menyuguhkan kemesraan pemuda berambut hitam legam dengan iris mata
berwarna coklat bersama dengan gadis cantik bermata coklat. Dia memandang
rambutnya yang berwarna coklat keemasan dari cermin di hadapannya. Cat rambut
yang tadi digunakannya masih ada di atas wastafelnya. Iris matanya kini
berwarna biru langit, bantuan dari lensa yang dipakainya.
Sosok Alfred begitu berbeda
dengan Thomas secara penampilan. Alfred yang berambut hitam dan beriris coklat
selalu tampil sederhana, bahkan bisa dibilang tak terurus. Dia tidak
mementingkan penampilannya. Rambutnya dibiarkan panjang menggantung sebahu.
Pakaian yang dikenakannya pun bukan berasal dari merk-merk ternama. Dia tidak
butuh itu semua. Dia hanya butuh Jehan. Kekasih yang dicintainya setengah mati.
Namun pengkhianatan Jehan menghancurkannya.
Dia bertekad akan mengejar wanita
itu sampai kapan pun dan di mana pun wanita itu berada. Setelah keluar dari bui
Alfred mengubah penampilannya habis-habisan. Namanya pun diubahnya menjadi
Thomas Ariadi. Butuh waktu lama sampai dia bisa hidup mapan. Dia memangkas
pendek rambut dan mengganti warnanya menjadi coklat keemasan. Irisnya pun kini
dihiasi lensa berwarna biru langit, menutupi warna asli iris matanya. Tak aka
nada yang menyadari bahwa Alfred yang malang adalah orang yang sama dengan
Thomas, seorang eksekutif muda yang begitu memikat.
Lalu pencariannya pun memberikan
hasil. Di Surabaya, Alfred melihat Jehan ketika wanita itu belanja di super market tak jauh dari kantornya.
Jehan masih sama cantiknya dari yang terkahir kali dilihatnya. Wanita itu
tumbuh semakin matang. Waktu tidak memadamkan gairah dan hasratnya pada Jehan.
Dia pernah bersumpah bahwa Jehan harus kembali padanya. Dan sebentar lagi Jehan
akan menjadi miliknya. Selamanya. Ingatan itu membuatnya tersenyum miring.
"Selamat datang Thomas
Ariadi dan selamat tinggal Alfredo Harsen."
SELESAI
